PERTEMUAN



Oleh: Tina Wiarsih

/1990/
Aku mengambil sebuah benda berukuran 25cm x 17 cm. Ku buka setiap lembarnya, mengeja aksara demi aksara hingga membentuk satu kata yang bermakna. Satu kata, satu kalimat sampai satu paragrap ku cermati. Setiap lembarnya benar-benar mengalir berjuta makna dalam ratusan juta aksara. 

Saat akhir pekan, sangat berguna untuk membangun topik obrolan yang menarik dengannya. Tak jarang dia tersenyum saat kuceritakan hal-hal menarik yang aku temui dalam benda tersebut. Ah aku menyukai ini, aku menyukai senyumnya, aku menyukai matanya yang bulat saat mendengar semua ceritaku. 

“Aku akan kerumah, mengembalikan buku yang kupinjam, tepat pukul 7. Sampai jumpa nanti.” Dan selanjutnya, benda itu menjadi sebuah alasan untuk kami bertemu.


/2017/
Aku mengambil sebuah benda berukuran 17 cm x 7 cm. Ku tekan setiap icon, ku buka kotak-kotak kecil itu satu persatu. Tak jarang aku mengerakkan jari hingga terciptalah satu kata yang dibangun oleh beberapa aksara. Walau sederhana, namun mampu membuat kami tersenyum. 

“Hai.” Dan semudah itu kami membangun topik dan merencanakan pertemuan.

Di malam minggu, saat kami bertemu, tidak banyak yang kami ceritakan. Masing-masing hanya tertunduk memainkan benda pipih tipis dengan berbagai informasi dan hiburan. Dia tertawa, tapi bukan karenaku. Matanya tersenyum melihat hal-hal konyol  yang disuguhkan benda tersebut. Dan keadaan ini berakhir saat terdengar bunyi nyaring dari benda tersebut. Dia menatapku, membuat jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Akhirnya, setelah beberapa jam kami tidak saling bicara, kini kami akan mengalami kencan yang sewajarnya. Dan benar saja, dia tersenyum kemudian menarik tanganku, sampai aku berdiri. 

“Ayo pulang, baterai ponselku habis.” Dan semudah itu dia kembali membuatku kecewa.


Komentar

share!