Hatiku dan Sebuah Rumah Tua

Karya: Nuriel Nurfa

Sinar mentari mulai menembus kaca jendela kamar tidur ini, hangat terasa di tangan kiriku yang terkena pancaran cahayanya. Ku dengar alunan suara burung di ranting yang memecahkan kesunyian seakan mereka sedang bercengkrama dengan girangannya.



Aku beberapa kali menghirup segarnya udara pagi, sambil sesekali ku pejamkan mataku. Sunggung menenangkan rasanya. Melihat keluar dari  balik jendela yang dihiasi debu kendaraan yang setiap hari melintas. Aku lalu membersihkan jendela kamar yang kotor ini dengan tirai merah jambu yang selalu menemaninya. Tidak peduli siang atau malam, hujan atau panas, mendung atau cerah ia tetap tegantung rapi disana. Mereka selalu bersama, tidak pernah berjauhan walau sejengkal tangan sekali pun.
Akhirnya pandanganku tertuju pada sebuah rumah tua yang berada tepat di seberang jalan depan rumahku. Rumah itu sudah berusia puluhan tahun, kini ia tak lagi berpenghuni. Pintunya terkunci rapat walaupun dinding papannya sudah rapuh dan mulai berlubang. Tepat sekali. Hati ku sama seperti rumah tua itu.
Si pengnuhi rumah adalah penghuni hatiku juga. Saat ia pergi meninggalkan rumahnya berarti ia juga pergi meninggalkan hatiku. Dan hatiku juga sama rapuhnya seperti dinding papan itu, tapi tetap saja, kami harus tetap kokoh untuk penghuni berikutnya. Entah penghuni lama yang akan kembali atau penghuni baru yang akan datang. Kami bahkan tidak bisa memastikannya.  
Jendela kamar inilah yang dulu membantuku melihat aktivitasnya di depan rumah, tanpa ia sadari bahwa ada  seseorang yang sedang mengamatinya dari kejauhan. Ia tetap sama. Lelaki itu adalah sosok pekerja keras dan sangat ramah. Bahkan kadang aku rela berjam-jam harus berdiri  tegak sambil berpangku tangan didepan jendela hanya untuk melihatnya.
“haruskah aku menunggu kepulangannya?, haruskah aku selalu mengingatnya?, haruskah aku, haruskah aku..?” pertanyaan-pertanyaan itu selalu menusuk ke dalam batinku. Sesak sekali rasanya. Bukan sekedar ingin mengucapkannya dengan suara lantang, tapi aku juga ingin segara menemukan jawabannya. Secepatnya, secepat mungkin.
“Jika saja ia tidak kembali, lalu bagaimana dengan penantianmu?” kalimat ini yang selalu diucapkan oleh mereka yang ingin tahu dengan tatapan tajamnya. Namun jawabanku tetap sama “aku akan tetap menunggu sampai ia kembali.”
Sepuluh menit sudah aku berpangku tangan sambil menyandarkan badanku di jendela ini. Apa yang aku lihat masih tetap sama, tidak ada yang membuka dan menutup jendela rumahnya, tidak ada yang membuka pintu karena memang tidak ada seorang pun di rumah itu.
“Ggrrtt..” perutku mulai berteriak keroncongan. Ku pegangi perutku dengan harapan suara itu berhenti dengan sendirinya. Tapi bagaimana mungkin, sejak tadi malam aku belum mengisi perutku dengan nasi, bahkan saat sahur pun aku hanya meneguk secangkir susu coklat hangat. “ Celaka, mungkin puasaku hari ini akan terasa berat.” pikirku dalam hati sambil terus memegangi perut.
“nduk, itu adiknya kak Yanti yang tinggal di depan rumah kita udah punya anak belum? Kabarnya dia nikah setahun yang lalu” suara mama sontak membuat perutku berhenti berbunyi. Sambil menunjuk ke arah sepeda motor yang baru saja melintas dan berhenti di depan rumah tua itu. Lelaki itu turun dan membuka pintu yang sekian lama terkunci. “Aku benar-benar menunggumu kembali” bisikku lirih.

Kembali mengingat apa yang pernah aku fikirkan sebelumnya. Ternyata aku salah. Kami tidaklah sama, hatiku dan rumah tua itu. Saat lelaki itu kembali. kembali ke rumahnya, bukan berarti dia juga kembali ke hati ini. karena sekarang aku tahu, bahwa ada hati lain tempat ia kembali.

Komentar

share!