Relawan Bulan Suci

Karya: Yuda Pratama
 

Entah apa yang terjadi sudah seminggu udara dingin menyelimuti kota ini, air disentuh serasa es, angin pun serasa angin kutub namun tak bersalju, bulan suci ramadhan tahun ini Kabupaten Kerinci dan kota Sungai penuh di selimuti hawa dingin, suhu mencapai 16 derajat celcius, aku menarik selimut merapat ke tubuh agar udara tak menyentuh tulang, tiba-tiba sebuah tangan mengganggu tidurku.
            “Bangun sebentar lagi imsak!”
            Dengan tubuh yang malas dan mata yang masih mengantuk ku singkap selimut membiarkan hawa dingin menyerang tubuhku, kaki ini melangkah ke dapaur dengan tubuh dengan tubuh menggigil. Sesampainya di dapur tampak seorang wanita sedang memanaskan air.
            “Kenapa hari dingin sekali?” Tanya ibu.
            “Entahlah bu.”
            “Baca berita!”



            Aku membuka berita di android di sana tertulis “Suhu di Kabubapaten Kerinci dan Kota Sungai penuh sejak tadi pagi (17/6) terasa sangat dingin dari biasanya. Data dari BMKG Kabupaten Kerinci menunjukan tadi pagi  suhu berada di angka 19,8 derajat celcius. Menurut Sayid Mahadir, kepada Wartawan kondisi ini di picu adanya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia yang masuk ke wilayah Indonesia bagian Barat, termasuk di Kerinci dan Sungai penuh. Sehingga menyebabkan kondisi udara tidak stabil dan berkontribusi terhadap terhadap terjadinya peningkatan jumlah curah hujan.”
            “Ternyata  udara dingin diakibatkan karena kondisi udara tidak stabil.”
            “Jangan sering keluar nanti sakit!”
            “Ya bu, apakah hari ini ibu kepasar?”
            “Iya, memangnya kenapa?”
            “Hari ini sangat dingin, nanti ibu malah sakit.”
            “Tidak apa-apa, cepat sahur nanti masuk imsak!”
            Aku menyantap sahurku dengan mantap dan nikmat walau hawa dingin menyengat tubuh, lalu sholat subuh dan tidur lagi untuk melunasi tidurku yang kurang.
***
            “Kring,kring”. Alarm berbunyi ku buka mata dengan disambut sang fajar menyinari bumi yang dipenuhi dengan cahaya kebangkitan, hangatnya matahari dan dinginnya udara bertarung untuk mendominasi cuaca Kabupaten Kerinci, darah yang tadinya beku kini terasa mencair, ku lirik jam di andorid menunjukan pukul 07.30 aku panik dan berlari ke kamar mandi teringat dengan kegiatan pesanteren kilat spesial ramdhan.
            “Brrr, brrr”. Tubuhku mengigil di serang air yang sangat-sangat dingin, aku mandi  dengan sangat cepat tanpa banyak basa-basi dengan sabun, shampo dan sikat gigi seperti yang kulakukan pada hari-hari biasanya. Saat keluar dari kamar mandi langkahku berhenti menyaksikan berita banjir di Sumatra Barat, memang di bulan penuh berkah ini Allah menguji hamba melalui ciptanNya seperti air, angin, dan tanah agar menusia kembali pada fitrahnya menjadi seorang khalifah yang baik. Motor matikku melesat melintasi Jln Patimura dengan kecepatan 60 KM perjam hawa dingin selama perjalanan mampu ditepis oleh jaket tebalku, sesampainya di SMAN 1 Sungai Penuh semua siswa tampak siswa berabris rapi dengan baju gamis. Untunglah satpam bersahabat dengaku dan mengizinkan masuk ke sekolah.
            “Maaf pak saya terlambat karena ban motor saya kempes di jalan.”
            “Ya Tidak apa-apa.”
            Aku masuk ke barisan dengan wajah tertunduk malu karena terlambat, belum lagi malu terhadap Tuhan karena berbohong. Saat memasuki barisan seorang wanita menyapaku di sebelah.
            “Hei Jef bagaimana keadaanmu?”
            “Alhamdulillah sehat, kamu?”
            “Aku juga sehat.”
            “Cuaca Kerinci hari ini ekstrem ya?”
            “Iya nih, aku aja sampai mengigil berangkat sekolah.”
            “Kamu tau Desa Sungai Ning terjadi longsor.”
            “Innalilahi kapan kejadiannya?”
            “Malam tadi saat sahur, kalau kamu mau menjadi relawan bisa daftarkan sekarang.”
            “Iya.”
            Aku mengisi formulir pendaftaran relawan peduli Desa Sungai Ning, memang desa ini sangat rawan terjadi longsor karena terletak di daerah pegunungan dan sungai jadi ketika musim hujan tiba air sungai akan naik dan mengikis tanah.
            “Siapa saja teman kita yang menjadi relawan?”
            “Banyak Aku, Andi, Dimas, Jery, dan Tari.”
            Selesai berbaris pesantren kilat dimulai, semua siswa membaca ayat suci Al-Qur’an di lapangan, lantunan ayat-ayat suci menggema di lingkungan sekolah, hawa dingin tak menurunkan semangat siswa mencari amalan di bulan suci usai membaca Al-Qur’an dilanjutkan dengan lomba ceramah.
            Pukul 13.00 pesantren kilat selesai aku dan lima sukarelawan langsung menuju TKP dengan menggunakan sepeda motor, jalan menuju Desa Sungai Ning cukup jauh dan medannya cukup berat kami harus bersabar dengan berbagai kendala di jalanan. Sesampainya di tempat aku dan lima temanku sangat kaget melihat tanah yang ambles beserta dengan rumah warga yang tertimbun dalam tanah.Wulan memberikan formulir kami kepada tim sukarelawan dan kami diberikan seragam relawan beserta masker dan sarung tangan. Kerja dimulai kami mengangkat puing-puing bangunan longsor.
            “Hei Jef bantu aku!” Perintah Dimas.
            Kaki ini bergegas ke tempat Dimas untuk membantunya mengangkat mayat seorang wanita dengan wajah yang lebam, suasana benar-benar mencekam hawa dingin pun menambah suasana mistis di lokasi.
             “Hei bisa tolong bantu saya memegang anak ini!” Pinta seorang suster.
            “Iya.”
            Aku memopong seorang anak yang sedari tadi menangis, suster muda ini menyutik tangan dan mengolesnya dengan cairan yang tak ku ketahui.
            “Apa yang anda berikan pada anak ini?”
            “Semacam imunisasi untuk kekbalan tubuh.”
            “Kalau boleh tau siapa nama anda?”
            “Nama saya Rima mahasiswa kesehatan, kalau anda?”
            “Nama Saya Jefri siswa SMAN 1 Sungai Penuh.”
            “Masih muda sudah jadi relawan.”
            “Ya cari pahala kak.”
            “Tolong bantu kakak obati pasien lagi ya!”
            “Iya kak.”
            Beruntunglah aku bisa bertemu dengan suster cantik ini sehingga aku tidak harus turun ke lapangan dengan alasan membantu mengobati pasien, satu-persatu anak-anak di desa ku pegang untuk disuntik walau mereka sempat menangis namun itu tak bertahan lama dengan permen yang kuberikan.
            “Jefri langit mendung sepertinya akan turun hujan.”
            “Iya kak sebaiknya  kita mengungsi ke tenda dulu sebelum turun hujan!”
            “Iya, mari!”
            Kami pun berlari menuju tenda pengungsian pas saat masuk tenda perkataan suster kenalanku menjadi kenyataan, langit menumpahkan tangisan kesedihan yang selama ini ia tahan. Semua relawan berlari menuju tenda, wajah panik mulai terpancar dari para relawan.
            “Gawat kalau hujan seperti ini pekerjaan kita bisa terhambat.” Kata Dimas
            “Benar kemungkinan terjadinya longsor susulan juga bisa terjadi.”                                
            Mendengar percakapan relawan aku juga mulai panik kalau longsor susulan terjadi maka akan sangat membahayakan keselamatan relawan. Namun sepertinya Tuhan berpihak pada kami, hujan reda sang fajar pun mulai terlihat relawan kembali memulai pekerjaannya.
“Allahuakbar-Allahuakbar.”
 Waktunya berbuka semua mengangkat tangan membaca doa bersama lalu menyeruput bijih kopi pilihan berpadu dengan gula dituangi air panas dan tercipta kopi nikmat di lidah dan aroma yang mantap dihidung, inilah minuman pembunuh, pembunuh kantuk dan juga pengusir, pengusir hawa dingin. Kopi menjadi minuman berbuka semua relawan. Walau hujan, bau, dan dingim bercampur menjadi satu namun kami merasa sangat bahagia bisa menjadi sukarelawan, mudah-mudahan kegiatan kami menjadi amal Jariyah di Sisi Allah SWT, Amien.

Kerinci 15 Juni 2016

Komentar

share!