TERJEBAK HUJAN

Yuk kirimkan naskahmu ke Kafe Kopi!


Karya: PUTRA DEWANGGA CANDRA SETA (Penulis Lepas)

“Dew, sepertinya kita tak bisa bersama lagi, aku telah dijodohkan dengan pria lain.” Kalimat itu teringat jelas di benakku. Meskipun hanya terucap sekali dan itu pun sudah dua tahun yang lalu. Tak henti-hentinya kalimat itu terucap seiring dengan suara hujan yang turun tiada henti. Ku hela nafas panjang, ku pejamkan mataku untuk menghilangkan memori itu. Tiap orang punya situasi khusus yang mengingatkan mereka pada masa lalu. Dan situasi khusus ku adalah saat hujan. Sudah hampir setengah jam aku menunggu hujan ini reda. Dan sudah hampir setengah jam pula kalimat itu terus terucap di benakku.



“Putra Dewangga Candra Seta” Teriak seseorang dari belakangku. Aku pun tersentak dan langsung mencari sumber suara itu.
“Kamu ndak dengar aku memanggilmu dari tadi?” Ujar anastya dengan nada tinggi. Ya ampun parah sekali lamunanku. Sampai-sampai aku tak dengar ada yang memanggilku.
“Eh anastya, maaf aku tadi lagi…”
“Udah lupakan, ayo pulang bareng aku. Sepertinya hujannya akan lama.” Ujar anastya memotong. Belum sempat aku menjawab udah main potong aja.
 “Kamu nunggu apasih?, ayoooo” Ujar anastya kesal. Astaga aku mulai lagi deh. Hujan benar-benar menghipnotis memori masa lalu ku.
“Ah ndak apa-apa, ayo kita pulang” Ujarku sambil tersenyum. Saat di mobil pun aku tak banyak bicara. Yang ku lakukan hanya memandangi hujan lewat kaca mobil. Anastya yang biasanya ngoceh sepanjang jalan kini dia diam sambil sesekali memandangiku. Sepertinya dia menyadari bahwa ada yang tak beres denganku.
Entah sejak kapan aku mulai membenci hujan. Karena itu selalu mengingatkanku pada masa lalu. Masa lalu yang harusnya ku hapus, masa lalu yang harusnya ku buang. Tapi ketika mata ini memandang tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit, kenangan itu bangkit. Kebencian, kesedihan, kekecewaan, entah apa lagi bercampur baur di benakku. Ku pikir aku bisa bangkit, ku pikir kenangan itu hanya kisah cengeng sinetron, tapi nyatanya aku masih bisa terjebak di kenangan itu.
Keesokan harinya aku kuliah seperti biasa. Aku hanya mahasiswa biasa dengan kehidupan yang biasa. Kuliah, berteman, berorganisasi, pokoknya hal-hal yang wajar dilakukan oleh seorang mahasiswa. Orang-orang memandangku biasa saja, tapi sebenarnya aku hanya lah raga yang jiwanya terjebak di masa lalu. Yang mereka lihat adalah raga ku yang telah bangkit, tapi jiwaku seperti kena kutukan masa lalu. Dan hari itu kutukan datang lagi, hujan mulai turun dengan derasnya. Seperti biasa aku harus menunggu hujan reda. Aku berjalan menuju tempat biasanya aku menanti hujan reda. Aku agak terkejut, ternyata anastya juga duduk disana.
“Eh anastya, tumben kamu ada disini.” Ujarku sambil duduk di sampingnya.
“Iya dew, aku nunggu kamu soalnya.” Ujarnya dengan wajah agak serius. Tapi memang anastya wajahnya selalu serius. Meskipun begitu dia adalah sahabat baikku sejak masuk ke perguruan tinggi ini.
“Eh nunggu aku?, ada apa ya?” Ujarku penasaran. Tiba – tiba Anastya menarik tanganku dan mengajakku menaiki tangga.
“Ikut aku ke laboratorium.” Ujarnya tanpa memandangku sedikitpun. Yaelaah, kirain ada hal penting apaan, ternyata cuma minta ditemenin ke laboratorium. Sebenarnya kalau dilihat-lihat kami seperti orang pacaran, kemana-mana selalu berdua. Tapi mau gimana lagi, meskipun aku tak pernah milih-milih teman ngobrol, tapi sahabat yang selalu ada untukku adalah dia. Sedangkan Anastya sendiri, dia ndak pernah dekat dengan orang lain selain aku. Akhirnya kami pun melakukan segalanya bersama-sama.
Akhirnya sore itu pun aku bantu-bantu Anastya di laboratorium. Tak terasa hari itu kami di laboratorium sampai larut malam, dan suasana terasa sepi. Tiba-tiba muncul ide jahilku untuk mengerjai Anastya.
“Eh an, kamu hati-hati lho kalau lewat jembatan kecil dekat perumdos.” Ujarku mulai iseng.
“Hah?, kenapa emangnya dew?” Ujarnya sambil mendekat. Sepertinya dia udah mulai merasa takut, jebakanku berhasil.
“Iya disitu sering ada yang melihat penampakan pocong.” Ujarku sambil berbisik. Dia pun mulai mendekatiku sambil memegangi lenganku.
“Duh dew, kamu jangan bikin aku takut. Gak berani pulang aku ntar.” Ujarnya ketakutan.
“Tapi kamu gausah takut, ntar pulangmu tak antar aja.” Ujarku sambil menepuk dada.
“Dasaaaaar, bilang aja mau nyari kesempatan.’ Ujarnya sambil menjitak kepalaku. Kami pun tertawa lepas. Padahal baru tadi siang aku galau gara-gara hujan, sekarang dia sudah bisa membuatku tertawa dan melupakan semuanya.
“Dew, kamu sadar ndak aku berusaha menjauhkanmu dari hujan?” Ujarnya singkat dan lembut.
 “Heh? hujan? maksudmu apasih?.” Ujarku tak mengerti. Aku semakin bingung, kenapa suasananya semakin tegang gini ya.
“Apa ada yang salah dengan hujan ini dew? apa ada yang kau ingat dari hujan ini?. Aku merasakan caramu memandang hujan ini. Seperti kebencian, kekecewaan dan kenangan. Aku merasa kau tersiksa dengan hujan ini.” Ujarnya sambil menatapku tajam. Aku terdiam, bagaimana dia bisa tahu perasaanku, bagaimana dia bisa tahu semua itu. Apa aku harus menceritakannya? Apa aku harus berbagi perasaan ini dengannya? belum pernah aku menceritakan hal ini pada siapa pun.
“Aku gapapa an, mungkin Cuma perasaanmu aja.heheheh” Ujarku sambil tersenyum memaksa.
“Bohong. Hentikan senyum palsumu itu dew. Kau tak perlu memakai topeng di hadapanku. Aku sudah lama mengenalmu. Aku tak akan membiarkanmu tersiksa seperti itu. Aku ingin kamu berbagi perasaanmu denganku.” Ujar anastya dengan nada tinggi. Tak seperti biasanya anastya semarah itu. Aku pun menghela nafas panjang. Sepertinya aku memang harus bercerita padanya. Selama ini aku yang selalu mendengarkan ceritanya dan memberikan saran atas masalah-masalahnya. Mungkin ini saatnya aku cerita,
Dua tahun lalu saat aku masih duduk di bangku SMA, aku mengalami kecelakaan motor. Aku menghantam sebuah truck di jalan raya. Aku terluka cukup parah, rahangku patah dan beberapa luka jahit. Setelah dirawat di rumah sakit, dokter menyatakan aku mengalami gegar otak ringan dan rahangku harus dioperasi. Aku merasa lemah sekali pada waktu itu, rahangku dikunci dan tidak boleh dibuka selama 3 bulan. Karena gegar otak, aku menjadi sulit untuk bangun dan mengangkat kepalaku. Yang bisa ku lakukan hanya tergeletak di tempat tidur. Aku merasa sendiri, menahan rasa sakit di tubuhku. Saat kritis itulah datang seorang perempuan yang merawatku. Dia adalah temanku saat SMP, kebetulan orang tuanya berteman baik dengan orang tua ku. Setiap hari dia selalu datang untuk menyemangatiku dan menghiburku. Dia seolah-olah selalu ada selama aku terbaring di tempat tidur. Hingga akhirnya aku merasa dia adalah perempuan yang cocok untuk menemani hidupku. Kami pun berpacaran. Dia selalu ada saat aku butuh, dan aku juga berusaha ada disaat dia butuh. Bahkan disaat ayahku meninggal, disaat aku berusaha terlihat tegar didepan keluarga dan teman-temanku. Tapi hanya dihadapan dia aku menangis, menumpahkan perasaan sedih ini. Hanya dihadapan dia aku tak memakai topeng, hanya dihadapan dia aku menunjukkan kelemahanku. Selama ada dia, aku bisa melewati semuanya. Hingga suatu ketika, disaat hujan seperti ini semuanya lenyap. Banyak hal yang dia katakan saat itu, tapi hanya satu kalimat yang ku ingat,  “Dew, sepertinya kita tak bisa bersama lagi, aku telah dijodohkan dengan pria lain”. Aku begitu tersayat dengan kalimat itu. Hujan yang mengenai tubuhku serasa seperti sayatan. Aku hanya bisa terdiam, bagaimana mungkin dia bisa meninggalkanku begitu saja. Hujan yang turun membawa luka yang perih, tapi hujan juga membasuhku membawa pergi luka dan kenangan ini. Dia pergi, dan aku masih terdiam disitu. Aku berusaha untuk bangkit, meskipun itu sampai hujan reda. Udara dingin seketika membekukan hatiku. Semenjak saat itu aku sudah tak berhubungan lagi dengannya, dia benar-benar telah pergi.
“Begitulah an, itulah mengapa aku selalu memandangi hujan. Karena memang hujan membawa kembali rasa sakit yang dulu pernah dibawanya. Aku serasa terjebak hujan, terjebak masa lalu. Tiada lagi tempatku untuk berteduh, tak ada yang membawaku berteduh, sampai sekarang. Sakit dan dingin.” Ujarku mengakhiri cerita.
Entah apa yang dipikirannya aku tak peduli, yang penting aku telah menceritakan semua. Aku pun memandanginya, ingin tahu apa jawabannya buatku. Apakah dia akan menceramahiku seperti aku menceramahinya, atau apalah terserah. Dia lama sekali terdiam,
“Kamu kenapa an? sakit?” Ujarku tak mengerti. Dia pun hanya menggelengkan kepala. Entah kenapa tiba-tiba dia menjadi diam dan lesu. Dalam hati kecilku sebenarnya sudah ingin move on ke Anastya. Tapi aku takut semua berubah, aku tak punya sahabat lagi selain dia. Kalau aku menyatakan cintaku padanya, aku takut hubungan kita tak lagi sama seperti sebelum-sebelumnya. Jangan pacaran dengan sahabat sendiri, karena jika putus maka kita akan kehilangan pacar sekaligus sahabat. Tapi aku juga tak mau menyesalinya. Mungkin ketika kelak aku tua dan terbaring di rumah sakit akan menyesali kesempatan ini. Anastya sudah dekat denganku, sekarang sedang berada di hadapanku dan situasinya sangat mendukung, jika aku punya keberanian sedikit saja untuk mengatakannya maka hidupku akan berubah.
“Berteduh yuk dew.” Ujarnya singkat sambil tersenyum. Aku hanya bisa bengong dengan jawabannya. Aku tak menjawab apa-apa. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.
Aku memutuskan untuk berjuang sekali lagi, memberi ruang untuk anastya di hatiku. Kini hujan telah reda, meskipun hujan datang lagi, anastya akan selalu mengajakku berteduh. Sehingga hatiku tak sakit dan dingin lagi. (dwg)

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!