HIKMAH DIBALIK BULAN PENUH BERKAH

Karya: Halida Septianidar
 Diikutsertakan dalam lomba menulis Unexpected Ramadhan 2

Berbeda dengan Ramadhan-ramadhan sebelumnya, Ramadhan kali ini Fakultasku masih dipenuhi mahasiswa yang masih sibuk dengan Ujian Akhir Semester. Biasanya walau kampusku libur seminggu sebelum Hari Raya tetapi Fakultasku pasti sudah sepi karena Fakultasku terkenal dengan Fakultas yang selaalu lebih cepat liburnya. Sayangnya, mungkin ini karma untukku dan juga teman-temanku karena sering meledek mahasiswa Fakultas lain yang selalu libur belakangan. Sekarang justru mereka yang balik meledek kami.



Pagi itu perpustakaan Fakultasku diramaikan dengan aku dan teman kelasku. UAS Mata Kuliah Metodologi Penelitian yang mengharuskan kami benar-benar melakukan penelitian dan ini juga yang membuat kami masih berada di sini padahal sudah H-10 Lebaran.
“Putri, kelompok lu udah beres?” Nadia bertanya padaku.
“Udah, bab satu doang.” Aku nyengir.
“Kesel dah gue, mau mudik ini masih aja ngerjain beginian.” Anggun menimpali.
“aahh, H-7 udah naik ongkos bisnya.” Fathia mengeluh.
“Emang lu pada mau mudik kapan?” Tanyaku.
“Bodo pokoknya lusa gue mau pulang, udah mana di kostan tinggal gue sendiri. Ayo Put besok harus selesai gamau tau.” Lia menarik kursi disampingku sambil membuka buku yang baru dia temukan.
“Iya wajib selesei gue juga mau pulang, untung temen kost gue juga masih pada UAS.” Aku kembali mengetik apa yang diejakan Ani.
Iya, untungnya kedua teman kamar kostku juga masih UAS dan kami berencana pulang ke rumah lusa.
Aku dan teman-eman kelasku berkutat pada tugas UAS kami masing-masing sampai akhirnya petugas perpustakaan mengusir kami untuk pulang.
“Udah sore, udah sore, udah jam tiga. Ayo pulang, bikin bukaan.” Bapak petugas perpustakaan merapikan beberapa buku yang ada di meja.
Kami kompak berseru kecewa. “Yaaaaaah.”
Aku membuka pintu kost dan langsung mengeluh pada Hera dan Ipah. “Sumpah kesel banget gak selesei-selesei tugasnya. Ih beneran ya gue mending UAS tulis dah. Datang-kerjakan-lupakan, hari itu selesei. Ini tugasnya gak selesei-selesei.”
“Sabar Put, sabar.” Ipah memberi semangat.
“Akhirnya seorang Putri merasakan juga puasa-puasa di kostan.” Hera tertawa meledekku.
“Jahaaaat. Mana duit gue udah tipis lagi, harus cepet pulang kalau begini kondisinya.”
“Kalau itu mah gue juga sama Put. Gue gak enak buat minta duit lagi, gimana ya di bank tinggal 50 ribu, di kantong tinggal dua ribu.” Hera mengeluarkan uang dua ribu dari saku kantongnya.
Sore itu kami bertiga kompak untuk mengambil uang di ATM karena uang yang kami miliki saat ini tidak cukup untuk membeli makanan pembuka dan makan malam.
Hera curhat sepanjang perjalanan kami menuju ATM yang jaraknya kira-kira 500 meter dari kamar kost kami. “Gimana ya? Itu 50 ribu uang terakhir gue, mau minta lagi gak enak bulan ini gue udah minta dua kali tapi kalau gak minta gue gak bisa mudik nanti. Ya Allah harus minta sama siapa lagi? Nasib banget jadi anak kostan mau makan aja susah.”
“Hera mau minjem uang Ipah?” Ipah menawari.
“Nah tuh pinjem aja dulu Her, kalau emang gak cukup.” Aku setuju sara Ipah.
“Liat nanti deh.”
Ketika kami sedang mengantri untuk mengambil uang di ATM, ketika itu juga ada kejadian yang seakan menampar kami bertiga.
Ada seorang lelaki yang tiba-tiba mencegat Hera. “Mba, maaf boleh minjem kartu ATMnya?”
Aku, Hera dan Ipah  memicingkan mata, sudah siap siaga khawatir lelaki ini ingin melakukann modus kejahatan. Melihat banyak modus kejahatan terutama mengenai ATM. Ya walaupun saldo di ATM Hera nominalnya kecil tapi untuk kami yang sedang krisis seperti ini kan tetap lumayan untuk membeli makan dua hari ke depan.
Sepertinya lelaki di hadapn Hera itu paham dengan sikap kami, dia menjelaskan lebih rinci. “Kartu ATM saya ketinggalan mba, saya mau transfer penting banget soalnya. Jadi nanti kita setoran tunai terus langsung transfer. Mba yang transaksiinnya.”
Kebetulan mesin ATM disini memang ada untuk setoran tunai.
Demi mendengar penjelasan lelaki itu walau sedikit khawatir, Hera akhirnya meng-iyakan. Aku dan Ipah mengawasi dengan seksama gerak-gerik lelaki tersebut layaknya sedang mengawasi tahanan.
Ternyata lelaki itu memang benar melakuakn sesuai dengan apa yang ia jelaskan tadi. Sedikit pun dia tidak memiliki maksud untuk berbuat jahat. Dia berterimakasih banyak kepada Hera. Kemudian dia memberikan uang 50 ribu untuk Hera karena sudah bersedia membantunya. Hera menolaknya tetapi lelaki itu  memaksa dan langsung pergi sambil mengucapkan terimakasih.
Kami bertiga langsung tercengang dan bertatapan satu sama lain.
“Ya Allah maafkan kami yang sudah suudzon dengan orang itu.” Kami berjalan kembali ke kostan dengan perasaan bersalah. Aku berceloteh.
“Ya Allah, maafin Hera. Engkau memang tempat segala meminta.” Hera menambahkan.
“Ya Allah, kita kaya ditegur sama Allah. Udah suudzon sama orang, ditambah kita mengeluh mengenai rizki. Padahal jelas-jelas Allah udah ngatur rizki kita kenapa kita harus ragu dan jelas-jelas juga Allah melarang kita untuk suudzon sama orang.” Ipah ikut bersuara.
“Astaghirullah.” Tiba-tiba kami kompak beristghfar.
Kami bertatapan satu sama lain dan tertawa.
Sepenggal kejadian sebelum berbuka puasa itu membuat kami menyadari apa kesalahan kami dan hebatnya Allah menegur dengan cara yang indah bukan menegur dengan musibah. Ramadhan selalu memiliki hikmah yang besar di dalamnya. Ya Allah jangan jadikan ini Ramadhan terakhir dalam hidup kami. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhir kami, aka jadikanlah kami sebagai orang yang Engkau sayangi.



Kisah ini saya dedikasikan untuk sahabat saya Hera yang meninggal pada 28 Ramadhan 1436 H.

Komentar

share!