Elegi Hujan


  

     Karya : Veirent Agnisca
 
    Seseorang pernah berkata padaku, "Jika hujan lebat datang, bersiaplah! Mungkin ... satu jiwa akan terlelap, hanyut dalam derasnya gelap." Kala itu, aku hanya tersenyum tipis menanggapinya, tidak percaya dengan bualan aneh itu. Namun, satu pelajaran menghantam, ketika kenyataan pahit memelukku erat.

   Masih jelas membekas di kepalaku. Semuanya. Ya, semua kesakitan yang sampai sekarang masih enggan aku tinggalkan. Hujan yang dengan sengaja mengirimkan ribuan tangis, meleburkannya menjadi satu bersama puing penyesalan, lantas menarikku pada ambang kehancuran.

   Sangat jelas, hujan malam itu mencemoohku dengan keji. Menertawakanku menatap Purnama yang kian redup. Hingga akhirnya, aku tahu. Hujan datang, mengiringi salam perpisahanku bersama Purnama. Menjadi saksi perpisahan kami--Bulan dan Purnama.

    Siapa yang menyangka? Tetes-tetes air yang akan mengantarkan Purnama dalam gelap, terlelap dalam tidur panjangnya. Siapa pula yang akan menyangka, jika bulan yang banyak orang katakan sebagai bulan kasih sayang, menjadi akhir pertemuanku dengannya.

   2 Februari 2016. Waktu terakhirku menatap Purnama yang tersenyum cantik dalam lelapnya. Mungkin terdengar aneh dan sedikit canggung. Namun, berbahagialah di sana. Aku tidak pernah mengatakannya ketika kita masih berpijak di tanah yang sama, bukan? Sekarang, izinkan aku mengucapkannya.

    "Maaf aku selalu buat Mama susah. Iya, aku memang anak yang gak tau diri 'kan, Ma? Maaf buat semuanya, dan makasih sudah sabar besarin aku sampai segede ini. Tuhan lebih sayang Mama, makanya sekarang Mama diambil. Mama bahagia di sana. Aku sayang Mama."

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!