Karena Aku Menyayangimu


Oleh: Nasrul M. Rizal (Penulis Lepas)

“Sudah pergi saja dari sini! Kamu tidak akan mengerti apa yang aku rasakan. Pergi!” teriak Anggita pada seorang lelaki yang tidak terlalu jauh darinya.
“Semua lelaki itu banjingan! Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak pernah memikirkan perasaan perempuan yang menyayanginya. Datang menawarkan senyuman. Membawa janji kebahagiaan. Mengikrarkan kesetiaan. Nyatanya senyuman itu berubah menjadi tangisan. Ya, tangisan penyesalan,” ucap Anggita lirih menahan perih.



Lelaki di hadapan Anggita bergeming.
“Kebahagiaan? Kebahagiaan yang dijanjikan hanya sebuah kata untuk mengelabui luka. Luka dan air mata. Hebat, memang hebat. Dia bisa membuat aku tersenyum. Merasa menjadi wanita terbahagia di dunia. Tapi sekarang mana senyuman itu? Sekarang aku merasa menjadi wanita terbodoh yang pernah ada. Semua lelaki itu brengsek.” Suara Anggita meninggi, mengalahkan gemercik hujan yang turun di atas gedung ini.
Sekali lagi lelaki itu bergeming. Menatap pasrah perempuan cantik yang sedang nelangsa.
“PERGI, PERGIII DARI SINI!!” Gelegar petir terdengar mengejutkan. Membuat langit yang gelap seketika bercahaya. “Jangan medekat, jangaaann!”
Anggita diam beberapa saat. “Setia? Selalu saja bilang akan setia. Busuk. Setia hanya sebatas di bibir saja. TIDAK ADA LELAKI YANG SETIA. TIDAK ADA.”
Lelaki itu mendekat perlahan. Mencari waktu yang tepat.
“Tuhan kenapa Engkau menghukumku seperti ini. Kemarin Kau buat aku tersenyum. Tergoda oleh indahnya cinta. Sekarang aku tersungkur pada jurang penderitaan, nestapa di dalamnya. Lelaki itu bajingan. Tuhan, kenapa kau begitu tega membiarkan aku mencintainya. Kenapa?” Anggita mendongakkan kepalanya. Air matanya tersembunyi di antara derasnya hujan yang menetes begitu saja.
Lelaki yang sedari tadi diam, melangkah perlahan. Tanpa aba-aba menarik Anggita dari pinggir gedung 12 lantai ini. Memeluknya. Merengkuhnya. Membiarkan Anggita menangis di dalam pelukannya.
“Kenapa aku mencintai dia, Rei?”
Reihan tidak menjawabnya. Dia tahu betul pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Reihan membiarkan perempuan nelangsa itu menangis di pelukannya. Perempuan yang sangat malang.
***
Kemarin malam Anggita harus menelan kepahitan. Saat makan malam di cafe dekat gedung  12 lantai itu, ada seseorang yang melabraknya. Dengan wajah penuh amarah wanita itu menampar Dito, pacarnya Anggita. Memberitahu kalau dia hamil. Pemandangan yang sangat menyakitkan, ME-NYA-KIT-KAN untuk Anggita. Terlebih mereka sudah pacaran tiga tahun lamanya. Tidak ada pembelaan yang terucap dari bibir Anggita saat melihat wanita dengan perut yang mulai membuncit itu menampar kekasihnya, tepat di hadapan dia. Dia hanya menatap kosong. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak mungkin. Tidak mungkin lelaki yang ia cintai itu begitu tega selingkuh dengan wanita lain. Pikirnya.
Buru-buru Anggita pergi meninggalkan Dito dan wanita itu. Dito memelas, mencoba memberi penjelasan. Terlambat. Tidak ada lagi yang harus dijelaskan.
Belum sempat Dito mencegahnya, Anggita sudah menghilang di ambang pintu.
Sepulangnya dari cafe, Anggita menyendiri di kamarnya. Menutup rapat–rapat pintu, menguncinya. Saat ini dia ingin sendiri. Benar-benar sendiri. Tidak boleh ada yang mengganggunya. Bahkan cicak pun tidak boleh ada di sekitarnya. Dia meratapi kenyataan. Janji masa depan yang selama ini dia impikan lenyap seketika.
Sisa-sisa senyuman tadi siang sempurna hilang. Digantikan oleh rintihan, tangisan, dan kekesalan. Mata indah penuh kebahagiaan saat bertemu dengan Dito beberapa jam yang lalu, sempurna berubah menjadi mata penuh luka. Nelangsa menerima kenyataan. Tisu di kamarnya tidak mampu membendung butiran air mata yang menggelinding menyusuri pipi merah merona, sejenak berkumpul di dagu, lalu jatuh ke bantal yang dia peluk erat, erat, semakin erat.
Sinar matahari mulai merangsek masuk ke kamar Anggita. Rupanya matahari pintar, dia masuk dari celah jendela. Semalaman menangis ternyata tidak mampu menyembuhkan luka di hati Anggita.
Suara dering telepon terus berbunyi sepanjang malam tadi. Tidak ada satu pun yang diangkat. Mungkin itu Dito, bermaksud meminta maaf, menjelaskan apa yang terjadi di cafe. Salah. Ternyata dering telepon itu bukan panggilan dari Dito tapi Reihan. Ya, Reihan, sahabat terbaik Anggita. Mereka berteman sedari SMA hingga saat ini bekerja di salah satu Bank Swasta. Lantas kemana Dito? Tidakkah dia merasa malu menyakiti perasaan perempuan yang sangat menyayanginya. Entahlah. Mungkin dia lebih memilih wanita yang dihamilinya.
Kesedihan Anggita memuncak. Dia tidak kuasa lagi membendung amarah. Tidak mampu lagi menahan kesal yang terus bergemuruh di dalam dada, membuatnya sesak. Hilang akal sehat Anggita, dia membanting foto yang dipajang dekat lampu tidur. Lantas berserakan kaca figura yang menyelimuti foto itu, memenuhi sudut kamar. Bukan hanya itu, dia melempar handphonenya tepat pada cermin yang diam membisu, membuatnya hacur berkeping-keping.  Apa salah cermin itu? bukankan selama ini dia menjadi sahabat Anggita. Selalu tersenyum saat Anggita tersenyum dan tidak pernah tertawa saat dia menangis tersedu-sedu di hadapannya.
Anggita menghancurkan semua barang yang menyimpan kenangan, kenangan dengan si lelaki bajingan itu. Lantas bagaimana kenangan yang terpatri di hatinya? Tentu saja tidak akan mudah hilang. Kenangan itu akan terus bersemayam di sana. Semakin lama semakin menyakitkan. ME-NYA-KIT-KAN.
Anggita mulai gila. Akal sehatnya tidak mampu mengendalikan rasa sesal, kesal, serta benci yang dibungkus indah dengan luka. Dia pergi meninggalkan rumahnya, memaksa mobilnya untuk berlari kencang menuju gedung 12 lantai, dekat cafe yang kemarin membuatnya hancur berkeping-keping. Dengan gontai dia menyeret kakinya ke atap gedung. Gedung yang menyimpan kenangan indah bagi Anggita. Di sini Dito mengungkapkan perasaannya. Menawarkan senyuman. Membawa janji kebahagiaan. Mengikrarkan kesetiaan. Di sini pula tiga kali mereka merayakan anniversary.
Lihatlah! Sekarang Anggita datang gontai, wajahnya tidak memancarkan kebahagiaan sebagaimana yang sering tergambar saat dia singgah di atap gedung 12 lantai ini. Lihat pula matanya. Mata yang biasanya mengeluarkan air mata bahagia –mendapat kejutan dari Dito– berubah menjadi mata penuh luka. Sorot matanya penuh dengan kebencian. Dia mengutuk tempat ini. Berharap tidak pernah menerima tawaran Dito, terbuai dengan janjinya, mempercayai ikrarnya.
Kegilaan Anggita memuncak, akal sehatnya tak lagi berfungsi. Dia berniat untuk terjun dari gedung ini. Bunuh diri. Berpikir itulah satu-satunya cara menyelesaikan masalah. Melenyapkan luka di hatinya. Mengubur rasa kesal pun sesal. Mata yang sembab tak henti mengeluarkan air mata. Air mata penderitaan. Air mata yang tak kalah deras dengan hujan yang menerpa tubuhnya.
Beruntung. Sebelum Anggita terjun bebas dari gedung 12 lantai ini, ada seorang lelaki yang menyadari keberadaannya. Lelaki itu berhasil menggagalkan rencana Anggita.
***
“Kenapa aku mencintai Dito, Rei?” ucap Anggita lirih di pelukan Reihan.
Reihan tidak menjawabnya. Dia tahu betul pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Reihan membiarkan perempuan nelangsa itu menangis di pelukannya. Perempuan yang sangat malang.
Anggita memberontak. “Biarkan aku mati Rei, biarkan aku matiii.”
Reihan sekuat tenaga merengkuhnya, memaksa Anggita tetap dalam pelukannya.
“Sudah jangan menangis lagi Gi! Air matamu terlalu berharga untuk menangisi lelaki itu.” Reihan tahu betul kalau Anggita sedaritadi manangis. Hujan tidak mampu mengelabuinya.
“Kamu tahu, Gi, ini menyakitkan bagiku. Melihatmu gila seperti ini. Aku hampir tidak mengenalmu, Gi. Karena, Anggita yang aku kenal selalu bahagia. Matanya terlihat sipit saat tertawa. Pipinya merah merona saat tersipu malu. Tapi lihatlah sekarang, kamu ...” Reihan tak mampu melanjutkan perkataannya.
Hujan bertambah deras. Anggita dan Reihan kini kuyup, kuyup sekuyupnya. Beruntung. Reihan sangat beruntung. Kalian tahu kenapa? Ya hujan ini sempurna menyembunyikan air mata yang keluar dari bola mata Reihan.
“Aku lebih suka melihatmu tersenyum Gi, melihat kamu bahagia. Meskipun aku tahu senyuman dan kebahagiaan itu bukan karena aku. Tapi setidaknya aku bisa ikut tersenyum, ikut bahagia.” Reihan menatap lamat-lamat mata Anggita.
“Aku selalu kesal Gi. Ya, aku kesal saat adikmu meneleponku. Memberitahu kalau kakak manjanya mengurung diri di kamar. Menangis gegara Dito. Aku selalu berusaha mengusap air matamu dan Dito dengan tega mengeluarkannya lagi.”
“Aku yang mengenalkan Dito padamu, Gi. Aku masih ingat betul kejadian itu.” Hening beberapa saat “Ternyata itu kesalahan terbesarku, Gi. Memberi jalan untuk Dito menuju hatimu... Di tempat ini Dito mengungkapkan perasaannya, dia berhasil sampai ke hatimu. Diam di sana hingga detik ini. Sedangkan aku, hanya bisa melihatmu dari jauh, meratapi keputusan terbodohku itu.” Reihan tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan. Tapi tak ada kesempatan untuknya melipat kembali kata yang telah keluar dari bibirnya itu.
Anggita menatap lamat-lamat mata Reihan.
“Cukup Gi! Jangan buat aku lebih gila lagi. Cukup, selama bertahun-tahun ini aku kehilangan cintamu. Aku tidak ingin kehilangan dirimu, tak bisa melihat senyummu, pipi merahmu. Karena... Karena Aku Menyayangimu.”
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Anggita. Dia belum bisa mencerna apa yang diucapkan Reihan. Baginya semua lelaki itu bajingan. Tidak pernah memikirkan perasaan perempuan yang menyayanginya. Semoga besok lusa Anggita sadar, kalau dia keliru.


Bandung, 2016

Komentar

share!