Ramadhanku Matasiriku

Karya : Rifa Fikria
Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Unexpected Ramadhan 2016

Kapalku merapat saat adzan magrib berkumandang. Penantianku pun tiba. Aku sampai di pulau antah berantah. Hampir tak seorang pun berani mendekatinya. Pulau misteri, pulau matasiri. 
            Jangkar diturunkan. Tak ada penumpang yang turun selain aku dan teman-temanku. Kapal-kapal kecil mulai berdatangan untuk menjemput kami. Kulambaikan tangan tinggi-tinggi. Inginku berteriak “kami sudah tiba!”. Entah mereka akan menyambut kedatanganku atau tidak, tapi senyum mereka dari kejauhan membuatku yakin bahwa aku dan teman-temanku diterima untuk sejenak menjalin persaudaraan dengan mereka.


            Kubaca basmallah sambil menuruni tangga kapal menuju kapal kecil. Teman-temanku bergotong royong menurunkan barang. Tak sampai satu jam, semua barang bawaan kami sudah berada di kapal kecil. Kami siap mendekati pulau dan menginjakkan kaki ke daratan. Akhirnya, setelah terombang ambing selama satu minggu di laut, aku dapat meletakkan kakiku di daratan yang sesungguhnya. Alhamdulillah, puji syukur pada-Mu. Bismillah, kumulai tugas ini dengan penuh keyakinan. Niat kami baik dan kami yakin akan membuahkan hasil yang baik.
            Selamat malam pulau matasiri. Perbatasan jawa dan kalimantan. Pulau dengan minim informasi dan penuh mitos. Aku masih teringat bagaimana masyarakat di pulau tak jauh dari pulau ini melarangku untuk kesini. Membuatku sedikit merinding ketakutan. Tapi tekatku dan teman-teman sudah bulat hingga sampailah aku disini.  
            Orang pertama yang kami temui adalah kepala desa. Seseorang yang menurutku paling bijak dan berwenang disini. Kami meminta ijin untuk tinggal. Mungkin awalnya Bapak kepala desa akan terkejut dengan kedatangan kami, namun ia menerima kami dengan sangat ramah. Surat kami belum sampai. Maklum, akses surat menyurat di pulau ini tidak ada. Mereka hanya menggunakan radio untuk berkomunikasi dengan penguasa pemerintah yang lebih tinggi. Tidak ada sinyal disini. Telepon genggam sebagus apapun tak akan bisa terhubung dunia diluar pulau ini. Setelah surat pengganti diberikan, Bapak Kepala Desa mempersilahkan kami untuk menempati balai desa.
            Aku dan teman-teman keluar dari rumah bapak Kepala Desa. Semua mata memandang ke arah kami. Mereka tersenyum ke arah kami. Satu per satu anak kecil mulai mendekati kami. “Kak, sini saya bantu bawa barangnya”, kata salah seorang dari mereka kepadaku. Aku tersenyum dan membiarkan beberapa barang ringan untuk ia bawa. Senyumnya semakin lebar dan ia menyusul teman-temannya berlari menuju balai desa.
            Warga berhamburan keluar rumah dan membantu kami membersihkan balai desa. Mereka sangat baik. Mereka tak segan membawakan berbagai macam barang untuk kami. Kasur, guling, bantal, selimut, semua perlengkapan tidur, memasak dan kebutuhan kami selama disini siap sedia beberapa menit setelah kami membersihkan kepala desa. Ingin rasanya berlama-lama berbincang dengan mereka, tapi apa daya, mata iniugas. lelah. Seminggu di kapal membuat kami ingin menikmati tidur nyenyak di daratan. Jam pun sudah menunjukkan tanda tengah malam, aku dan teman-teman mohon ijin untuk mengistirahatkan raga sejenak. Amanah kami akan kami jalankan mulai dari besok.
            Aku dan teman-temanku ditugaskan disini untuk memantau perkembangan kondisi pulau terpencil. Selain itu, kami ikut membantu warga dalam menyelesaikan permasalahan pulau serta menjadi pendengar atas keluh kesah mereka. Aku disini sebagai teman, sebagai saudara, sebagai keluarga sekaligus sebagai petugas. Aku adalah mereka, mereka adalah aku. Hati kami seakan menjadi satu. Walaupun aku dan teman-temanku baru saja mengenal mereka, seakan sudah mengenal mereka untuk waktu yang lama. Selamat datang di keluarga baru !
            “Puasanya jadi kapan ya bang?” tanyaku pada pimpinan rombongan. Dia menghetikan langkahnya. “Waduh dik, aku kok nggak denger berita tentang puasa ya ? Kamu nggak denger juga?”, jawabnya. Dia balik bertanya kepadaku. Aku bingung dan kami berdua sama-sama bingung. Sebelum berangkat ke pulau ini, kami tidak membuka informasi tentang awal puasa. Ya sudahlah, mungkin warga disini lebih tau meskipun di rumah mereka tidak ada listrik maupun televisi. Lebih baik kulanjutkan saja perjalanan pulang ke Balai desa.
            Di depan balai desa sudah banyakorang berkumpul. Mereka berbincang deng teman-temanku yang lain. Tak kulihat ada rasa sungkan atau canggung diantara mereka. Senang melihatnya. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, semuanya berkumpul malam ini. Mereka menemani kami menikmati malam disini.
            “Kak, kami senang kakak datang. Tidak pernah ada orang datang kesini sebelum kakak. Kakak sangat baik mau datang kesini” celetuk seorang pemuda. Dia jalan di sebelahku dan tentunya di dekat pemimpin rombonganku. Aku tersenyum kepadanya. “Terimakasih”, kataku. Dia tersenyum. “Aku Adi”, dia mengajakku berkenalan. “Riyan”, pemimpin rombonganku menjawabnya, ia juga menyambut tangannya untuk bersalaman. “Aku Riri”,aku pun turut memperkenalkan diriku. Kami bertiga menghabiskan waktu mengobrol di warung depan balai desa.
            Seminggu dipulau ini membuatku takjub akan keindahan alam, keramahan warganya dan kearifan lokal yang tetap terjaga. Memang, semua serba terbatas. Listrik, air, apapun itu semua sangat terbatas dan membutuhkan usaha lebih. Menempun waktu 2 jam terombang ambing dilautan untuk mendapatkan secuil kebahagiaan itu. Namun, justru itu yang membuat mereka dekat satu sama lain. Saling membantu, peduli dengan sesama seakan semua mereka tanggung bersama.
            Sebuah kapal cukup besar mendekati pulau. Aku tau, itu pasti kapal pengangkut ikan yang pulang dari kota. Kapal itu hanya satu-satunya kapal akses keluar pulau dan akan berlayar setiap lima hari untuk berjualan ikan di kota. Melihat kedatangannya, semua warga berkumpul di dermaga. Setelah kapal itu sandar, mereka saling membantu untuk mengeluarkan barang bawaan dari kapal.
            “Besok puasa”, kata Riyan. “Abang tau darimana bang?” tanyaku.”Buktikan saja besok pagi”, katanya lagi. Dia tersenyum. Pasti dia baru saja diberitau oleh Adi. Adi selalu membawa berita terbaru setelah iya bertugas keluar pulau untuk bekerja di kapal ikan. “Malam ini tarawih”, tambahnya. Aku pun mengikutinya untuk shalat tarawih bersama dengan teman yang lain.
            “Sahur, sahur!”. Benar saja, ini sudah bulan puasa. Lampu utama di balai desa menyala. Padahal ini baru jam 2 pagi. Hari ini mulai puasa. Alhamdulillah, akhirnya. Sahur pertamaku kali ini diteman dengan teman satu tim serta warga yang tinggal di sekitar balai desa. Sederhana memang, ikan bakar, nasi dan sambal. Tapi sahur kali ini terasa nikmat. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ya, aku tidak melewati sahur pertamaku dengan ayah, ibu, kakak dan adik tapi aku tau, hati mereka tetap menemani sahurku. Keluarga baruku disini membuatku tak kesepian. Aku tetap merasakan kebersamaan yang serupa seperti saat sahur pertama dengan keluargaku tahun-tahun sebelumnya.
            Dua minggu melewati ramadan disini. Tak terasa. Rasanya tak ingin meninggalkan semua kenangan di pulau ini. Keluarga baru. Bapak-ibu baru, adik-kakak baru, semua pengalaman baru. Baru kali ini aku puasa bisa bermain perahu di pinggir pantai, berenang di sungai dengan anak-anak kecil, membuat ikan bakar bersama orang-orang yang baru kukenal, menikmati alam yang begitu indah. Sapaan elang pagi pun tak akan pernah aku lupakan saat aku memulai aktifitas di bulan ramadan ini. Menambah semangat pagi untuk memulai segalanya. Sungguh tak akan terlupakan.

            Air mataku menetes. Kapal penjemputku mulai meninggalkan pulau. Sudah saatnya aku kembali ke rumah. Menikmati ramadhan dengan keluargaku di rumah. Lambaian tangan mereka tak bisa menutupi rasa sedihku untuk berpisah. Ini kali pertamanya aku menangis di bulan ramadhan ini. Perpisahan ini bagaikan mimpi buruk bagiku. Tapi aku tau, keluargaku di rumah sudah merindukanku. Pasti mereka akan baik-baik saja. Semoga kedatanganku dan teman-teman dapat membuat mereka merasa lebih baik. Jauh lebih baik dari sebelumnya. jauh lebih maju dari sebelumnya. Sungguh, ramadan ini tak akan kulupakan. Ramadan ini bersamaku, bersama matasiriku, pulau baru yang kucintai.

Komentar

share!