Bingkai Senyum Dalam Secangkir Kopi

Karya : Nindi Friska
Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Unexpected Ramadhan 2016

“Dunia tak berujung, kemanapun pergi tak akan menemukan suasana yang sama seperti yang kau singgahi sebelumnya. Tapi tetap akan meninggalkan setiap kenangan dalam setiap jejaknya. Begitulah bayangan secangkir kopi yang aromanya menjelma manis menghangatkan dan menggoda mengubah haluan setiap waktunya”

          Ditengah hamparan padi yang sangat luas, nyanyian alam iringi tarian nyiur padi dan kelapa dalam semilir sejuknya hembusan angin sore. Pemandangan di pedesaan memang tiada bisa tertandingi. Gadis berusia 21 tahun dengan menngenakan setelan hijab perlahan menapakan kakinya menelusuri aliran air di sela-sela sawah menuju ke hilir. Setiba di hilir riuh gemericik air sungai yang jernih dihangatkan senyuman ramah sang mentari menyorot bebatuan yang ada didasar sungai. Pemandangan ini begitu menyilaukan mata si gadis yang sudah tak bisa berkata-kata. Semilir angin sore itu menyisir setiap bagian tubuhnya sembari menutup kedua matanya ia merasakan sejuk nuansa nan asri ini.


          Tiba-tiba.. Kring...kring...kring…
          Suara aneh itu semakin keras terdengar di telinga gadis ini yang ternyata sedang bermimpi. Sesegera mungkin ia membuka matanya.
          Debak…bak.debak..puing..puing..
          Buku-buku berjatuhan tepat menimpa kening gadis dan membangunkannya dari alam mimpi.
          “Astagfirullahuladzim…aduh aku benar-benar menyesal memiliki ide meletakan rak buku tepat diatas tempat tidur ku.” Sembari mencoba bangkit gadis ini meraba-raba segala seuatu disekitarnya
          “Ahh.. dapat juga.” Meraih handphone yang berada tepat dibawah bantalnya.
          Eslih begitulah biasanya teman-teman memanggil gadis ceroboh ini. Suasana gelap yang ada di kamar kosnya membuat ia tak bisa melihat apa-apa. Lampu LED** yang ada di handphone-nya segera dinyalakan. Ketika sedang berjalan menuju stop kontak, tiba-tiba handphone-nya kehabisan baterai, iapun hanya meraba-raba dinding untuk meraih stop kontak yang berada yang sebenarnya sangat dekat denganya itu.
          Wushh...
          Cahaya lampu menerangi setiap sudut yang ada di kamar kosnya. Semua barang-barang tidak ada yang tertata dengan baik. Jika ditanya selalu menjawab dengan santai.
          “Yah..beginilah hidup anak kos, nanti juga bisa dirapiin kalau udah waktunya,hehe” Menjadikan kehidupan anak kos sebagai alasan kecerobohannya.
          Jam dinding menunjukan pukul 03.00, menunjukan tiba waktu sahur puasa ke-11. Dia memeriksa persediaan makanan apa yang sekarang siap untuk disantap. Matanya terbelalak saat melihat hanya masih ada satu bungkus mie instan dan dua bungkus kopi instan.
          Tukk..tuk..tuk
          “Assalamualaikum , Eslihh”
          Terdengar seseorang mengetuk pintunya sambil memanggilnya. Ia yang sedang memasak mie instan segera membukakan pintu. Ternyata itu adalah Sila teman kamar sebelah yang ingin mengajaknya sahur bersama. Ternyata Sila  membawakan sebungkus gorengan dingin yang ia beli tadi malam. Piringpun diambil untuk dijadikan wadah gorengan tadi. Eslih masih memasak mie instan sedangkan Sila duduk diatas sehelai tikar menunggunya memasak.
          “Eslih, ntar minta mie juga ya, sama sekalian bikini kopi ya .. makasih”, sembari tersenyum lebar.
          Entah sebuah permintaan tolong atau sebuah pemaksaan, tetapi Eslih tetap mengiyakan permintan temannya itu di tengah krisis persediaan makananya itu. Merekapun santap sahur bersama. Seusai sahur mereka berangkat ke mushola yang berada tak  jauh dari kos tempat mereka tinggal untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah disana.
          Eslih melakukan rutinitasnya tadarus sembari menunggu pagi. Sinar matahari terbit daari ufuk timur menyinari kamar kosnya melintasi kaca jendela. Eslih berangkat bekerja ke kantor yang tak terlalu jauh dengan kosnya jika di jangkau dengan sepeda motor. Ditengah perjalanan Eslih menebar senyum yang sebenarnya tidak bisa dilihat orang lain Karena ia mengenakan helm berkaca gelap. Setibanya di kantor dan duduk di kursi dan mejanya semua pekerjaannya menumpuk menunggu untuk di kerjakan. Ia masih harus mengurus ekspor timah dan transaksi yang menuntut ia harus bolak balik Bank.
          “Elsih,hari ini kamu nggak bisa diantar sopir ke Bank, jadi hari ini terpaksa kamu harus pakai kendaraan pribadi yaa.” Jelas salah satu manager di kantornya.
          “Ooh, iya pak gapapa”
          “Iya, silahkan bekerja.”
          Senyumpun dibalas oleh eslih kepada managernya, degan setengah terpaksa menggunakan motor Eslih pergi ke berbagai Bank untuk mengurus transaksi perusahaan.
          “Ini kali keberapa coba , aku ke bank hari ini.” Keluhnya dalam hati.
          Saat tiba di tempat parkir di tengah panas matahari yang tepat berada diatas kepalanya. Seorang ibu-ibu yang memarkir motor disampingnya terlihat kesusahan karena nampaknya ban motornya bocor.
          “Assalamualaikum, bu ada apa dengan motornya?”
          “Ini nak, gak tahu kayaknya bocor deh padahal tadi gak apa-apa”
          “Waduh buk , kalo gitu bawa ke bengkel aja ga jauh dari bank ada bengkel kok . ayo saya bantu antar buk”
          “Yaa udah  boleh-boleh ,makasih ya nak.”
          Elsih segera mengantar ibu tadi dengan mengikatkan tali dari motor ibu itu dan motornya. Setiba di bengkel,
          “Ini buk bengkel yang aku bilang tadi.”
          “ooh, iya dek . makasih yaa udah di anterin. Ini untuk beli takjil nanti.” Ibu itu memberikan uang kepada Elsih sebagai ucapan terimakasihnya.
          “Aduh , gak usah buk gapapa ikhlas kok saya bantuin ibu”
          Setengah memaksa ibu itu langsung pergi setelah memasukan uang di kantong Eslih.
          “Ya udah bu, makasih banyak.”
          Tepat pukul 15.16 wajah kusut Eslih menghiasi raut wajah Eslih yang seharian bolak balik kantor dan Bank sejak pagi. Ia menapaki masjid yang berada dekat kantornya untuk menunaikan shalat Ashar di sana. Selepas shalat ia pun segera pulang ke kosnya tetapi di tengah perjalanan dia melihat seorang anak yang terjatuh dari sepeda. Seketika ia menghentikan motornya dan segera menolong anak itu.
          “Dek, kok bisa jatuh kenapa? Kenapa nggak minta tolong.”
          “Hiks..hikss. itu tadi ada bapak-bapak yang nabrak, cuma nggak mau nolongin kak”
          “Yaudah sini kakak anterin kerumah sepedanya disini aja dulu , ntar biar orang tuanya yang ambil kamu nggak bisa makek sepeda deh kayaknya, tangan kamu terkilir”, sambil memeriksa tangan anak itu.
          “Iya kak rumah ku di  Graha puri kak”
          “Waduh lumayan jauh juga ya,”
          Setibanya dirumah itu orang tua anak itu sempat menyalahkan Eslih
          “Waduh dio kenapa kamu bisa gini, kamu apain anak saya ?” Orang tua anak itu terkejut dan sempat menyalahkan Eslih.
          “Bukan bun, malahan kakak ini yang bantuin aku”
          “Oh jadi gitu , ya udah dek makasih ya, namanya siapa?”
          “Iya buk , sama-sama. Saya Eslih buk”
          “Ya udah kalo gitu ayo masuk dulu kita buka bersama, udah mau maghrib nih”
          Langit senja menyapu cerahnya awan sore itu. Terdengar bedug dan adzan maghrib yang berkumandang tanda buka puasa hari ini  tiba
          “Alhamdulillah”
          Eslih di ajak keluarga anak yang ditolongnya tadi untuk berbuka bersama di rumahnya. Kehangatan keluarga itu mengingatkannya akan keluarganya yang ada di kampong. Ia menyantap semua makanan yang disajikan oleh keluarga anak itu. Disuguhkan kepadanya secangkir kopi. Ia bersyukur bahwa masih bisa merasakan nikmat berpuasa hari itu. Eslih tersenyum teriring aroma kopi menghiasi bingkai senyum wajahnya yang terpancar dalam hangat secangkir kopi.

_________________
*    (light emitting diode) cahaya monokromatik (Inggris)

Komentar

share!