Lantunan Lagu Untukmu

Karya: Nasrul M Rizal


Sungguh kejam seseorang yang membuat mantra “setiap pertemuan pasti ada perpisahan.” Setidaknya kata-kata itu yang sekarang berputar di benak Indra. Tiga hari lagi dia resmi menjadi sarjana. Memakai toga dalam prosesi wisuda. Dalam helaan nafas yang sama, Indra, bahagia dan sedih. Bahagia karena dia berhasil menamatkan studinya. Sedih karena harus berpisah dengan teman-temannya, yang selama empat tahun terakhir menggoreskan pena di setiap lembar kehidupannya. Terutama ia sedih karena harus berpisah dengan seseorang.

Malam ini, adik tingkat Indra menyiapkan hiburan untuk wisudawan. Panggung sederhana dan beberapa alat musik disediakan. Nyanyian kebahagiaan dilantunkan. Nanyian bernada sedih pun ikut dilantunkan. Tanpa direncanakan sebelumnya, di penghujung acara Indra naik ke atas panggung. Ke dua temannya membuntuti dari belakang.
Mohon maaf pada panitia, saya meminta waktu sebentar. Dan saya mohon pengertian dari semuanya.” ucap Indra mengawali ‘konserya’.
Semua mata kini tertuju pada Indra.
“Lagu ini saya persembahkan untuk seseorang. Sialnya lirik di lagu ini cocok sekali untuk saya. Oke tanpa basa-basi lagi, kami persembahkan lagu ‘Sahabat Jadi Cinta’ dari Zigas.” Beberapa detik setelah Indra meneriakkan judul lagu. Suara gitar mulai terdengar, diikuti hentakan drum.
Bulan terdampar di pelantara
Hati yang temaram
Matamu juga menatap mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang
Lirik-lirik lagu yang Indra nyanyikan memanggil kembali potongan-potongan kejadian dalam kaset kenangan milikinya. Perlahan tapi pasti kaset itu kembali berputar. Dua tahun lalu Indra menemukan seorang sahabat yang setia mendengar keluh kesahnya. Ia tidak pernah bosan mendengar cerita Indra, yang selalu sama. Cerita tentang hatinya yang remuk. Bagaimana tidak remuk jika ia putus dengan perempuan yang dicintai sepenuh hati tepat di hari jadi ke tiga tahun. Perempuan itu mengirim pesan pada Indra “Maaf kita sudah tidak bisa bersama lagi. Ada lelaki yang lebih baik dari kamu.” Bagai mendengar petir saat matahari gagah berani bersinar, Indra kaget tak terkira, hatinya remuk seketika. Tidak ada lagi penjelasan dari kekasihnya –maaf, mantan kekasihnya.
Alfi, sahabat Indra, hanya senyum menanggapi cerita Indra. Ia tahu betul tak ada gunanya menceramahi Indra, supaya ia melupakan mantannya. Apalagi memaksa Indra untuk berhenti menceritakan mantanya. Ia tahu cepat atau lambat Indra pasti berubah. Yang harus ia lakukan hanya mendengar dan menemani kegalauan Indra. Biarkan waktu yang mengobati luka sahabatnya. Sudah menjadi rahasia umum di mana ada Indra, di situ ada Alfi.
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelasakanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Alfi berhasil mengembalikan senyuman Indra. Dia mampu memberi pengertian yang baik dari sebuah kata, cinta. Tidak perlu menyia-nyiakan waktu untuk seseorang yang sering menyakitimu, lebih baik kamu gunakan waktu itu untuk orang yang menyayangimu, keluarga, teman, maupun sahabatmu kata Alfi. Setelah mendapat penjelasan akhirnya Indra bisa memeluk erat pahitnya masa lalu. Dia sadar, di sekelilingnya banyak orang yang membutuhkannya, menyeyanginya. Tidak jarang pula Alfi memarahi Indra karena sahabatnya itu selalu menjatuhkan diri ke jurang nestapa, penyesalan.
Seringnya bersama, membuat Indra perlahan tapi pasti melupakan mantan kekasihnya. Sayangnya, dia tidak paham betul apa yang bergejolak di dadanya, saat  bersama Alfi.
Tak bisa hatiku menapikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya.
Kisah klasik dan klise pun menimpa Indra. Rupanya ada sesuatu yang tumbuh di hatinya. Bertahun-tahun lamanya dia tidak merasakan hal itu. Hatinya terlalu lelah untuk bertengkar dengan takdir. Mengutuk hari demi hari yang ia lalui dengan manta kekasihnya. Disadari ataupun tidak perasaan itu kembali tumbuh, bahkan seiring berjalannya waktu semakin berkembang.
Ku dapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah nafas yang tak bisa ku usap
Persahabatan berubah jadi cinta.
Setelah berdiskusi dengan hatinya sendiri, Indra mengakui kalau dia mencintai Alfi, tepat di tahun terakhir kuliah. Tapi Indra terlalu takut untuk menyampaikannya. Dia takut perasaan itu justru akan merusak persahabatan yang sudah lama ia rajut. Alfi adalah sahabatnya, dan akan selalu menjadi sahabatnya. Pikir Indra.
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelasakanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Tidak seperti biasanya, Indra terlihat gugup saat bertemu dengan Alfi. Bahkan dia sedikit menghindar. Kebersamaan mereka tidak seperti dulu. Tidak ada lagi nonton di bioskop setiap minggu. Atau sekedar jalan-jalan menghindari penatnya tugas kuliah.
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tidak coba tuk satukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau sebuah takdir Tuhan.
Perlahan tapi pasti Indra mulai menjaga jarak dengan Alfi. Sempurna dia menyembunyikan perasaannya. Karena dia sadar, kalau dia menyampaikannya, persahabatan mereka akan hancur. Kebahagiaan Alfi pun akan ternoda. Alfi sudah bahagia dengan pacarnya. Tidak ada alasan lagi untuk Indra menyimpan perasaan itu, cinta.
“Mungkin lagu ini saja yang bisa saya lantunkan. Mohon maaf jika tidak enak didengar. Terima kasih,” ucap Indra sembari meninggalkan panggung, membuat puluhan pasang mata menatap bingung.
Tidak terasa mata Alfi basah. Dia tahu maksud dari lagu yang dinyanyikan Indra, lagu itu untuk dirinya. Terlambat, sungguh terlambat baginya menyadari bagaimana perasaan Indra dan juga dirinya. Dia terlalu takut jika perasaannya (cinta) itu akan merusak persahabatan mereka. Merusak kebersamaan yang sudah terjalin dengan baik. Padahal, jika diberi pilhan. Alfi pasti memilih menjadi pacar Indra. Tapi, apalah daya, nasi terlanjur menjadi bubur. Alfi terlanjur menerima cinta seorang lelaki yang saat ini berdiri di sampingnya.


Bandung, 2017

Komentar

share!