Takkan Kuulangi Kembali

Karya: Freshyama Daniar Rosy


Malam itu adalah malam yang membuatku bingung dengan berbagai kuliah pengganti akan dilaksanakan dua hari ke depan. Libur di tengah bulan Ramadhan menyenangkan, tapi bagiku itu adalah hal yang patut dilelahkan saat menggantikannya kelak. Tumpukan buku yang berkeliaran di atas kasur, laptop yang terus menyala hampir 24 jam, dan handphone yang sering berdering, semua seakan dunia hanya milikku. Aku tak peduli dengan apa yang bertebaran di atas kasurku, yang aku pedulikan adalah tugasku terselesaikan dalam beberapa hari sebelum pulang. Waktu pulang yang kutunggu membuat semua deadline tugasku menjadi lebih awal. Tidur larut malam kini menjadi hal yang biasa aku lakukan. Terlebih saat aku menginjakkan kaki di perantauan dan memasuki jenjang perkuliahan.



            Syukurnya, mendekati waktu Ramadhan semua praktikum di perkuliahan telah selesai dan hanya responsi praktikum atau dapat dikatakan ujian praktikum. Tetap ini adalah tugas yang berat di bulan suci tanpa orang tua di samping. Tahun ini menurutku adalah tahun yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Jauh dari dekapan bahkan dukungan orang tua membuatku berpikir dua kali saat terlalu sering keluar rumah saat waktu pulang. Tapi, kini aku jadi mengerti pentingnya sebuah keluarga, tawa dan cerita dalam komunikasi keluarga. Siapa sangka, aku yang dahulu terkadang disuapi ketika sarapan dan ditemani ketika tidur, tahun ini aku menjadi pribadi baru yang lebih dewasa.
            Kedua mataku tak kuat lagi untuk berkutat dengan sinar laptop yang memancar pada pukul 11 malam. Aku tertidur dengan posisi yang seadanya karena sudah terlalu lelah. Tepat pada pukul 03.00 alarm handphoneku berbunyi. Waktunya bangun untuk bergegas menyiapkan makan sendiri, tapi saat itu aku sedang berhalangan untuk puasa. Mau tidak mau aku mengikuti alur seperti orang puasa yang makan pada saat sahur tiba. Getaran handphone terus menyahut seperti tiada henti, tidakkah dia tahu bahwa mataku yang masih setengah menempel antara kelopak atas dan bawah. Pikiranku masih setengah dalam keadaan tertidur pulas. Lagi – lagi tugas adalah penyebab aku kelelahan. Setelah selesai makan, aku kembali tertidur kembali dan akan bangun pada pukul 5 pagi.
            Alarm berbunyi kembali seperti suara kokokan ayam yang memekak telingaku. Tepat pada hari ke-11 Ramadhan atau pada Jumat 17 Juni 2016, aku seorang anak kost salah satu universitas di Jawa Tengah ini seperti biasa menjalankan rutinitas. Pagi hari aku rapikan buku dan tempat pensil ke dalam tas. Merapikan diri, mencuci pakaian, dan menjemurnya adalah hal yang hampir satu tahun ini aku lakukan. Terkadang rasa malas mendera diriku ketika kuliah pagi, ya di saat masuk pukul 7. Kukira kuliah tidak seperti anak SMA yang masuk jam 7 pagi dan sore hari baru pulang, tapi dua semester ini aku layaknya seorang anak SMA.
            Setengah jam sebelum masuk aku segera bergegas untuk berangkat. Seperti biasa, aku berangkat ke kampus bersama temanku. Setibanya di kampus, mata kuliah pertama dengan presentasi. Semua temanku panik karena itu adalah presentasi terakhir sebelum memasuki waktu UAS pada bulan Juli, tidak menyenangkan saat semua kampus lain UAS sebelum lebaran, tapi fakultasku tidak demikian. Beberapa saat kemudian, dosen yang mengajar datang dengan wajah berseri. Entah pertanda apa hari itu. Kelompokku maju presentasi urutan keempat, untung saja yang maju bukan aku tapi hanya perwakilan dari kelompokku. Selesai mata kuliah tersebut, aku dan teman – temanku melepas panik dan kepenatan karena mata kuliah yang kami pikir horor itu telah selesai dilalui.
            Belum selesai kuliah hari itu, masih ada dua mata kuliah yang akan kulalui. Terdapat waktu jeda untuk memasuki jam berikutnya, aku dan teman – temanku ke kost teman yang terdekat untuk beristirahat. Tak disangka, waktu istirahat tersita dengan menonton film selayaknya di bioskop, film horor lagi – lagi. Aku si penakut dengan horor seperti biasa menutup mataku dengan beberapa jari yang bercelah. Hingga waktu menunjukkan pukul 09.50, mata kami tak ingin tertinggal sedetik pun oleh film tersebut. Tapi apa boleh buat, mata kuliah masih ada dua yang belum terlewati. Salah satu temanku telah mengajak untuk ke kampus segera, tapi kedua temanku menundanya hingga waktu menunjukkan pukul 10. Aku dan seorang temanku berangkat menuju kampus dengan berjalan kaki, ketiga temanku naik motor dengan bonceng tiga itu bukan suatu yang tak pernah terjadi, lagi – lagi karena kampus tak jauh dari kostan. Pukul 10 waktunya masuk, aku dan temanku belum sampai kampus.

            Sesampai di kampus, aku lupa ruangan berapa yang dipakai untuk mata kuliah itu karena bukan jam dan ruang yang biasanya, itu merupakan kuliah pengganti. Benar saja, temanku juga lupa dengan ruangan. “Kita sih ruang berapa ya?”, tanya temanku. Aku sontak baru berpikir kenapa tadi tidak bertanya pada ketiga temanku, mereka telah sampai ke ruangan terlebih dahulu. Seperti orang yang tak jelas tujuan, aku dan temanku mencari kontak teman kami yang telah ada di ruangan. Setelah tiba di depan kelas, aku dan temanku terlambat 15 menit. Mungkin bisa saja kami masuk ruangan, tapi aku dan temanku tahu bahwa dosen kali itu sedikit pedas untuk menyapa mahasiswanya yang telat. Rasa bimbang menghantui kami, antara masuk dengan sapaan yang pedas serta rasa malu atau bolos di mata kuliah itu saja. Akhirnya kami sepakat untuk bolos saja daripada menahan malu di depan dosen karena kami tidak biasanya telat. Melelahkan rasanya karena baru saja sampai tujuan, tak lama kembali lagi ke rumah kostan temanku itu. Rasa sesal menghantui kami berdua, kenapa kami tidak pergi ke kampus terlebih dahulu dibandingkan ketiga temanku yang lain. Tidak akan kuulangi kembali hari itu, cukup hari itu sebagai pengalaman berharga untuk hidupku dan temanku.

Komentar

share!