Fake



Oleh: Nurul
 
Ah fake!

Teriakku lagi dalam hati. Entah keberapa kalinya. Yang jelas aku selalu merasa muak dengan hal yang seperti ini. Mengenai mereka. Yang munafik. Fake. Bilang ini nyatanya itu.

"Gue selalu ada buat lo kok."

Bullshit

Sudah berapa kali kamu bilang seperti itu? Datang dan pergi sesukamu. Datang kalau kamu membutuhkanku. Memohon-mohon hingga meminta-minta. Asal kamu tahu saja, aku sudah muak melihat segala topeng wajahmu. Karena aku sudah tahu seperti apa topengmu sebenaranya. Lalu kamu pergi sesukamu. Setelah kamu merasa bebas dan hidupmu tanpa beban sedikit pun. Meninggalkan aku. Yang pernah ada untukmu. Yang benar-benar selalu ada ketika tak ada uluran tangan menyambut lemah ragamu.

Aku duduk di halte bus. Sendirian. Angin malam menembus jaket hitamku.

Kenapa hidup seperti ini? Orang datang dan pergi sesuka mereka sementara aku selalu berjuang mati-matian untuk bertahan? Merekakah yang tidak tahu diri? Atau akukah yang terlalu dibodohi dengan kata ‘teman sejati’? 

"Kayaknya lo butuh teman," kata seorang lelaki setelah duduk di sampingku dan membentuk kepulan asap di udara.

Aku mengendus. Menarik satu ujung bibirku ke atas.

Teman sejati? Tidak ada kata teman sejati lagi dalam hidupku!

Setelah aku memberi namun malah dimanfaatkan. Setelah aku bertahan namun dirobohkan. Setelah aku menolong namun tak tahu diri. Setelah aku ada namun tak dianggap. Setelah aku percaya namun dikhianati.

"Terkadang sendiri lebih baik dari pada kau berteman banyak namun tak ada yang mengerti." Lelaki itu menghisap dalam rokoknya yang sejurus kemudian menginjaknya dengan ujung kaki. "Gue ngerti. Karena gue juga pernah ngerasain."

"Lo nggak ngerti apa-apa. Cuma gue yang ngerti dan ngertiin diri gue sendiri. Cermin teman sejati gue. Saat gue menangis dia nggak pernah ketawa."

Lelaki itu mengangguk. 

"Ke mana?" 

"Ketemu sahabat gue."


Komentar

share!