Perempuan Berlesung Pipi

Oleh: tyataya

            BRUKKK.

Dona melemparkan setumpuk kertas cukup keras di atas meja, tubuhnya sudah tersandar lemah di kursi. Ia memijit-mijit kepalanya berharap rasa pusing yang menggelayutinya segera sirna. Entah mengapa siang ini hatinya benar-benar tidak karuan.

            “Kenapa lagi, Don?” Sahut Alisa dari arah samping meja Dona.
            “Aku cape banget.
            “Deadline?” Tebak Alisa.

            Dona menggeleng ragu-ragu. “Bukan.” Desahnya pelan.

Alisa yang mendengar jawaban itu langsung melipat kedua tangan, ia sedikit menggeser kursinya berhadapan langsung dengan Dona yang sudah meringis karena tatapan tajam Alisa. Alisa tahu, jika Dona sudah mendesah seperti itu. Ada sesuatu yang tidak beres, ia tahu permasalahan itu tidak akan jauh-jauh dari urusan perasaan.

            “Oh, ayolah Don, ini sudah putus yang keberapa kali?”
            “Mungkin delapan, tapi kali ini aku mencintainya, lis.”

            “Klise.” Jawab Alisa cepat. Ia memutar kursi yang diduduki Dona supaya langsung mengarah padanya. “Kau tahu, Laki-laki macam itu seharusnya kau tidak terima. Dia hanya memanfaatkanmu agar bisnisnya lancar. Aku sudah mengingatkanmu agar tidak sembarangan mencari pacar!” Sembur Alisa kemudian. Matanya

Dona semakin menenggelamkan duduknya. Ia larut dalam amarah Alisa. Ia menyesal karena tidak mendengar nasihat Alisa ketika memutuskan untuk menerima cinta Fikri, laki-laki yang ditemuinya di akun media sosialnya; Facebook. Sebenarnya Dona sudah jengah menghadapi cibiran tetangga-tetangganya, ditambah kedua orang tuanya yang terus mendesak Dona agar segera menggandeng seorang lelaki. Umur Dona bisa dibilang sudah tidak muda lagi. Ia sadar, sudah seharusnya ia mencari laki-laki yang serius mau meminangnya. Saat pertama kali berkenalan dengan Fikri, dalam penilaian Dona Fikri adalah orang yang romantis dan pendengar yang baik. Walaupun Dona tahu selalu ada kemungkinan negatif ketika menjalin hubungan lewat media sosial tapi Fikri selalu menepis keraguan Dona. Hingga akhirnya Dona tahu bahwa Fikri ternyata hanya memanfaatkan Dona saja demi kelancaran bisnisnya. Dona diperas oleh Fikri demi kepentingannya. Sialnya, kasus pemerasan itu sudah berlangsung hampir lebih dari tiga bulan.

Dona cemas akan kisah cintanya yang tak junjung membaik. Bahkan bisa dibilang selalu gagal. Tidak adakah yang bisa mencintanya dengan tulus? Itu yang selalu diprotes Dona setiap kali ia putus dengan pacarnya. Sudah ke delapan kali Dona mengalami kegagalan. Masalahnya selalu bermula dari yang sederhana hingga yang rumit. Ada yang tidak cocok, selingkuh, bahkan sekarang ditipu oleh Fikri. Kekasihnya yang mengaku akan menikahinya beberapa bulan lagi.
            “Aku memang tidak pernah beruntung mencintai seorang lelaki, lis.” Keluh Dona. Butiran air bening berjatuhan dari pipinya yang mulus.
Alisa berusaha menahan amarahnya ketika melihat Dona yang sudah terkulai di kursinya. Sedetik kemudian rasa bersalah mulai menjalari hati Alisa. Harusnya ia tidak terlalu keras pada Dona.
            “Don, maafkan aku. Aku enggak menyalahkanmu, aku hanya—“
Dona mengangkat wajahnya sambil menghapus sisa air mata yang berjatuhan. Ini kantor, tempat bekerja, bukan tempat curhat. Begitu hatinya berbisik.
            “Ah..., tidak apa-apa, itu artinya kau masih peduli dengan sahabatmu ini,” sela Dona dengan penuh tekanan. Seulas senyum menghiasi pipinya yang kemerah-merahan. “Aku akan baik-baik saja.” Imbuh Dona.

Dona merasa beruntung memiliki sahabat seperti Alisa, teman sekantor yang tidak pernah absen mendengarkan keluh kesah dirinya saat mengalami hal-hal yang menyedihkan. Dona dan Alisa sudah menjalin persahabatan sejak kelas 1 SMA hingga takdir mempertemukan mereka di kantor yang sama. Hanya Alisa satu-satunya sahabat yang dipercayai Dona untuk menyimpan segala rahasia hatinya, karena itulah semua staff kantor menjuluki mereka sepasang sepatu. Mereka selalu bersama-sama, lengket, tidak pernah saling menjatuhkan. Satu hal yang diketahui Dona tentang Alisa bahwa ia adalah sahabat yang selalu jujur. Dona merasa maklum atas curhatannya kali ini  jika di respons dengan omelan oleh Alisa, karena dari awal hubungannya dengan Fikri, Alisa sudah tidak menunjukkan sikap setuju.

Menurut Dona. Alisa—pemilik wajah oriental yang memiliki senyuman menawan itu adalah salah satu perempuan tercantik di kantor mereka. Bagaimana tidak, Dona selalu menyaksikan sendiri bagaimana para lelaki di kantor mereka yang masih berstatus single berusaha mendapatkan perhatian Alisa. Saat makan siang tiba, Alisa selalu mendapat tawaran terbanyak dari beberapa divisi kantornya untuk makan di luar kantor, atau sekedar ajakan pulang bersama. Semuanya sudah cukup membuktikan bahwa Alisa adalah perempuan yang diperebutkan secara diam-diam.
Alisa yang selalu menawan dengan dihiasi lesung pipi itu selalu menolak dengan halus beberapa ajakan rekannya. Dan seperti biasa, ia lebih memilih makan siang di kantor saja bersama Dona. Menghabiskan jam istirahat dengan tertawa bersama-sama. Bercerita ngalor-ngidur. Menemukan titik ternyaman saat bersama dengan seorang sahabat.

     “Lis, terkadang aku ingin seperti kau.” Dona meneguk minumannya, ia melirik HP nya. Berharap menemukan pesan masuk dari pacarnya.. oh, bukan, mantan pacarnya. Fikri! Sungguh, biarpun Fikri sudah keterlaluan memeras uang Dona. Perasaan cinta itu lebih kuat sampai membutakan logika Dona.
Alisa sedikit terpengaruh mendengar obrolan Dona yang berbelok pada dirinya. Ia mengunyah sisa makanan dalam mulutnya. Sambil tertawa kecil Alisa menjawab ringan, “bahkan aku juga terkadang ingin menjadi dirimu, Don.”

Alis Dona bertautan. Ia menandaskan minumannya. “Jangan, aku tipe wanita yang sering disakiti laki-laki.”  Sedetik kemudian Alisa tertawa hambar.

      “Kau selalu cepat melupakan kesakitanmu, sementara aku butuh bertahun-tahun, bahkan mungkin sepanjang hidupku.”
Satu hal lagi tentang Alisa, ia mempunyai pengalaman buruk pada seorang lelaki bernama Anzar. Kisah cintanya kandas bukan karena kemauannya, tapi karena kedua orangnya yang tidak menyetujui hubungannya dengan Anzar. Hingga Anzar memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Dan lebih memilih menikah dengan wanita berkebangsaan Arab.

Saat mendapati kenyataan bahwa Anzar—kekasih pertamanya itu—sudah tidak mau lagi memperjuangkan hubungan mereka. Alisa hanyut dalam kesedihan. Betapa menyakitkannya merelakan cinta yang sudah dibangun bertahun-tahun kandas di tengah jalan hanya karena ketidaksetujuan satu pihak. Dan, sampai detik ini. Alisa merasa masih betah sendiri tanpa pasangan atau ia......... masih mengharapkan Anzar kembali? Entahlah.

            “Maafkan aku. Aku jadi mengingatkanmu pada—“
            “Jangan dilanjutkan, Don. Kau tahu aku masih menunggunya.”

        Dona mendesah berlebihan. Hatinya merasa bersalah. Siang itu menjadi istirahat terpanjang yang ia rasakan.
***

Apa yang dikatakan Alisa tempo hari di kantin adalah benar. Tidak butuh waktu satu bulan untuk mengeringkan air mata dan rasa sakit atas luka yang ditorehkan oleh Fikri. Dona sudah kembali ceria, semangatnya bekerja sudah kembali muncul kepermukaan lagi. Hal itu terlihat dari koordinasinya dengan beberapa divisi untuk mengurusi beberapa kendala. Dona terlihat lincah, bugar dan lebih..... Cantik. Tentu saja.

Dona tengah sibuk merapikan beberapa berkas di mejanya ketika Alisa menghampirinya.

            “Sibuk banget, ya?”

            “Eh, lis.” Dona sedikit kaget atas kehadiran Alisa yang tiba-tiba, atau mungkin karena ia tidak memperhatikan kondisi sekitar. “Lumayan, sih.” Sahutnya cepat.
            “Oke, baiklah. Aku juga harus kembali ke pekerjaanku, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”

Sebelum Alisa berbalik dan melangkah meninggalkan Dona. Dona sudah menahan lengan Alisa. Sambil melirik ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa orang-orang di kantor memang tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Dona berbisik pelan pada Alisa, “Lis, aku ingin menceritakan sesuatu. Bisa dibilang, ini kejutan.”

Kejutan? Sejak kapan Dona menyukai kejutan?

Jam istirahat berlangsung. Dona dan Alisa duduk di bangku paling pojok di kantin itu. kantin itu berada di lantai paling atas. Karena posisi yang begitu strategis, Keduanya bisa melihat gedung-gedung yang menjulang. Jakarta memang begitu megah jika dilihat dari atas gedung kantor mereka.
Dona merapatkan posisi duduknya. Bicaranya pelan. Meski senyumnya menghiasi wajahnya, tetapi matanya terus mengawasi seolah-olah udara pun tidak boleh mengintip perbincangan mereka siang itu.

            “Kau tahu, kan bos kita?” Tanya Dona.

            “Iya, Pak Galih? Kenapa dengan beliau?” Jawab Alisa datar tanpa mengindahkan pertanyaan Dona. Alisa mengira bahwa Dona sebentar lagi akan naik jabatan, atau semacam mendapat penghargaan atas kinerjanya selama bekerja.

            “Bagaimana menurutmu dia?”

            “Dia, dia maksudmu Pak Galih?
            “Baik. Dan—”

            “Dia, tampan kan?” Pertanyaan itu memutuskan mata rantai dugaan Alisa.

Pak Galih—Bos yang selalu dermawan. Selalu mengayomi karyawan-karyawannya dalam urusan pekerjaan. Dan..... cukup tampan, ya, baiklah. Alisa setuju akan hal itu.
Mata Alisa terbelalak dan hampir saja keluar dari kediamannya, mulutnya menganga tak percaya atas apa yang didengar telinganya. Cepat-cepat Alisa meyeruput minumannya.

            “Kau berciuman dengan Pak Galih? Di kantor?”
         “Ssssst. Alisa! Pelankan bicaramu.” Gerutu Dona. Mata hitam bulatnya tak henti-henti bersinar. “Sekarang, dia sudah menjadi kekasihku! Aku bahagia sekali Alisa.”

Dona begitu lancar saat menceritakan awal-awal kedekatannya dengan Pak Galih. Kejadiannya tepat saat Dona selesai curhat tempo hari kepada Alisa tentang Fikri. Pak Galih tiba-tiba menemui Dona, awalnya mereka hanya mengobrol tentang pekerjaan. Hingga hari berganti, Dona semakin dekat dengan Pak Galih. Mereka seakan menemukan kecocokan dalam atmoser yang sama; disakiti.

Dan... kejadian mereka berciuman itu begitu cepat. Dona merasa hanyut dalam suasana sehingga ia juga tak kuasa menahan bibir Pak Galih yang sudah mendarat di bibirnya. pelukan Pak Galih setelahnya yang begitu hangat ia rasakan. Bahkan mantan-mantan Dona tak pernah memberikan semua itu.

Alisa mematung sesaat, ia seolah hendak berpikir sesuatu, tapi mulutnya tercekat.
“Don, aku tidak setuju kamu dengan Pak Galih.”
“Tenang saja, Alisa sayang. Aku tahu kamu mencemaskanku. Tapi, Pak Galih tidak akan memanfaatkanku lagi. Dia sudah cukup kaya.” Dona tersenyum sambil menyeruput kopinya. Matanya tak henti bersinar.
***

Dona mempercepat langkahnya. Sepertinya sore ini Jakarta akan diguyur hujan lebat. Sial ia harus kembali ke kantornya karena HP nya tertinggal di sana. Mungkin, ini efek terlalu memikirkan kekasih barunya. Dona tersenyum simpul saat memikirkan hal itu.

Belum genap ia memasuki ruang kerjanya yang remang-remang karena sebagian lampu sudah dipadamkan. Dona menajamkan matanya melihat dua bayangan sedang berduaan. Dona menajamkan matanya berusaha mendekati dua bayangan tersebut. Ia menempelkan tubuhnya dibalik sekat kantor kemudian menajamkan seluruh indranya. Dona kenal ikat rambut berwarna merah menyala yang selalu dipakai Alisa. Udara di kantor sore itu terasa lembab sehingga membuat tubuh Dona hampir mengigil.

Alisa?dia berpelukan dengan siapa?mungkinkah Anzar kembali? Dona semakin dibuat penasaran.
Dona kembali bersusah payah menajamkan semua indranya untuk melihat sesuatu yang ada di depannya. Tubuh kali-laki itu tertutup rambut Alisa yang sudah digerai.

            “Mas Galih. Kau ini selalu manja seperti ini... Nanti, orang kantor tahu.” Lirih Alisa.
            “Lesung pipimu yang membuatku tergila-gila padamu, Lisa. Biarkan saja, semua orang kantor tahu. Aku benar-benar mencintaimu.”
            “Sungguh?”

        “Tentu saja, aku sungguh-sungguh.” Jawab Pak Galih dengan suara yang sedikit berat. Kemudian mereka berpelukan dibawah cahaya lampu yang remang-remang. Mereka tidak tahu, ada seorang perempuan sedang membekam mulutnya berjalan mundur.  Kemudian berlari menorobos hujan. Tidak jadi mengambil Hpnya.

Dona menjerit. Tapi, suaranya tenggelam bersama hujan deras sore itu.



End

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

Baca juga yang lainnya: