Hikayat Kertas dan Pena Kehabisan Tinta



Oleh: Kamaratih

Ada keterkaitan antara pena dan tinta, yang masing-masing sebenarnya harus saling bicara.
Ada tanggung jawab sang pena kepada sang kertas putih, yang sesungguhnya juga mendamba.

Terserah interpretasimu apa,
Karena tak selalu yang tajam akan membuatmu terluka.
Seperti pena yang berujung tajam, namun ia menggoreskan berbagai warna atau meski hanya satu warna.

Kadang yang terlalu berusaha, dalam konteks ini adalah "mewarna" akan menjadi yang paling terluka.
Sang pena, entah kita sadari atau tidak suatu saat kelak akan kehabisan tinta untuk ditorehkan di atas polosmu, wahai kertas.

Kertas boleh jadi sekarang bisa menjadi pasrah atas penekanan dan penorehan hasrat oleh pena,
Tapi tolong belajarlah untuk menyadari bahwa tiap benda direntangi waktu.
Meski ia tajam untukmu, namun ia yang akan menorehkan warnamu.

Apa mau dikata jika sang pena sekarang kelewat lelah.
Menorehkan titik di kertas pun ia sudah terlalu pasrah.

Maka kertas, terima saja nasibmu sekarang, yang selamanya tidak akan terwarna.
Maka kertas terima saja nasibmu jika sekarang kamu hanya menjadi polos yang diselimuti sepi.

Bahkan kertas, mata dengan bantuan kacamata menjadi lelah untuk mulai memahami.
Bahkan kertas, sekarang kamu lebih hampa daripada mawar yang indah namun berduri.

Karena wahai kertas, sesungguhnya kamu sekarang adalah perlambangan dari polos, hampa, dan sepi ketika sang pena bahkan terlalu pasrah untuk mewarnai.

Dari aku
Sang kertas yang tak kan menjadi buku

Komentar

share!