Sepotong Dilema

Karya : Kopi Hitam
Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Unexpected Ramadhan 2016

“Mau cokelatnya, mbak?”
            Wanita manis itu menegur, ia tersenyum sambil menyodorkan sebungkus cokelat crakers untukku. Aku mengangguk, balas tersenyum, kemudian menerimanya. Busway ini masih sibuk menaikan penumpang, azan maghrib masih terdengar samar berkumandang disekeliling.


            “Terimakasih, mbak..” ucapku sambil membuka bungkus crackers cokelat ini, manis dan enak sekali.
            Wanita itu masih memperhatikanku, sembari tersenyum. Sebelum duduk bersebelahan di busway ini, kami sudah saling melihat saat menunggu dihalte tadi, sampai adzan maghrib pertama berkumandang lantang dan penantian duabelas jam puasa akhirnya usai sudah. Aku sempat menawarinya minuman, tetapi ia enggan.
            Busway mulai berjalan, operator besuara wanita menyebutkan destinasi berikutnya. Aku bersandar, ini Ramadhan pertama yang aku lewati dengan berkerja. Bukan, bukan praktek kerja lapangan seperti waktu di Sekolah Menengah Kejuruan kemarin, tetapi hari ini aku benar-benar melewati hidup sebagai seorang karyawati, berangkat pagi-pagi, pulang sore hari. Kadang-kadang aku rindu sinar matahari, karena semenjak harus menjalani rutinitas yang berbeda, betapa jarang aku menyapa dan menemuinya.
            Tetapi ada yang berbeda di Ramadhan ini. Kebahagian yang tidak seutuh Ramadhan kemarin, dilema, rasa rindu kepada sejurus biru yang tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya, hingga tentang mimpi-mimpi masa sekolah, ada gelisah yang menggantung, dihening dan dingin busway itu aku terjaga.
*
            Aku tidak ingat dengan diriku sendiri yang penuh dengan mimpi, saat aku masih sesosok remaja putri berseragam putih abu-abu yang isi harinya penuh dengan tugas, kerja kelompok, urusan organisasi, teman-teman yang menyenangkan, wifi gratisan, juga serial-serial anime dan jalan-jalan. Mimpi besarku adalah lulus dengan nilai terbaik—walaupun aku punya otak pas-pasan—dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, teman-temanku banyak memiringkan alisnya ketika mendengar aku akan memilih mengambil studi Sastra Indonesia, sebuah pilihan yang cukup menyimpang saat mengetahui aku berasal dari latar belakang Bisnis dan Manajemen. Tetapi buatku, itu tidak masalah.
            Kemudian hari-hari berlalu begitu saja, jejak perjalanan terekam dalam memori, tinggal dibelakang dan hanya bisa diingat. Aku tidak mengenali lagi sosok remaja putri yang dulu penuh semangat itu, karena kini semuanya berbalik menjadi tidak mudah.
            Ramadhan yang penuh dilema.
Dulu, saat masih bisa berkumpul dengan teman-teman, aku akan seru bercerita soal keinginan untuk berkerja sambil kuliah, semasa menceritakannya yang teringat hanya rasa senang dan bahagia, lalu aku berpikir akan lebih mudah untuk memiliki waktu menulis yang banyak, karena setelah lulus nanti, aku tidak akan disibukkan lagi dengan tugas sekolah. Ah…. Naif sekali. Lalu mengapa dunia berkata hal lain yang tidak sejalan dengan inginku?
            “Ma, ongkos Nur sudah habis” untuk berkata begitu, aku butuh mengumpulkan keberanian lama, aku tidak pernah suka melihat wajah ibuku yang ragu karena uang belanjanya juga sudah mulai menipis.
Tekadku sejak awal adalah tidak lagi bergantung dengan orangtua, tetapi ternyata tidak semudah itu, aku masih sering mengandalkan ayah dan ibuku. Jadi semenjak seminggu pertama aku berkerja, aku menjadi mengerti betapa pentingnya berhemat uang walau hanya limaratus perak. Buatku, uang bukan apa-apa, dan aku selalu berpikir bahwa aku dapat hidup tanpa uang, tetapi sekarang… Aku butuh itu untuk mengisi top up busway atau aku tidak akan bisa pulang dan pergi.
            Ramadhan ini juga membuatku iri setengah mati. Berjalan sendiri dijalanan yang lengang, hanya lampu temaram disepanjang jalan yang kadang-kadang berkedip karena sudah mau habis daya. Maghrib milikku selesai disepanjang perjalanan, lalu tidak lama lagi Isya datang. Persimpangan jalan yang lengang itu lambat laun ramai, semakin mendekat, semakin terdengar riuh suara bocah berkumpul, berkejaran.
            Mereka seru sekali disepanjang jalan, memutar-mutar sarung, pamer soal mukenah bergambar tokoh kartun kesukaan. Lalu ibu-ibu ada dibelakangnya, dengan atasan mukenah yang sudah dipakai sejak dirumah dan sajadah yang dijinjing, mereka masih sempat berbincang soal buka pakai apa Maghrib tadi, atau mau masak apa sahur nanti.
            Tarawih.
            Dulu, tarawih adalah hal wajib yang tidak akan pernah terlewatkan untukku. Tetapi kini rasanya sulit sekali untuk memiliki waktu seperti itu. Berjalan bersama menuju surau, mendengar shalawat yang tidak berhenti dikumandangkan, atau kadang-kadang mengadu kepada marbot masjid soal anak-anak nakal yang suka main petasan didepan masjid, atau tentang membereskan sandal-sandal yang berantakan sebelum shalat dimulai. Lalu lanjut menyalakan kembang api limaribuan didepan rumah bersama dua adikku selepas tarawih.
            Allah, jangankan untuk memiliki waktu seperti dulu, untuk melanjutkan target tilawahku, aku harus membujuk diri ini agar tidak selalu merasa malas setengah mati. Dulu, untuk menyelesaikan lebih dari satu juz rasanya mudah karena bisa selalu mencuri-curi waktu. Kini, mencuri waktu adalah hal yang tidak mudah, kalaupun ada waktu lengang, itu hanya ketika aku berada didalam busway, duduk atau berdiri, melepas sekejap atau tunduk kepada rasa lelah.
            Suatu waktu, aku pernah ingin menyerah. Suasana yang berbeda membuatku selalu ingin pulang. Tetapi perasaan itu harus aku kalahkan demi mimpi untuk kuliah, aku ingin kuliah, dan aku harus kuliah. Orang tuaku terang-terangan bilang bahwa mereka tidak sanggup membiyayaiku untuk itu, jikalaupun sanggup, dua adikku tidak akan merasakan sekolah. Sebuah kosekuensi memang, jadi aku memutuskan untuk mengubur mimpi kuliah di Universitas Negeri, aku harus bisa menambah pemasukan orang tuaku, dan melanjutkan pendidikan dengan hasil jerih payahku sendiri.
            Ramadhan ini mengajarkanku untuk tidak cengeng, meskipun aku harus lebih banyak melewati hari-hari dengan sepi, karena ketika aku sampai dirumah, yang ada disana hanya tinggal Ibuku, atau kadang-kadang beliau tidak ada, jadi yang tersisa tinggal aku, juga gorengan dan es teh yang sudah khusus disediakan untuk si sulung ini.
            “Harus bisa tahan, teh..” begitu pesan Ibu, ketika aku bercerita soal kejadian tidak menyenangkan di kantor. “Yang namanya kerja emang gitu, kalau dulu ngebayangin apa-apa enak, sekarang berasa, kan”
            Aku memandang langit-langit kamar, terdiam.
            “Kalau segitu aja udah ambruk, gimana mau jadi orang sukses? Sukses itu jalanannya terjal, enggak lurus mulus kayak tol Cipali”
            Ya, dan itu yang akan selalu kuingat. Aku punya janji terhadap diri sendiri bahwa aku tidak akan selamanya menjadi seorang karyawan, aku akan meiliki usaha sendiri, berkerja dengan segala potensi yang aku miliki.
Hari itu, seorang sahabat pernah berbagi cerita tentang bagaimana ia harus berkerja disebuah lapas di Jatinegara, dan perasaan jenuh itu sama. Aku tertawa, ternyata ia memiliki penderitaan yang sedikit-banyak mirip denganku.
            “Serem, ta.. Ya, gitu aja kerjaannya, cuman emang belom sesuai jumlah gajinya.” Ia berkeluh kesah, lalu lanjut bercerita. “Capek banget, kadang gue Isya masih dikereta, kadang-kadang keretanya anjlok, udah gitu enggak suka dapet duduk, kalaupun dapet, pasti suka ada orang tua, jadi mau enggak mau harus ngalah..”
            Aku tersenyum, bersyukur atas busway yang tidak pernah anjlok, dan Isya yang sudah bisa leha-leha didepan tivi rumah.
            “Lha lo mending kerjanya gitu doang, gue..” temanku yang satu lagi tidak mau kalah, ikut bercerita. “Enggak enak gue, kerjaannya diomelin mulu, salah mulu, lama-lama bisa enggak betah gue, apa-apa yang gue kerjain selalu aja salah, emang enak apa diomelin mulu? Makan hati lah kerja disono!”
            Aku menepuk bahunya, “Sama, gue juga. Ya, walaupun gue enggak sampe diomelin, tapi situasi kita sama, jenuh abis”
            Temanku yang satu ini menarik nafas panjang, lebih tenang untuk kembali berkata-kata. “Tapi gimana.. mau enggak mau gue harus tahan, kalau gue resign cuma gara-gara itu, gue kalah. Temen-temen kita yang lain susah banget nyari kerja, ini kita dapet dari perekrutan disekolah masa mau dilepas gitu aja?”
            Aku terdiam, berpikir soal yang dikatakannya barusan. Ya, dan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan, tidak sama sekali mudah, apalagi untuk ukuran lulusan SMK yang bahkan belum punya ijazah. Sulit, sulit sekali.
            “Gue enggak apa-apa kalo harus enggak kuliah, yang penting gue bisa bantu-bantu emak gue, bisa nambah-nambah duit belanja, terus adik-adik gue sekolah, udah gitu aja gue mah” temanku lanjut bercerita, dan aku terhenyak untuk apa yang diutarakannya.
            Allah, apa aku terlalu muluk-muluk? Apa aku tidak pandai bersukur? Mengapa aku terlalu banyak mengeluh sementara aku masih sangat patut tersenyum karena keadaan yang jauh lebih baik? Aku tidak perlu merasakan diomeli setiap hari oleh karyawan senior, aku tidak perlu merasakan bagaimana bekerja dilapas, aku juga tidak perlu merasakan bagaimana jenuhnya menunggu kereta anjlok.
            Ramadhan ini berbeda, waktu memaksaku lebih cepat melupakan sosok remaja kekanak-kananakan yang gemar sekali mengoleksi serial anime dan movie korea, sosok remaja yang selalu menganggap bahwa hidup akan selamanya mulus dan baik-baik saja. Terlalu salah, karena untuk menjadi seseorang yang hebat, seharusnya aku bisa melewati keadaan yang sama sekali tidak baik.
            Aku harus jadi orang hebat dan banyak berguna untuk banyak orang, dan jalannya memang tidak akan semulus tol Cipali. Ramadhan ini mengajarkanku untuk belajar bertahan, berkerja ikhlas meski aku tidak selalu benar dan beberapa kali mendapat teguran. Aku menganggap ini wajar, aku tidak boleh menjadi wanita yang terlalu cepat sakit hati. Aku harus pintar-pintar mengelola diri, mengelola keuangan, aku harus menabung. Aku akan kuliah, menjadi sarjana, menjadi seorang penulis ternama, menjadi seorang penulis skenario atau seorang copywriter. Aku akan membanggakan ayah dan ibu dengan caraku, mewujudkan mimpi-mimpi yang tertinggal, menyekolahkan adik-adikku yang bengal ini.
            Terdengar indah sekali, tetapi akan selalu ada yang dikorbankan. Aku harus tetap iri kepada semangat yang terjaga, lelah bukan sesuatu yang seharusnya terlalu diikuti, aku harus bisa menyelesaikan minimal satu juz dalam sehari. Memulai kembali murajaah meskipun harus tertatih-tatih, tidak apalah, karena biar lelah asal Lillah…
            Ramadhan yang berbeda ini membuatku aku berpikir, bahwa untuk meraih sebuah mimpi, seseorang tidak boleh terlalu banyak terlelap. Aku harus cambuk diri sendiri, tidak boleh malas lagi. Meski rasa cemburu kepada ibu-ibu yang beriringan berjalan menuju surau itu masih ada, meski rasanya ingin mengulang masa-masa mengisi mentoring dibeberapa liqo yang biasa aku lakukan dulu masih tersisa, meski aku masih iri setengah mati dengan salah satu temanku yang lebih memilih resign dari pekerjaannya demi Ramadhan yang sempurna.
            Aku yakin, Allah akan menghitung kerja ini sebagai ibadah untuk mencari nafkah, Insya Allah, lillah..
*
Alhamdulillah ala kulli hal..
            Adzan maghrib telah berkumandang lima menit yang lalu, Ramadhan minggu kedua, dan besok hari Sabtu, aku selalu antusias menyambut Sabtu dan Minggu. Busway arah Harmoni – Lebak Bulus ini lengang, sang kondektur sudah menginstruksikan untuk tutup pintu bahkan sebelum busway ini terisi penuh seperti biasanya. Aku kembali merogoh tas, mengambil sebuah buku catatan yang memuat segala target beberapa minggu kedepan yang aku susun untuk diriku.
            Project naskah, beberapa lomba menulis, dan… pulang kampung! H-17, yeay! “Mba?” sebuah suara menyapa, aku menoleh.
            “Eh, Mba.. yang kemarin, kan?” Aku mengenalinya, ia wanita yang minggu lalu memeberiku crackers cokelat.
            Wanita itu mengangguk mengiyakan, kemudian kembali bertanya. “Sudah buka, mba?”
            “Sudah Alhamdulillah, mba?”
            “Sudah juga.. Eh iya, namaku Fani, enggak enak nih sering ketemu tapi enggak sempet kenalan” Ia mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat.
            Aku menyambutnya, “Nur”
H-17, masih menunggu. Masih menjaga semangat itu. Ramadhan ini sendu sekali, tetapi terkadang juga semangat sekali. Akhir-akhir ini juga sering mendung dan hujan, tetapi kalau malam-malam tidak jarang langit begitu bersih dan biru, sepotong bulang bergantung disana, disekelilingnya mengerling bintang gemintang.
            Kau tahu, untuk ukuran remaja yang baru saja beranjak dewasa, ada kisah yang tidak bisa aku tuliskan diatas, tentang sebuah rindu yang tidak tahu bagaimana caranya, menyebalkan sekali karena selalu muncul tanpa aba-aba, beberapa hening dan milisekon detik yang banyak pernah jadi milik rindu tidak bernama itu. Andai saja rindu ini bisa kuledakkan dengan petasan, ia pasti sudah lenyap, sayangnya tidak. Jadi aku menitip sepaket rindu ini kepada angin, lewat hujan, melalui doa, tetapi ya sudah, lah.. Abang-abang JNE juga tidak akan mengerti bagaimana caranya mengirimkan sepaket antah berantah ini kepada mahluk yang antah berantah pula.
            Diatas sana, bulan samar tertutup awan. Tidak, jangan lagi ada sendu-sendu yang berkepanjangan, jangan lagi ada mimpi yang cuma jadi angan, berhentilah menjadi sepotong dilema. Mulai detik ini, harus bisa menjadi orang yang tahu bagaimana dan untuk apa sebuah pengorbanan dilakukan.
            Hari itu aku mendapat teman baru, namanya Fani. Ia selalu punya banyak crakres cokelat yang lezat untuk dibagi setiap Maghrib tiba, lalu bercerita tentang banyak hal, dan berpisah karena ia harus lebih dulu turun dihalte Sumberwaras.
Aku menutup mataku, membayangkan betapa indahnya Ramadhan yang akan kutemui dimasa depan. Ya, semoga Allah masih mengizinkan.


*Kopi Hitam, Jakarta 18 Juni 2016, 15.34
**Tetap Istiqomah, jangan patah semagat, Ganbarre! ^_^

Komentar

share!