TUGAS RAMADHAN

Karya : Ghaziya Masruroh
Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Unexpected Ramadhan 2016

Gimana ya, kalau bulan puasa begini lari maraton? Butuh tenaga dan pasti akan banyak kehilangan ion. Apalagi selama kurang lebih 12 jam harus menahan makan dan minum. Ya, kali ini aku melakukannya. Bukan untuk mengejar juara di area perlombaan. Namun, aku melakukannya karena dosen untuk mengumpulkan tugas akhir. Dari tempat aku mengeprint sampai motor yang langsung aku tinggalkan begitu saja di parkiran. Aku berlari kejar-kejaran dengan waktu. Dan, Alhamdulillah tepat di depan ruang jurusan aku masih melihat teman-temanku berkumpul menggerombol di meja Pak Mufti.


Tidak sampai di situ saja, ternyata aku belum aman. Tugasku masih perlu untuk direvisi. Untuk halaman belum aku beri nomer. Untunglah Bella juga sama dengan pekerjaanku. Halamannya belum juga dia beri. Awalnya Pak Mufti meminta untuk mengeprint ulang. Namun, karena tawaran dari Bella yang mana menego untuk di tulis dengan tangan, akhirnya diizinkan. Aku temui lagi teman-temanku yang lain, mereka juga memiliki nasib yang serupa denganku.
Pemandangan ini baru aku temukan, apalagi di bulan Ramadhan tahun ini. Sempat ada pemindahan untuk waktu untuk pengumpulan tugas yang membuatku terburu-buru. Dan aku pun merasa belum sempurna dengan pekerjaanku ini. Huuuft….. mungkin ini yang bisa aku keluarkan dari mulutku.
“Belum mandi ya?” pertanyaan Bella yang seakan-akan dia tahu kalau aku belum mandi sebelum ke kampus. Mungkin dia tahu saat melihat mukaku yang masih lusuh tidak seperti biasanya.
Sekitar dua jam ke depan aku masih ada waktu untuk menyegarkan badanku sebelum ada kuliah lagi. Dari rumah sudah aku persiapkan alat-alat untuk mandi dan menyewa kos teman. Salma masih baik denganku. Tidak seperti temna-temanku lain yang enggan menerimaku menumpang mandi di kosan mereka. Oke, sabar mungkin lebih baik. Apalagi bulan puasa yang juga mengajarkan untukku bersabar.
***
Hari ini lagi-lagi tugas membuatku tertahan di kampus. Kali ini sudah tidak terburu-buru lagi. Sudah sesuai perjanjian mengumpulkan tugas akhir dengan mata kuliah yang berbeda. Namun, tunggu dulu. Masih saja ada rintangan saat pengumpulan tugas hari ini.
“Mau ngapain?” kata Putri yang menahanku dan Nini saat ingin masuk ruang jurusan
“Mau ngumpulin.” jawabku dengan menunjukkan tumpukan tugas di tanganku
“Bapaknya udah pulang.”
Aku terdiam, bingung, dan hanya menatap pintu jurusan yang masih terbuka. Nini mengikutiku. Dia yang juga satu kelompok denganku tak percaya dengan kabar dari Putri ini. Ternyata bukan hanya aku dan Nini yang terlambat karena harus merevisi terlebih dulu, tapi kini masih banyak yang berada di belakangku yang ikut tertahan.
Banyak diantara temanku yang menganggap tugas ini karena kurangnya penjelasan. Dan mungkin karena tugas yang butuh ketelitian ditengah-tengah tugas dari mata kuliah lain yang sudah menunggu. Ini cobaan lagi untukku di bulan Ramadhan. Memang kesabaranku diuji di bulan yang suci ini. Aku sempat menyerah untuk tidak mengerjakan tugas yang masih belum kelar. Sudah semester tua namun semakin tua juga semangatku untuk tugas-tugas. Terkadang pun semester tua ini membuat diriku ikut tua. Ya, ingatanku seakan-akan memori yang ini hilang seketika. Entah karena tugas yang banyak atau mungkin lelah untuk bolak-balik mengumpulkan tugas yang tidak diharapkan oleh dosen. Mungkin ini masih langkah awal sebelum skripsi aku temui. Bahkan untuk skripsi sudah tidak bisa lagi tergantung dengan teman.
“Terus gimana nih? Tugas individu juga belum aku kumpulin.” curhatanku pada Nini yang berada di sampingku
Semua terdiam, hanya pandangan kosong pertanda pasrah aku pandangi wajah temanku satu persatu. Di lorong jurusan hanya ada angkatanku. Masih menunggu kepastian dari Kanti yang sedang menghubungi Pak Herry.
Kami sudah cukup lama menunggu. Kanti yang sudah menghubungi dosen, sekarang mulai angkat bicara. Rencana awal dari kami adalah datang ke rumah Pak Herry untuk mengumpulkan tugas. Namun, info dari Kanti bahwa Pak Herry meminta untuk tidak datang ke rumahnya. Hal itu membuat kami semakin panik. Ditambah mendapat kabar nilai akan kosong jika yang belum mengumpulkan.
Aku beserta taman-teman masih menunggu memelas. Seperti tidak ada harapan. Akhirnya kami melanggar yang di mana tetap bersikeras datang ke rumah Pak Herry. Bukan ingin menentang, tapi usaha untuk mendapatkan nilai. Setidaknya kami sudah berusaha mengerjakan sesuai dengan pemahaman kami. Namun, di luar maksud dosen yang berbeda dengan kami.
Hanya lima orang sebagai perwakilan. Teman-teman yang lain menunggu harap-harap cemas di luar.
“Kita kaya lagi mau audisi nyanyi aja ya?” celoteh Bella—temanku yang selalu membuat keceriaan di suasana yang mencekam.
Usahaku dan teman-teman sampai sore. Dan entah, tugas akan diterima atau tidak adalah urusan akhir. Yang pasti usaha telah kami lakukan. Tetap berdoa yang terbaik akan aku lakukan. Terkadang usaha sudah aku lakukan dengan sungguh-sungguh, tapi karena rintangan yang membuatku mendapat hasil yang tidak sesuai dengan usaha. Di sini aku tetap berprasangka baik pada Allah. Aku tahu, Dia Maha Mengetahui. Mungkin hasilnya akan aku terima nanti, meskipun usaha aku lakukan sekarang.

Tugas kuliah bulan ini kalau dibilang banyak, itu pasti. Makna yang dapat aku ambil dari tugas-tugas ini pun juga banyak. Apalagi di bulan yang suci ini. Banyak pelajaran. Terutama tentang kesabaran. Dari tugas kuliah, turun untuk tugas ramadhan. Bolak-balik karena tidak sesuai dengan yang diharapkan, akan memunculkan tugas untukku. Yaitu kesabaran. Aku dituntut untuk bersabar dengan segala hal-hal yang di luar harapan dan rencanaku. Tugas di bulan ramadhan ini dalam bentuk kesabaran. Sabar untuk menerima segala hal di luar rencana. Itulah tugas terpenting, apalagi saat puasa aku temui. Yang memeang bulan di mana untuk lebih bersabar.

Komentar

share!