Ramadhan Varokah (Biar Kere tapi Kece)

Karya: Isnah


Ramadhan (Noun) merupakan bulan penuh varokah (eithh maksudnya barokah; berkah) yang dinanti-nanti oleh umat islam,  dimana setiap malam akan ramai orang-orang berdatangan ke masjid untuk melaksanakan shalat yang hanya ada di bulan ramadhan, yaitu shalat tarawih dan witir. Tidak hanya itu ramadhan juga biasa menjadi momen bagi yang tua dan muda, yang berpasangan maupun jojoba (jomblo-jomblo bahagia), dan lain sebagainya untuk reuni mengadakan buka bersama. Sama hal nya seperti aku dan teman-teman, simak ceritanya :



Hari itu bertepatan dengan ramadhan ke-13, aku dan teman-teman telah berencana untuk bukber di Pondok T dua H yang berada tak jauh dari tempatku bersekolah. Semua itu diawali dengan perencanaan yang matang, beberapa kali kami gagal dengan rencana yang kami buat, diantaranya :
Ø  Planning pertama, bukber dilaksanakan dengan memasak sendiri di rumah salah seorang diantara kami. Namun ternyanta failed alias gagal karena tidak ada satu pun yang berminat mengajukan diri.
Ø  Planning kedua, bukber dilaksanakan di kedai pak belalank, namun saat itu juga harapan kami kandas lantaran semua tempat telah dipesan. *sakitnya tuh disini*
Ø  Planning ketiga, bukber dilaksanakan di Pondok T dua H yang berada tak jauh dari sekolahku. Dan akhirnya Subhanallah Alhamdulillah Walaillahailallah Allahu Akbar, sesuatu sungguh luar biasa spektakuler membahana manja *eh jadi kebawa suasana. Disinilah ternyata kami bisa melaksanakan bukber dengan pilihan menu terbaik yang telah disesuaikan dengan SID (Standard Isi Dompet). Surabi pisang coklat keju, nasi goreng daging sapi, dan cappuccino bubble, yummy :D (weyy puasa cuy, puasa!!!).
            Pukul 17.00 semua bergegas dari rumah menuju tempat untuk buka bersama. Aku pergi bersama Tara, Yanto dan Candra. Kemudian kumpul di suatu persimpangan dan pergi bersama yang lainnya.  Dengan penampilan kece membahana badai menggeleggar kamipun tiba di Pondok T dua H menuju saung tiga. Disana hidanagan telah tersaji dengan rapi. Tampak sebuah surabi dibalik penutup hidangan mencoba menggodaku untuk segera menyantapnya (Astaghfirullah, belum waktunya, ucapku menegarkan diri).
            Begitu ramai pengunjung disana, namun tiada yang lebih heboh selain kami yang berada di saung tiga. Banyak kata-kata yang mungkin tak dimengerti oleh orang disekitar kami, karena perbincangan kami yang sebagian menggunakan bahasa daerah dan dimahirkan oleh Candra. Dia memang tampak heboh jika berbicara dengan bahasa daerah, bahkan lebih cetar dari princess Syahrini. Lantas karena asyiknya bercerita, terdengarlah adzan dari salah satu masjid yang tak jauh dari tempat berbuka. Alhamdulillah ucap kami bersama.
            Adapun sebelum menyantap makanan, biasanya kami selaku anggota OSIS yang berasal dari berbagai extra tentu punya cara ketika akan mulai makan. Pertama-tama do’a (ya iyalah masa ya iyadong), eittss namun sebelumnya posisikan tubuh kita dalam keadaan Duduk Siap, yakni kaki dilipat, badan tegap dan pandangan lurus ke depan. Sempat protes karena candaan ketua OSIS kami yang bernama Agus. Karena akaibat candaannyalah kami menjadi objek perhatian ditengah-tengah keramaian, hehehe woles-woles aja keles.
            Ok berdo’a mulai, ucap Agus dengan khusyu’. Kemudian usai berdoa kami pun langsung menyantap hidangan yang telah disediakan. Namun ditengah fokusnya makan Nia membuatku dan teman-teman kembali tertawa, lantaran Nia tak bisa makan dengan menggunakan pisau. Dimana-mana pisaulah yang digerakkan untuk memotong makanan, namun realita yang ia lakukan malah sebaliknya, yakni pisau digunakan untuk menahan makanan dan garpu untuk memotongnya. Busyett dah.. aamfuun memalukan sekali ucap Ajat. Lagi-lagi kami menjadi pusat perhatian. Terutama para ladies yang melirik beberapa teman lelakiku yang berpenampilan kece dan gaya. Memalukan, ucap kami sambil tertawa.
            Kejadian selanjutnya, ketika beberapa temanku yang mencoba untuk menyantap bubble yang berada di sebuah gelas berisi cappuccino, namun hanya ada beberapa yang berhasil. Itupun menjadi peristiwa yang sangat varokah bagi Ajat. Karena saat mengambil bubble menggunakan sedotannya ternyata bubble tersebut saling menyatu, dan ketika ia mengangkatnya, ternyata perempuan yang ada disaung sebelah kami tepat melihatnya. Peristiwa tersebut sangat membuat Ajat sangat malu. Adapun Candra, ia nekat untuk menggunakan garpu surabinya yang dimasukkan ke dalam gelas hanya untuk mengambil bubble. Dan lagi-lagi hal tersebut membuat kami tertawa geli dengan tingkah konyol yang mereka buat.
            Terakhir kejadian yang tak kalah seru, heboh dan memalukan ini yang akan menjadi momen-momen paling terkenang selama kami berkumpul. Ya waktunya untuk membayar sisa panjar yang telah kami bayar sebelumnya. Masing-masing orang mengumpulkan uangnya kepada Nia. Saat itu aku ikut serta menemaninya menuju kasir, dan ternyata uang yang Nia bawa  kurang, sehingga uangku terpakai untuk menutupi sisa-sisa kekurangannya.
            Setibanya disaung tempat kami menyantap makanan, aku dan Nia sontak mengatakan secara tidak sengaja bahwa uang untuk membayar makanan kurang. Sehingga kami menutupinya dengan uang-uang kami terlebih dahulu. Layaknya main game ketika mendapatkan jackpot, namun kali ini bukan jackpot yang memberikan keuntungan pada umumnya, melainkan sebaliknya. Merugikan karena harus menanggung malu bekali-kali.
            Sidang isbat pun terjadi, yang semula kami akan pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat maghrib ternyata tak jadi sebab Tara dan Candra mengajukan untuk menyelesaikan masalah kekurangan pembayaran ditempat itu juga. Padahal sebelumya aku telah ikhlas untuk tidak mengungkitnya kembali. Namun mereka bersih keras dan apa daya aku pun mengikuti kehendak mereka.
            Bisa kita lihat bagaimana rusuhnya sidang yang dilakukan para anggota DPR, mungkin seperti itulah keadaan kami pada saat itu. Nia yang di introgasi oleh Tara merasa tidak tau apa-apa mengenai permasalahan keuangan tersebut karena ia juga ikut terlibat untuk menutupi kekuragan sisa pembayaran bukber.
            Menjadi sorotan mata pengunjung lainnya, membuat aku malu bertubi-tubi lantaran sidang isbat tak kunjung kelar. Sebagian dari kami telah menutup muka karena merasa tak enak. Sebagaian lagi hendak melarikan diri, sedang Nia dan Tara teteap melanjutkan sidang isbat mereka meski disaksikan oleng orang-orang lainnya.
            Jangan bicara kuat-kuat kata salah satu temanku. Yang tadinya pergi dengan percaya diri, kece dan stylish akhirnya berujung kandas karena kejadian-kejadian memalukan. Inilah yang disebut-sebut dengan biar kere tapi kece bahkan lebih cocok jika menjadi biar kece tapi kere.

            Sidang pun berakhir ketika masalah telah terpecahkan. Jawabannya adalah Nia keliru dalam menghitung uangnya, ada beberapa lembar uang puluhan yang terselip dan mengakibatkan Nia menjadi Kambing Hitam dalam kasus sidang yang tengah kami laksanakan. Well, well, well.. karena waktu maghrib hampir habis kamipun bergegas menuju ke masjid untuk sholat disana. 

Komentar

share!