Aku, hidup senang

Karya: Imam Abdillah

Pada Ramadhan di tahun 4099, aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor lebah. Aku keluar dari telur berselimut sutra yang dibuat oleh entah siapa disana. Tubuhnya sama denganku, hanya saja lebih besar. Aku Berjalan keluar sarang ketika sudah mantap untuk bisa terbang , menuju lubang cahaya di ujung sana. Kusaksikan sinar terang mentari semakin menyengat. Berbeda dengan ketika aku hidup dulu. Gedung-gedung disini pun sudah sangat menjulang tinggi mengais langit. Masjid-masjid menjulang tinggi mencakar langitpun banyak .Kendaraan-kendaraan berlalu lalang menggunakan tenaga gravitasi mungkin.. Karena yang aku lihat, semua kendaraan benar-benar mengapung. Seperti awan di langit.



 Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. Kota di mana bertahun-tahun lampau, dalam kehidupanku yang lain, aku pernah begitu mencintainya.
Dulu aku memang sangat berharap, aku ingin dilahirkan kembali di kota ini, tidak lagi sebagai bocah dungu yang sering diejek atau dilempari kotoran. Aku tak pernah mengerti, kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Seharusnya ganggu saja orang gila baru di kota ini. Yang memang terlihat lucu bila diejek. Bila kau mengejek, ia akan mengejar. Sama seperti permainan bocah, kejar-kejaran.
Mungkin pikir mereka, aku lebih dungu dari orang gila itu. Lihat saja aku. Bocah idiot yang sering mengelap ingus dengan tangan. Bekasnya masih terlihatpun di pipi. Atau mungkin, memang aku yang bisa membuat senang di mata mereka?
Tentang aku sebagai orang dungu. Itu tak sepenuhnya benar.
"Jika satu telur di tambah lima telur. Berapa semuanya?"
“Tiga..” Jawabku sambil melihatkan empat jari terangkat
Seisi kelas tertawa
“Kalau satu kacang di tambah dua kacang?”
“Tiga..” Jawabku sambil melihatkan empat jari terangkat
Mereka semua kembali tertawa. Aku ikut tertawa. Salah satu dari mereka ada yang mengatakan “Orang dungu sepertimu tak pantas hidup” Perkataan itu bahkan tak membuatku sakit. Aku hanya menghiraukankanya. Membiarkan semua orang mengejekku.
Aku tak seperti orang gila di kota itu, yang bila diejek langsung mengejar. Marah. Tentang perasaan, aku selalu bertanya-tanya. Apa itu perasaan? Apakah aku mempunyainya?. Kata perempuan sebangkuku, perasaan itu semacam: marah, senang, bahagia, dan cinta. Aku tak pernah merasakan hal seperti itu. Waktu aku tertawapun, aku hanya mengikuti orang-orang. Tak ada rasa bahagia di dalamnya.
Mungkin itulah mengapa aku di sibut idiot. Aku jadi benci tentang menjadi diriku sendiri. Menjadi bahan injakan banyak orang. Di remehkan, di permalukan. Layaknya pelacur berdada rata. Tak berguna. Sampai suatu hari puasa saat itu aku bertanya pada ayah tentang binatang yang aku pun belum tahu namanya,
“ Ayah itu apa?”. Kataku sambil memasukan jari ke mulut
“Itu Lebah”
“ Aku mau menjadi lebah. Dia hebat. Bisa terbang ke angkasa tanpa batas.”
“ Berarti kau harus siap untuk bisa memberi hidup orang menjadi manis. Lebah membuat madu dengan tanganya sendiri dan di berikan untuk semua makhluk yang menginginkanya. Menjadi lebah itu tugas mulia. Apalagi dalam bulan yang suci ini” Ayah berbicara panjang lebar. Aku tak mengerti.
Aku hanya berfikir kala itu. Betapa menyenangkan jadi lebah. Aku sering bertemu dengan binatang yang di sebut lebah itu. Di taman bunga, di pohon belimbing, dan di pekarangan hutan. Aku juga sering mendengar teman-temanku berbicara tentang madu yang dihasilkan lebah. Katanya sangat manis, karena di buat dengan tangan-tangan mungil mereka. Kurasakan, betapa orang-orang lebih menyukai lebah ketimbang diriku yang tak berguna. Yang di pandang sebelah mata, tak punya reputasi
Itulah mengapa aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi lebah. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor lebah di Bulan yang suci, Agar kelahiranku benar-benar berguna
Teman-temanku hinggap pada bunga nya masin-masing. Tinggal aku sendiri yang belum menemukan bunga ku. Mungkin di ujung sana ada. Tapi di sana ada banyak sekali anak-anak. Biarlah, bukankah banyak orang yang menyukai lebah? Seperti diriku sekarang?
Seorang anak mendekatiku. “Hey ada lebah!” teriak anak kecil berkepang dua. Teman-temanya yang sedang bermain jungkat-jungkit berhenti seketika. Menghampiri anak berkepang dua. Menghampiriku. “Ayo keluarkan madu!” sorak semua anak bergantian. Mengeluarkan madu? Bagaimana? Aku kan baru saja terlahir ke dunia ini. Mungkin bisa, karena aku tadi melihat teman-teman lain mengambil madu dengan cara menariknya dari dalam bunga. Aku berbisik ke telinga semua anak “Aku akan mengambilnya dulu”. Mereka mengangguk.
Ada bunga putih di ujung sana. Terlihat belum disentuh siapapun. Aku menghampiri bunga itu, dan mencoba apa yang teman-teman lakukan. Dan hasilnya? Aku mendapat banyak. Tidak terlalu rumit ternyata.
“Buka semua mulut kalian” Aku berkata setengah berbisik. Mereka melakukanya. Tetes demi tetes aku beri semua mulut dengan madu yang sudah terkumpul di kantung. Mereka semua senang. Bahagia. Aku pun. Baru kali ini aku sebahagia ini. “Madu akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis, dan perlu kamu nikmati. Kata gadis berkepang dua. “ Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis, penuh kebahagiaan dan menyenangkan seperti madu”. Aku pergi. Mencari orang yang tak bahagia. Kelak aku akan membuatnya bahagia.
Kudengar takbir dari bangunan berkubah sana. Orang orang ramai memasuki masjid. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Bunyi takbir seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan takbir di bangunan berkubah. Aku tiba-tiba terkenang pada bangunan berkubah yang dulu sering aku singgahi. Aku senang dan merasa tenang bila mendengar suara takbir yang mengapung menggetarkan udara senja. Itulah mengapa dulu kota ini di sebut kota seribu takbir.
Ibu pernah bercerita, betapa dulu, setiap menjelang Ramadhan, kota ini selalu didatangi banyak sekali lebah. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan, Nak. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh perbukitan dan kabut yang perlahan-lahan menyingkap, kau bisa menyaksikan serombongan lebah yang masing-masing memikul kantung-kantung madu muncul dari balik lekuk bukit. anak-anak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. “Hore, kumpulan lebah datang!  Kebahagiaan Ramadhan akan muncul kembali di kota ini!” seakan jika kumpulan lebah itu tak datang. Akan menjadi kesunyian bagi mereka semua.
Selalu menyenangkan melihat kumpulan lebah itu bekerja. Bekerja untuk kesenangan orang lain. Seperti tukang sulap yang membuat takjub para penonton. Tidak seperti diriku yang dulu ketika kesedihan datang di daerah ini, adalah aku orang yang tak tahu apa itu kesedihan. Tak mengerti apapun, tentang perasaan. Sehingga membuat orang tuaku semakin bersedih. Tak bernada, tak bersua. Dan aku pun selalu membenci diriku sendiri.
Waktu sudah senja, sang mentari terlihat lesu seperti terlalu lelah memberi banyak cahaya dari fajar hingga saat ini. “Ayo kembali ke rumah” sapa temanku yang membawa kantung madu berisi penuh. Aku mengangguk. Menjadi hidup kembali ternyata sangat menyenangkan, terlebih diriku yang sekarang menjadi lebah. Aku bersyukur tidak kembali ke dunia menjadi anak dungu lagi. Tuhan sangat baik. Mengabulkan doa  hamba yang meminta.
“Aku membutuhkanmu untuk menyembuhkan penyakit seseorang” kata seorang petani yang membuatku berhenti melaju ke sarang. Aku menurut, betapa tidak? Sudah menjadi tugasku untuk membuat orang lain bahagia bukan? Ini seperti kau di tugaskan ibumu untuk membeli telur di pasar. Kau pasti akan menurutinya karena ia ibumu. Karena kau ingin ibumu bahagia di belikan telur.
Petani itu membawaku ke suatu rumah, hanya ada satu orang di dalamnya. Mungkin itu orang yang sakit itu. Aku bertanya kepada petani itukah orang yang membutuhkanku? Ia mengangguk. Kau harus rela mati untuk membahagiakan orang ini. Kalimat petani membuatku tersentak kaget. Haruskah begitu? Petani itu mengangguk. Ah, aku berfikir. Membuat hidup orang lain senang memang membahagiakan, sama saja jika kau seorang prajurit yang menyelamatkan raja dari serangan panah sampai kau mati. Raja pasti akan bangga melihatmu sebagai prajuritnya. Ini memang tugas menjadi seekor lebah, tapi aku baru hidup belum genap satu haripun. Kau tahu? Ketika aku menjadi seorang anak ingusan yang dungu. Aku mati dengan cara yang bodoh pun. Aku di suruh oleh seseorang untuk mengambil dompet seorang wanita di pasar, karena ia mengaku bahwa itu adalah dompetnya yang di curi. Namun ketika aku mengambil dompet dari wanita itu, ia menjerit mengatakan kalau aku seorang pencopet. Seluruh orang di pasar memukuliku sambil berkata “ kau tak pantas hidup”. Sampai mati. Namun yang aku fikirkan adalah betapa nikmatnya bernafas, walau menjadi dungu seperti dulu pun.
Dan jika aku mati sekarang, pasti akan mati untuk selamanya. Jiwaku akan mengambang di angkasa tak akan pernah masuk kedalam raga yang baru lahir. Karena aku belum mengharapkan apapun pada tuhan untuk hidup lagi. Namun aku senang. membuat bahagia siapapun itu, tak merugikan diriku sendiri. Layaknya kau menanam benih, lalu kau menyiramnya sehingga ia berbuah lebat. Kau pasti akan merasa lebih senang dari pohon itu.

Sang petani mengambilku, dan menancapkan hidupku untuk seseorang yang sedang sakit disana. Aku senang. Karena hidupku akan menjadi hidup baginya.

Komentar

share!