Sesal

Karya: Aisyah Asharini

Semilir angin membuat gadis itu merapikan rambutnya yang tertiup. Memandangi bintang yang tak pernah berhenti membuatnya melupakan penat adalah kegiatan wajibnya belakangan ini. Merasa sudah cukup, Alessa berbalik dan menuju dapur untuk membuat secangkir coklat panas. Begitu selesai, Alessa membanting dirinya di sofa dan menaikan kedua kakinya. Alessa menyeruput cairan hangat berwarna coklat itu, sedikit demi sedikit seraya menikmati setiap coklat yang melewati tenggorokannya. Tanpa sengaja, mata Alessa menangkap sebuah pigura yang memajang fotonya dengan seseorang yang begitu dekat dengannya sebelum tiga tahun terakhir. Jantungnya pun seakan berhenti berdegup, kerinduan itu menyeruak kembali setelah sekian lama. Air matapun meluncur bebas dan mendarat di pipinya, dengan cepat Alessa meletakkan cangkir yang dipegangnya ke atas nakas di samping sofa, mengusap dua jalur air mata itu dengan kedua tangannya.



Badannya kini sedikit bergetar, Alessa pun menggigit bibir bawahnya berusaha menahan isakkan. Sekilas bayangan tentang sahabatnya itu pun muncul, tersusun rapi dari pertemuan pertama mereka hingga yang terakhir. Layaknya gulungan film lama yang terputar kembali, membuat Alessa terhanyut dalam setiap kejadian yang terjadi. Membuat gadis itu menatap kosong pigura dengan air yang menggenang di pelupuk matanya. Mengajaknya pergi dari masa kini menuju masa lampau, membawanya kembali pada waktu-waktu berharga untuknya yang sedikit menyakitkan, setiap detil tersirat jelas, lima tahun dari sekarang.
***
“Alessa!”
Alessa yang merasa dipanggil menoleh ke belakangnya, mendapati Athan yang berlari terengah menujunya. Ada apa? Apa dia melupakan sesuatu di kelas?
“Ada apa?” tanya Alessa begitu Athan tiba, Athan sedikit mengatur nafasnya terlebih dahulu.
“Ini undangan untukmu. Datang ya! Aku menunggumu nanti.” Tukas Athan seraya mengulurkan undangan pada Alessa. Alessa yang tadinya mengembangkan senyum menjadi mengernyit, dahinya terlipat begitu saja ketika melihat undangan yang ada di tangannya itu.
“Kau? D-dengan Bella?” Alessa tergagap. Athan pun mengangguk mantap mengiyakan pertanyaan Alessa. Gadis itu menggulum senyum, menatap mata sahabatnya dengan beribu perasaan yang tercampur aduk dalam benaknya.
Congratulation, Athan!” seru Alessa memberi selamat, menyalami tangan Athan dan tak disangka lelaki itu memeluknya erat.
“Ini berkatmu, Lessa! Terima kasih!”
Alessa hanya tersenyum masam dibalik tubuh Athan, tentu saja dia menginginkan kebahagiaan yang pantas untuk sahabatnya ini. Mungkin ini adalah pelukan terakhir dari sosok Athan, pelukan dimana Athan hanya memberikannya ketika Alesssa merasa sedih dan tentunya Athan tepat untuk memberinya saat ini. Athan pun melepas pelukannya, mengambil ponsel dan membaca pesan dari seseorang.
“Aku harus menjemput Bella. See you!” seru Athan dengan wajah sumringah, meninggalkan Alessa yang masih menggulum senyum palsu di depan Athan.
Sejak umur Alessa beranjak lima belas tahun, dia selalu merasa bahagia karena ada Athan di sampingnnya meskipun hanya sebatas teman. Namun ketika umur Alessa beranjak dua puluh, Athan tidak lagi selalu ada untuknya, tidak ada lagi Athan yang menopang separuh bebannya ketika Alessa dalam masalah. Karena Alessa tahu semuanya kini berbeda, Athan sudah menemukan Bella sebagai pendamping hidupnya, sedangkan Alessa masih menetapkan hatinya pada Athan seorang selama tujuh tahun ini dan mungkin tak akan pernah berhenti.
Alessa berjalan gontai menuju parkiran, mengendarai mobilnya menuju apartemen dengan rasa sakit yang memekuknya. Besok dia akan menghadiri pernikahan sahabatnya seorang diri, orang yang dicintainya diam-diam selama bertahun-tahun. Sebutlah dirinya pengecut, terlalu takut menyadari perasaan sayangnya pada Athan hingga akhirnya perasaan hancur lah yang kembali menyambutnya.
***
Alessa menyalami tangan Athan dan Bella, memberikan senyuman sebisa mungkin tanpa bertutur kata. Setelah bersalaman dengan kedua orang tua Athan, Alessa pun memutuskan untuk kembali pulang, enggan berlama-lama menahan air mata yang ingin bebas.
Sudah dua minggu sejak pernikahan Athan, Alessa tidak pernah melihatnya lagi di kampus. Mungkin Athan tengah berbulan madu bersama Bella, fikirnya. Sejak itu, Alessa pun tidak mengunjungi Athan dan kedua orang tuanya. Karena merasa takut akan mengganggu kebahagian Athan. Ponsel Alessa berdering, menunjukan nama Tante Arianna yang merupakan Ibu dari Athan. Alessa pun meminta izin pada dosen yang mengajar dan keluar untuk menerima telepon.
“Iya, Tante? Ada apa?” sapa Alessa dengan manis. Namun tak disangka, isakkan lah yang membalasnya. Mendengar penjelasan Arianna yang panjang, Alessa pun membekap mulutnya sendiri. Badannya bergetar hebat dan kini tubuhnya sudah meluruh ke lantai. Lagi-lagi Alessa harus menahan sakit yang lebih kuat dibanding pernikahan Athan, air mata pun menggenang di pelupuk matanya yang indah. Alessa menggigit bibir bawahnya, menahan isakkan agar tidak lolos saat ini juga. Namun begitu Arianna memutuskan panggilan, pertahanan Alessa hancur sudah. Dia memeluk lutut dan berkali-kali memukul kepalanya, merutuki dirinya dengan hinaan karena tidak ada di saat Athan menyebut namanya. Dan kini hanya penyesalan lah yang menyeruak di hatinya.
***
“Maaf, Than. Selama aku kerja, aku jadi lupa sama kamu,” bersyukur karena kenangannya yang terlintas, membawa Alessa kembali ke pemakaman Athan keesokan harinya. Rindu dan cinta itu masih tersirat jelas di hati Alessa, masih sama dan hanya diutarakan pada Athan. Di umurnya yang menginjak dua puluh lima tahun ini seharusnya Alessa sudah menikah, namun entah mengapa aneh rasanya jika lelaki yang dicintainya bukan Athan.
Penyakit Athan yang tidak diketahui Alessa membuat penyesalan yang berdampak pada hidupnya, seharusnya Alessa ada di sana saat Athan menderita. Lagi-lagi dadanya terasa sesak, nafasnya sedikit tercekat begitu mengingat Athan. Alessa pun memeluk nisan milik Athan, melepas kerinduannya sementara pada benda tak bernyawa itu.
“Aku sayang kamu, Athan.” Kalimat itu pun melesat dari bibir Alessa, merasa lega karena bebannya sedikit terangkat, namun menyesal karena terlambat sepuluh tahun.
Selama ini Alessa tidak berniat untuk melupakan perasaannya pada Athan, membiarkan rasa cinta itu menjadi kenangan terindah sekaligus menyakitkan untuknya. Menggulum senyum, Alessa pun menyematkan bunga mawar putih di samping nisan milik Athan dan beranjak pergi.

Alessa kini tahu, cinta memang perlu diungkapkan. So tell them now, before they left and times learn you a regret.

Komentar

share!