Sajadah Bisu

Karya: Linisa


Detik waktu kini telah terhenti, sang fajar yang penuh kehangatan tlah memberi sebuah tanda kegemberiaan, sang kegelapan malam tak akan mampu menutupi sebuah cahaya keabadian, kini beribu umat tlah menunggu sang waktu yang misterius, mungkinkah masih ada kesempatan untuk menyambutnya, mungkinkah aku masih bisa berdiri ketika sang keajaiban yang penuh berkah telah kembali menghampiri, tetes demi tetes air mata tlah menjadi saksi bisu ketika jiwa dan hati merasa begitu bahagia untuk menyambut bulan yang paling indah nan penuh berkah Bulan Suci Ramadhan.



Alhamdulilah, rasa syukur penuh kebahagiaan telah mewarnai suasana bulan ramadhan yang telah menghampiri beribu umat Islam, bulan yang penuh dengan berkah dari yang Maha Kuasa, waktu yang penuh dengan beribu kesempatan untuk mendapatkan ridho Allah S.W.T. Beribu umat saling berlomba untuk mengerjakan kebaikan, melakukan berbagai kegiatan untuk mendekatkan diri pada Allah S.W.T, kegiatan tadarus, bersedekah serta tak pernah berhenti untuk terus mengingat dan menuang asma Allah S.W.T diatas sajadah bisu.
Namaku Linisa aku biasa dipanggil Nisa, aku adalah seorang mahasiswa disalah satu universitas yang ada di Jambi. Kegiatan ku sebagai seoarang mahasiswa tentunya tak pernah berhenti dari kata tugas dan juga belajar, bahkan disaat bulan puasa sudah menghampiri pun kami masih harus melaksanakan aktifitas perkuliahan, yah walaupun tinggal sedikit lagi, namun masih saja aku merasa lelah karena jarak dari rumah ku ke tempat kuliah yang cukup jauh, tapi yang terpenting, jangan remehkan semangat mahasiswa untuk meraih impian, semangat buat para pejuang generasi penerus bangsa.
Setelah selesai menjalankan aktifitas perkuliahan, kini aku berharap bisa lebih berfokus untuk melakasanakan kegiatan yang bermanfaat di bulan Ramadhan serta berusaha mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Perubahan adalah hal terpenting yang harus dilakukan bulan puasa tahun ini harus lebih baik dari sebelumnya.
Aktifitas perkuliahan yang telah mengorbankan banyak hal, kini tiba saat nya untuk mengetahui sejuh mana hasil yang aku dapat, seperti biasa mahasiswa akan melihat hasil penilaiandari dosen di sistem informasi akademik. Tentunya, perasaanku terisi dengan begitu banyak dugaan yang mengkhawatirkan, mampu kah aku menjadi seorang mahasiswa yang baik atau harus lebih kutingkatkan semangat belajar ku. Detik kini terhenti dan menjawab sejuta tanya hatiku, Alhamdulillah, aku mendapatkan IP yang tinggi, aku harus terus mempertehankannya, dan yang terpenting jangan lengah, ingatlah untuk menjadi yang lebih baik untuk masa yang akan datang.
Rasa syukur tak akan pernah cukup untuk menunjukkan semua kenikmatan yang telah kita dapatkan, namun tetap saja terkadang manusia melupakan sesuatu kecil yang berharga hingga tak lagi menatap lebih jauh betapa indahnya kenikmatan yang telah diberikan oleh Sang Penguasa selama ini, yah selama kita masih menghembuskan nafas yang penuh kenikmatan.
Ketika sang kegelapan malam dibulan yang penuh berkah telah datang menjemput, suara-suara nan indah, sang pengingat jiwa untuk selalu mengingat Sang Pencipta telah memenuhi berbagai tempat ibadah, tibalah saatnya untuk melaksanakan Shalat Isya dan juga Tarawih, belum lagi diwaktu sepertiga malam yang penuh dengan kesunyian, kehampaan yang dipenuhi dengan rasa dosa, detik ketika air mata seolah tak mampu menebus seluruh dosa, detik itulah ketika seorang umat mampu berkomunikasi dengan khusyuk kepada Allah S.W.T untuk mencurahkan seluruh resah dan kesah.
Sajadah bisu menjadi sebuah tempat mencurahkan, sajadah bisu menjadi sebuah saksi yang tak akan mampu berkata, diatas sajadah bisu inilah beribu umat meneteskan air mata penebus dosa untuk menyesali segala perbuatan yang dzalim, dosa-dosa yang selama ini menjadi sebuah pengakuan diatas sajadah bisu dan diatas sajadah bisu ini pula tempat aku berharap, ketika aku tak mampu berharap lebih jauh. Sang sajadah bisu yang terus menatapku ketika aku tak lagi mampu berkata dan air matalah yang mengungkapkan apa yang ingin hati dan jiwa ini katakan.
Kini sang mentari telah kembali mentap dunia yang penuh kenikmatan, memberi kehangatan dibulan yang penuh berkah serta kasih sayang Sang Pencipta serta kasih sayang antar umat manusia. Pagi yang penuh dengan kebahagiaan, menatap beribu senyuman penuh keikkhlasan terutama dari keluargaku, “sudah bangun Nisa” kata ibuku dengan senyuman penuh kasih sayang. Waktu itu ibu membangunkan ku karena beliau akan pergi kerumah temannya, jadi aku diminta untuk menjaga rumah.
Namun, entah karena alasan apa, aku meras begitu lemas, aku hanya ingin berbaring dan tak bergerak sedikitpun perlahan pandanganku mulai memudar, aku merasakan kegelapan, namun tak lama kemudian aku kembali tersadar walaupun aku merasa sedikit mual, aku hanya bisa diam dan menutup mataku tanpa berkata apapun pada ibuku, aku takut membuatnya khawatir. Ibuku pun pergi bersama kakakku dan aku mencoba untuk membuka mata dan tersenyum sebelum ibuku berangkat.
Kini aku sendirian, aku benar-benar sendiri, apa yang harus aku lakukan, aku mencoba untuk berdiri dan mengukir kata diatas sajadah bisu, hanya itu tempat yang bisa membuat kedamaian tanpa harus berkata-kata, biarlah hati yang mencurahkan. Aku mengambil wudhu dan mengerjakan shalat dhuha, detik itu aku merasa begitu hening, kehampaan yang bukan berarti aku seorang diri, aku berdiri diatas sajadah bisu, mengingat Allah S.W.T , namun apalah dayaku, hingga aku akhirnya terjatuh ketika aku hendak bersujud, air mata ini tak mampu menyimpan kebohongan hatiku, aku menangis seoarang diri karena terjatuh, apa yang sebenarnya terjadi pada ku hingga aku tak lagi mampu menyentuh sajadah bisu dengan wajahku, aku mencoba berdiri dan mengulangi shalat ku, namun aku kembali meneteskan air mata karena aku lagi dan lagi terjatuh.
Aku terhenti dalam tetes air yang membasahi jiwaku, tak mampu lagikah wajah penuh harap ini menyentuh sajadah bisu yang terus saja menatap tangisan ku. Aku hanya bisa duduk dan berisayarat seolah akan sujud karena tiap kali aku mencoba bersujud aku kembali terjatuh dan mata ini penuh dengan kegelapan yang membuatku begitu takut hingga  aku tak tau arah berdiri.
Aku semakin kehilangan keseimbangan, setelah aku shalat dan berdo’a, aku kembali berbaring, kini aku menutup mataku dengan begitu erat, aku seolah tak ingin menatap dunia yang penuh kegelapan dan membuatku tak mampu berdiri lebih lama, bahkan untuk menggerakkan kepala ku pun, aku harus menutup mata untuk mengurangi rasa sakit dan kegelapan dunia yang aku tatap, semua terasa begitu aneh, dunia ini mengelilingiku dengan begitu cepat. Aku menangis seorang diri dalam keheningan, aku pun segera memberi kabar kakak ku untuk segera pulang dan mengatakan bahwa aku sedang sakit.
Tak lama kemudian, ibu dan kakakku pulang. Terdengar langkah yang dipenuhi rasa tergesa-gesa, ibuku menatapku dengan penuh kekhawatiran, bibirku yang semakin pucat seolah berkata bahwa aku sedang tak baik dan tak lagi membohongi keadaanku, ibuku terlihat begitu lemas terlebih ketika aku berkata, “Nisa tak mampu berdiri lama ibu, Nisa takut naik motor, Nisa nggak bisa bertahan”, dengan lembut ibuku berkata padaku “Nisa sayang, peganglah ibu dengan sekuat tenaga, jika Nisa tak kuat lagi bilang pada Ibu, biar ibu bisa istirahat dipelukan ibu”. Mendengar kata-kata ibuku membuatku sadar, tak seharusnya aku lemah didepan ibuku, karena itu hanya semakin membuatnya khawatir, aku berusaha untuk menahan sakitku dan berdiri lebih lama.
Akhirnya aku dan ibuku tiba di salah satu tempat praktek dokter, aku masih berusaha untuk berdiri lebih lama walalupun aku terus bersandar pada ibuku. Kehangatan, kelembutan, jiwa yang penuh dengan kasih sayang membuatku merasa lega dan tak takut dengan penyakitku. Dokter datang dan memeriksa diriku, aku hanya terbaring lemas sambil mendengarkan penjelasan yang diberikan dokter.
Namun, aku melihat tatapan penuh tanya dari dokter itu, dia berkata “Bagaimana anda bisa bertahan sejauh ini, menjadi seorang mahasiswa aktif yang penuh kegiatan tanpa pernah terjatuh karena penyakit anda”, aku hanya bisa terdiam dan menatap wajah ibuku, jika aku ditanya mengapa aku bisa bertahan, jawabannya adalah karena ibuku, aku akan melakukan apa yang aku bisa untuk membuat ibuku bahagia dan tak lagi dihina orang lain.
Dokter berkata bahwa aku mengidap penyakit vertigo, diagnosa dokter tak sampai disitu, aku juga memiliki tekanan darah yang rendah yaitu 90 mm/Hg dan yang lebih membuat dokter itu heran ternyata aku memiliki kelainan pada pembuluh darah ku yang membuat aliran darah di otakku menjadi terganggu, sehingga jika aku melakukan hal yang begitu keras dan mengganggu pikiran ku, maka bukan hal yang mustahil jika aku hanya bisa terbaring dirumah sakit dan bahkan hanya bisa mendapat nutrisi dari infus karena kehilangan keseimbangan yang begitu fatal yang membuatku tak mampu bergerak.
Aku hanya bisa terdiam dan tersenyum pada ibuku, “Aku tidak apa-apa ibu”. Ibuku meminta tolong pada dokter untuk melakukan yang terbaik pada ku, namun aku sadar, biaya yang diperlukan bukanlah sedikit, aku mencoba berkata pada dokter bahwa aku tidak apa-apa, aku tidak ingin pengobatan yang lebih jauh, aku hanya ingin obat kapsul dan tablet saja, namun ibuku terlihat begitu khawatir dan meminta dokter melakukan pengobatan terbaik. Aku masih bersikeras untuk meminta obat kapsul saja, dan akhirnya dokter menyetujuiku, dia berkata bahwa akan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk penyembuhan, aku lega mendengarnya, aku tak ingin membuat ibuku berkorban lebih jauh, biaya yang dibutuhkan untuk membeli obat kapsul saja sudah menguras biaya cukup banyak, apalagi jika aku mendapatkan pengobatan lebih intensif, aku tak tau kemana ibuku akan pergi mencari pinjaman uang.
Kini, bulan yang penuh dengan berkah hanya bisa ku isi dengan berbaring ditempat tidur, walau dokter menyarankan untuk memakan obat dan mengonsumsi makanan lebih banyak, aku tak peduli, aku masih bersikeras untuk melanjutkan puasa ku, yang kubutuhkan hanya istirahat, aku tak ingin membatalkan puasa ku.
Ibuku datang mengahampiriku dengan penuh rasa khawatir, aku pun berkata bahwa aku tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat dan yang terpenting aku meminta do’a ibuku agar aku lekas sembuh. Aku juga tetap menjalankan ibadah shalat ku walau dengan keterbatasan yang aku miliki. Wahai sajadah panjang disinilah tempat yang membuatku merasa nyaman karena aku tak lagi harus berbohong dan menutupi rasa sakit yang aku alami. Rintihan do’a di balik tetesan air mata ku, aku berharap aku bisa menyentuh sajadah bisu tempat aku merasa kedekatan dengan Sang Pencipta ku yang penuh dengan kebaikan.
Ketika aku sedang beristirahat, aku mendengar dering telpon, ternyata sahabatku Lucy, dia mencoba memberikanku semangat, dia berkata bahwa aku tak harus takut dengan penyakitku, aku harus percaya bahwa aku kuat dan akan segera sembuh, aku mendengarkan kata-katanya sambil menangis karena terharu, aku ingat ketika dia jatuh sakit dia masih bisa tersenyum pada ku, aku mencoba meniru apa yang dia lakukan. Rasa sakit yang aku alami bukanlah akhir, aku masih bisa berdiri, tersenyum, dan yang terpenting aku masih bisa menangis dalam do’a ku untuk berharap kebahagiaan.
Kini sang malam yang penuh keheningan mambangunkanku dari tidurku, aku mendengar rintihan do’a yang menatap di atas sajadah bisu, ternyata ibuku yang tak mampu menahan tetesan air mata yang ia pendam karena kekhawatirannya padaku, aku merasa begitu lega, sang malaikat ku yang penuh sayap kasih sayang selalu mengiringi langkahku dengan do’a dan harapan yang begitu dalam.
Setelah sang sajadah bisu menatap kejujuran jiwa yang penuh tangis dari ibuku, kini tiba saatnya aku ingin berdiri dan juga melalukan hal yang sama. Aku berdo’a dan berharap aku bisa kembali menyentuh sajadah bisu, aku merindukan detik ketika aku bisa merasa kedekatan yang mendalam pada Sang Pencipta.
Detik demi detik yang telah kulalui, kini telah memberikan sebuah jawaban, penyakitku perlahan sembuh dan aku bisa kembali berdiri, dan detik ini pula aku kembali mencoba menyentuh sajadah bisu, aku berharap aku tak lagi terjatuh dan meneteskan air mata, aku percaya dibulan yang penuh berkah dan kasih sayang ini aku akan mendapatkan sesuatu yang mungkin tak masuk ke akal pikiran yang sesuai logika, aku yakin kejaiban do’a dan harapan dari orang-orang yang telah menyayangiku akan memberikan sebuah kekuatan. Alhamdulillah, sajadah bisu yang selama ini aku rindukan telah bisa kusentuh dengan wajah yang penuh harapan.
Terima kasih Tuhan Yang Maha Baik dan penuh dengan Kebaikan, kini kasih sayang dan kenikmatan yang Engkau berikan sungguh berharga, bulan ini, yah bulan yang penuh dengan kasih sayang yang aku dapatkan dari Allah S.W.T dan juga orang-orang yang begitu mencintaiku. Wahai sajadah bisu engkaulah saksi tangis dan bahagiaku ketika aku tak lagi berbohong, ketika air mata ini tlah menjadi kata-kata penuh harapan. Bulan yang penuh dengan berkah dan juga keajaiban, yang kita butuhkan adalah harapan dan kepercayaan dan yang terpenting jikalau kita punya kesempatan dengan kesehatan yang kita miliki, jangan sampai kita kehilangan kesempatan yang begitu berharga untuk mengerjakan banyak kebaikan dibulan yang penuh dengan kebaikan.

Komentar

share!