Putri Kecil

Karya: Arlita Dela

*

Hujan kian membasahi bumi. Pagi ini aku bersiap untuk pergi bekerja. Sayang, aku kebingungan. Bagaimana bisa aku mencapai kantor sebelum pukul 7.00 tepat? Sementara hujan mengurungkan niatku untuk keluar rumah.

"Bu, hujan. Gimana aku pergi?" Keluhku pada ibu yang sibuk menyiapkan makanan seperti biasanya.

Ibu segera meninggalkanku sendiri, membangunkan ayahku yang masih tertidur lelap di kamar. Awalnya aku tak menyadari hal itu, namun saat ayah keluar kamar aku baru menyadarinya.

"Kamu diantar Ayah, ya?"

Aku merasa sangat merepotkan. Saat usiaku beranjak dewasa, apa aku harus terus bergantung padanya? Aku tak bisa menolak. Jikalau menolak ayah pasti akan tersinggung. Jika aku pergi bersamanya, ia pasti kehujanan bersamaku.

Aku menunggu beberapa saat, tiba-tiba ayah menghampiriku. "Ayo!" Ia sudah dibalut jas hujan biru miliknya. Aku tertegun. Sungguh besar pengorbanannya demi aku.

Kamipun pergi menantang hujan. Hujan disertai angin terus membasahi kami. Aku tak enak hati pada ayahku. Aku yang terlindung dari hujan, dan ia yang harus kembali pulang dan pergi ke kantornya lagi. Hujan, cipratan air disepanjang jalan membasahi celananya.


Sesampai di sana aku segera pamit dan mencium tangannya. "Semangat ya, Sayang," ayah lekas mencium keningku. Aku tau, aku masih dianggap putri kecilnya. Sungguh besar perjuangan ayahku mendidik dan menjagaku hingga aku besar seperti ini.

Komentar

share!