Nostalgia Penuh Hikmah

Karya: Alfarel Ridwan Syaifullah

Shalat tarawih malam kedua puluh satu Ramadhan baru saja selesai. Aku menaruh tas berisi barang-barang untuk i’tikaf malam ini di pojok belakang shaf akhwan. Beberapa anak sekolah dasar yang mengikuti program tahfidz malam tertidur di sekitar tempatku menaruh tas, sehingga aku harus berjalan seperti menghindari laser di film-film detektif. Setelah itu aku pun bergegas keluar masjid untuk mencari makan malam terlebih dahulu, sembari menunggu waktu i’tikaf.



Di luar masjid, banyak sekali anak-anak bermain. Dari bermain bola, benteng, petasan, bahkan game Let’s Get Rich di pelataran masjid.  Aku memasang earphone sambil berjalan menuju tukang seblak di samping lapangan masjid. Saat sampai  tukang seblak, aku melepas earphone. Ternyata suara teriakan anak-anak tersebut lebih kencang dari suara musik yang aku dengarkan.
“Bang, pesen yang paket sepuluh ribu ya, enggak pake kerupuk sama sambelnya satu sendok aja” ujarku.
“Siap, mas! Tapi nunggu agak lama, ya! Banyak yang beli ini. Duduk aja dulu” balasnya sambil mengangguk ke arah tempat duduk. Aku langsung duduk dan memainkan handphone.
 Saat sedang asyik bermain, aku menyadari sesuatu yang menarik. Di depan tempatku duduk, dua pemandangan yang saling berlawanan dapat terlihat secara bersamaan. Apabila aku melihat ke arah kiri, akan terlihat lapangan dan anak-anak bermain benteng dan petasan. Sedangkan di seberangnya, terlihat anak-anak bermain Let’s Get Rich bersama di pelataran masjid. Hal tersebut membuatku termenung.
Tepat tujuh sampai tiga tahun yang lalu, usiaku mungkin sama persis dengan beberapa anak yang sedang bermain tersebut. Aku berusaha mengorek kenangan-kenangan indah di masa itu. Aku berhasil, yah walaupun mungkin hanya sepuluh persen dari seluruh memori yang bisa dikenang. Saat sedang sibuk-sibuknya melamun, ada seseorang yang menepuk punggungku. Seseorang, yang sudah lama tidak pernah berjumpa.
”Woy, bengong aja!” seru orang bernama Zidane itu. Ternyata dia tidak sendiri, di sebelahnya ada Khalifi. Di antara anak-anak seangkatanku di komplek ini, mereka berdua yang paling dekat denganku.
”Lah? Dalam rangka apaan lu ke sini?” tanyaku yang masih terkejut. Zidane duduk di sebelahku, sedangkan Khalifi duduk di seberang.
”Yah... kan udah lama enggak berkunjung lagi ke sini. Udah tiga tahun, cuy!” jawabnya.
”Terus kok bisa bareng Khalifi?” tanyaku lagi.
”Iya tadi dia jemput gua, terus kita ke rumah lu mau ngajak i’tikaf. Eh ternyata lu udah di masjid. Untung dikasih tau emak lu” jawab Khalifi.
Pesananku akhirnya sampai. Tepatnya pesanan kami sebenarnya, karena ternyata mereka juga sudah memesan. Kami pun makan sambil mengobrol
”Tadi bengong mikirin apa dah lu?” tanya Zidane.
”Ngeliatin anak-anak itu, jadi keinget masa kecil” jawabku. Mereka berdua nyengir mendengar jawabanku, kemudian ikut memerhatikan anak-anak itu.
”Yang main di lapangan, pakaiannya lusuh, bahkan ada yang harusnya udah enggak layak pakai. Yang di pelataran masjid, main ama temen aja mereka udah memanfaatkan teknologi yang udah canggih. Bahkan, kayaknya anak yang di lapangan enggak pernah main sama yang di pelataran” lanjutku. Mereka berdua mengangguk.
”Ohh... gua ngerti maksud lu, Rel. Yang di lapangan mungkin ga akan merasakan teknologi canggih di masa kecilnya, sedangkan yang di pelataran masjid ga akan ngerasain main bareng temen di lapangan” ujar Zidane. Aku mengangguk sambil nyengir.
”Tapi kita kan dulu juga main Playstation 2” ujar Khalifi.
”Kita tapi tetep main di luar rumah juga kan, Lif. Kita tetep berbaur sama anak-anak seperti yang di lapangan itu” balasku.
”Iya, kita masa paling untung sebenernya. Bisa ngerasain teknologi tapi masih main di luar rumah juga” tambah Zidane. Aku dan Khalifi mengangguk.
Thank God I had a childhood before technology really took over” ujarku.
Yeah, totally agree with you. ‘Then, which of the favours of your Lord will you deny?” balas Zidane mengutip salah satu firman Allah di Surah Ar-Rahman.
“Tolong, jangan ngomong pake bahasa inggris” perintah Khalifi dengan halus. Aku dan Zidane tertawa. Ya, Khalifi memang kurang di pelajaran bahasa inggris, dulu.
“Maap, Lif” ujar Zidane masih tertawa.
“Tapi bener sih kalo direnungin, ‘maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?’” kata Khalifi dengan ekspresi ceria. Aku dan Zidane kali ini terdiam. Kemudian kami semua tertawa bersama.
”Ceritanya udah bisa, nih?” tanyaku sambil tertawa.
”Iya, hasil dari les bahasa inggris sejak lulus sekolah dasar. Sekarang bahkan gua lebih jago dari kalian” jawabnya. Aku dan Zidane mengelu-elukannya.
”Lah, enggak percaya? Tell me, how was your English National Exam score?” tanya Khalifi menantang.
Not bad, neither good too. Eighty six” jawabku.
“Enggak beda jauh sama Arel, delapan-delapan. How’s yours?” tambah Zidane. Khalifi langsung nyengir penuh kemenangan.
Ninety eight. Ninety freakin’ eight” jawabnya, sambil mengacungkan tangan ke atas. Aku dan Zidane bengong.
Dalam waktu setengah jam, aku dapat belajar tentang dua hal. Pertama, lebih banyak bersyukur atas apa yang telah terjadi di hidupmu. Kedua, semua kekurangan dapat diatasi dengan usaha dan kegigihan yang besar.
Masih terkejut dengan perkataan Khalifi, Zidane berkata dengan terbata-bata. ”Well, I didn’t see that coming to be honest.”
Khalifi tertawa, sangat puas tampaknya. Perhatianku kembali teralihkan kepada anak-anak  yang masih bermain. Aku kembali berusaha mengorek kenangan di masa lalu.
”Inget enggak sih, kita pernah punya basecamp di bawah tanah yang sekarang jadi parkiran?” tanyaku tiba-tiba. Ingatan itu baru saja melintas di otakku.
Zidane menjawab dengan semangat. ”Inget, dong. Siapa dulu yang nemuin tempat itu pas main ’alergi berlari’?” jawab Zidane. Saat Zidane menyebutkan nama permainan itu, semburan kenangan langsung membanjiri otakku.
Alergi berlari, sebuah permainan yang diciptakan oleh kami bertiga dan beberapa teman lain. Cara bermainnya pertama tentukan siapa yang akan menjadi ’orang yang terinfeksi alergi’. Kedua, orang yang ’terinfeksi’ tadi menutup mata selama satu menit, sedangkan yang lain bersembunyi. Ketiga, si ’terinfeksi’ tadi mencari orang yang bersembunyi. Orang yang bersembunyi diperbolehkan untuk berpindah tempat. Apabila orang yang bersembunyi berhasil disentuh oleh si ’terinfeksi’, maka ia juga ’terinfeksi’ dan harus menginfeksikan yang lain. Keempat, permainan selesai apabila semua pemain terinfeksi.
”Udah yok, kita ke rumah gua aja. Sambil nunggu i’tikaf, kita nostalgia” ajak Khalifi. Aku tertawa mendengarnya, kemudian mengangguk.

Kami pun membayar seblak tersebut, kemudian berjalan sambil mengorbol. Tentu saja ditemani serpihan-serpihan kenangan yang berterbangan di sekitar kami, yang pelan-pelan tersusun kembali menjadi satu.

Komentar

share!