Aksara



Oleh: Lulu

"Mengapa Ibu gemar membaca?" tanya Aksa ketika kami sedang menikmati senja sambil minum teh.
Senyumku mengembang mendengar pertanyaannya. Aksa adalah anak lelaki yang pintar. Umurnya baru genap 5 tahun bulan ini, dan suka sekali bertanya. Dia pernah bertanya mengapa langit berawan; mengapa ayam bertelur dan kucing melahirkan, mengapa manusia tidak memiliki sayap, bahkan bertanya mengapa Bona si gajah kecil berbelalai panjang yang ada dalam serial majalah favoritnya berkulit merah muda bukan abu-abu.

Kau tahu, untuk menjawab pertanyaan yang terakhir, aku 100% ngarang.

"Ibu gemar membaca sebab buku adalah jendela dunia." Aksa nampak antusias ketika aku menjawab pertanyaannya. "Dari buku Ibu bisa tahu mengapa langit berawan, mengapa ayam bertelur dan kucing melahirkan, mengapa manusia tidak memiliki sayap dan masih banyak lagi."

"Apakah itu buku tentang ayam dan kucing?" Aksa menunjuk buku yang terbuka di pangkuanku.

"Ini bukan buku tentang ayam dan kucing, ini buku novel."

"Boleh aku membacanya?"

"Tentu saja," kataku. "Tapi nanti kalau kamu sudah cukup umur."

"Apakah ini buku favorit Ibu?" 

 "Ya," jawabku.

"Mengapa ini jadi favorit Ibu?" Aksa membuka-buka halamannya secara acak. Tertarik dengan buku yang kupegang. "Apakah ceritanya seru?"

Aku tersenyum. Mengelus rambutnya yang sehalus beledu. "Tentu saja seru," jawabku. "Namun, yang lebih istimewa dari buku ini, adalah karena penulisnya Ayahmu."

Suamiku adalah seorang novelis yang meninggal dalam kecelakaan pesawat 3 tahun yang lalu. Ini adalah novel terakhir yang diterbitkannya sebelum meninggal. Novel ini mengisahkan tentang kesetiaan seorang anak lelaki yang mengurus ibunya yang renta dan sakit-sakitan. Sebuah kisah tentang cinta, kasih, dan kesetiaan. Novel yang judulnya terinspirasi dari nama anak kami: Aksara.

Jadi, bagaimana mungkin novel ini tak menjadi favoritku?


Komentar

share!