Rasa Yang Sama Dalam Ruang Yang Berbeda

Karya: Ratih Rahmawati


Kamu tak perlu tahu aku ada untuk siapa, kamu tak perlu tahu aku hidup untuk siapa,  dan kamu tak perlu tahu hatiku merasa untuk siapa. Yang harus kamu tahu, aku mempunyai hati yang tak pernah mati mencintai dan menyayangi seseorang yang mampu membuatku nyaman. Itulah jawabannya. Saat aku bersamanya, aku rasa dia bukan orang yang sama, aku tidak ingin lagi disana. Karena semuanya telah berbeda, ramadhan kali ini aku harus meyakinkan diriku sendiri, bahwa sebenarnya kamu tak lagi milikku, namun aku harus tetap percaya bahwa kamu teman baikku.



            Sore itu, kamu nampak beda, aku merasa asing bagimu. Kita hanya bisa diam tanpa saling menyapa, padahal sore ini adalah puasa pertama. Beberapa menit  lagi adzan maghrib akan berkumandang, bukannya senang aku malah merasakan kegelisahan dihatiku. Entah hal apa yang aku pikirkan sehingga membuatku seperti ini, ataukah aku kecewa, karena sedari tadi hatiku mengaharapkanmu menyapaku, dan berharap saat adzan berkumandang kamulah orang pertama yang mengucapkan selamat berbuka puasa kepadaku. Pengharapan yang sia-sia, sampai adzan maghrib tiba, kamu sama sekali tidak menyapaku. Rasanya hati ini ingin berteriak, namun aku ingat aku sedang berada dalam suasana bulan suci ramadhan.
 Ayolah bercerita, hingga kita larut dalam setiap kerinduan ditengah  malam, dimana kita sering bercengkrama walau tanpa bertatap muka. Karena bahagia itu saat kita tertawa bareng, haha hehe lewat pesan singkat. Sampai salah satu dari kita meninggalkan obrolan karena ketiduran, dan mencoba terbangun untuk mencoba melanjutkan percakapan. Membangunkan aku dari tidur, dan menyuruhku untuk makan sahur. Tapi kenyataannya hal seperti itu tak lagi kita lakukan, karena sekarang kita sedang sendirian, berusaha meyakinkan bahwa kita hanyalah mantan.
            Aku tergugah disetiap katamu, aku terpikat disetiap rayuanmu, sampai akhirnya tersadar, kau hanya membangunkan aku dalam mimpi dilelap tidurku . Aku kira ini sungguhan, ternyata ini sebuah kepalsuan. Sepertinya aku harus sudah mulai bangun dan pindah, nampaknya kamu tak ada lagi inisiatif untuk sekedar menyapaku. Sebenarnya aku rindu, namun tak tahu harus dari mana aku mulai memberitahukanmu, memulai merancang sebuah pesan baruku untukmu.
            Waktu terus berlalu, kau tak lagi menyapaku. Hingga akhirnya aku yang memulai obrolan baru,  nampaknya kamu tahu aku merindukanmu. Aku mengira kamu ingin menghilang dari kehidupanku, ternyata salah. Kamu masih seperti yang dulu, dan kamu mulai menanyakan mengapa aku tak menyuruhmu untuk melakukan sesuatu. Kupikir kamu sudah bosan dengan ocehanku, yang menyuruhmu untuk melakukan sesuatu hal untuk kebaikamu. “Kenapa, padahal aku senang melihatmu marah kepadaku, karena aku tak mau mendengar nasehatmu. Aku rindu kau menyuruhku shalat tepat waktu, aku rindu kau membangunkan aku untuk makan sahur. Dan aku rindu semuanya.
            “Maaf. Aku  pikir kamu tak suka mendengar ocehanku, aku merasa kau akan terganggu. Jadi aku putuskan untuk tak lagi mengoceh kepadamu.”  Sebenarnya alasan aku ingin terus bersamanya karena aku begitu menyayanginya, dan aku tidak mengira bahwa dia pun sama. Dia juga masih menyayangiku sama seperti dulu, tak ada sedikitpun rasa yang hilang. Bahkan, ketika kami sama-sama menonton acara pertandingan bola antara Persib melawan Mitra Kukar, tepatnya malam minggu 18 Juni 2016 kemarin kamu mengajakku untuk berkhayal.
            Kamu bercerita, bahwa jika orang tuaku sudah memberikan aku izin untuk aku bisa pergi kemanapun dengan orang yang aku cintai, ia akan mengajakku pergi ke Stadion. Karena menurutnya, stadio tempat bertandingnya permainan bola itu tempat yang menurutnya paling romantic. Dan kalau bisa, ia ingin mengajakku ke bukit bintang. Aku senang mendengarnya bercerita panjang lebar tentang mimpi kita berdua, mimpi kita yang akan menjadi nyata, semoga.

            Ternyata kita dipertemukan oleh Alloh dengan kata saling. Saling merindukan dalam diam, saling menyayangi tanpa hambatan, dan saling menerima kekurangan. Dan kita percaya, bahwa kita akan saling bersama dalam rasa yang tetap sama walau dalam keadaan yang berbeda. Alhamdulillah ramadhan kali ini juga tak kalah indah dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya. Terlebih, malam-malam dibulan ramadhan ini begitu indah, kita sering menatap langit yang sama, walau ditempat yang berbeda. Dan semoga kita dapat menghitung bintang dalam keberkahan bulan suci Ramadan ditempat yang sama, dan masih dengan rasa yang masih tetap sama. 

Komentar

share!