Ramadhan Tanpa Bapak

Karya: Jihan Sausan Salsabila


Bau menyengat itu menggelitik hidungku, membuyarkan lamunanku seketika. Ah, gosong lagi, pikirku. Aku seperti remaja yang baru saja bisa memasak. Akhir-akhir ini, pikiranku seperti dibekukan oleh lamunan-lamunan. Ketika pikiranku kosong saja barang sedetik, lamunan-lamunan itu langsung menyergap pikiranku dan bersarang di sana. Lamunan tentang objek yang sama, Bapak.
            Langkah kaki terdengar menuruni anak tangga. Aku menoleh dan tersenyum mendapati anak bungsuku jalan terhuyung-huyung karena kantuk. Lalu, ia tiba di sampingku dan menatapku dengan mata kantuknya yang masih menutup.



            “Selamat pagi,” sapaku sambil mengecup pipinya gemas.
            “Huah ini masih gelap, Ma. Kita sahur apa, Ma?”
            “Sayur capcay, ikan bakar, ayam goreng, tapi, ayamnya gosong. Maaf ya,” dengan cekatan aku menyiapkan hidangan di atas meja. Bima, putra bungsuku, mengikuti dari belakang.
            “Bima mau cuci muka deh terus bangunin Papa.”
            “Bangunin Kak Kyla juga ya, Nak.”
            “Siap, Ma.” ujarnya seraya menirukan tingkah anak buah yang hormat pada atasannya.
            Aku tertawa kecil melihat tingkah putraku. Keluarga kecilku, bahagiaku, hidupku nyaris sempurna. Aku sangat bersyukur memiliki mereka di sisiku, terlebih pada saat-saat tersulit. Teringat sosok penting yang juga menjadi sumber kebahagiaanku, aku mengambil handphone dan menekan beberapa tombol angka yang sudah kuhafal di luar kepala. Aku menanti dengan sabar sampai telepon itu diangkat. Lalu, rinduku membuncah saat mendengar suara di ujung sana.
            “Assalamualaikum.”
            “Waalaikumsalam Ibu. Ibu udah sahur?”
            Aku rindu Ibu. Wanita kuat yang kini harus hidup seorang diri selepas kepergian Bapak dua minggu yang lalu. Sudah kutawarkan untuk tinggal di sini bersamaku. Namun, Ibu menolak dengan dalih ingin tinggal di rumah Ibu dan Ayah supaya bisa mengenang sosok mendiang dengan baik.
            Kepergian Bapak yang cepat dan mendadak tepat seminggu sebelum bulan Ramadhan lalu, membuat bulan suci tahun ini terasa sepi. Aku dan Ibu, dua wanita yang sama-sama ditinggalkan oleh sosok hebat seperti Bapak, hanya bisa saling menjaga dan menguatkan.

***

            Siang itu mungkin matahari sedang bagus suasana hatinya, sehingga ia menyinari bumi dengan amat terik. Peluh menetes di pelipisku, membuat kerudung yang kugunakan sedikit basah pada tepi atasnya. Sosok yang kutunggu belum juga menampakkan dirinya. Bukan, bukan juga, bukan juga, dan itu dia! Bima berlari kecil ke arahku, menghambur ke dalam pelukanku kemudian kami masuk ke dalam mobil.
            “Gimana tadi sekolahnya sayang?”
            “HHHHHH haus banget, Ma,” keluhnya.
            “Hahaha sabar.. namanya juga puasa, harus sabar. Kalo sebulan puasa Bima full nanti dikasih hadiah deh sama mama papa.”
            Aku hanya tersenyum geli melihat Bima bersorak riang. Tidak apa-apa, untuk seorang anak berumur 7 tahun mungkin masih berat berpuasa full sambil beraktivitas. Jadi, pantas jika kita beri hadiah nantinya supaya ia semangat berpuasa.
            Aku tiba-tiba terlempar pada masa lalu. Saat umurku kala itu baru menginjak 6 tahun dan mendapatkan uang dari bapak karena puasaku full. Waktu itu, aku sangat senang menerimanya. Aku menjadi semakin bersemangat untuk berpuasa tiap bulannya. Pesan bapak sewaktu aku kecil masih terekam dengan jelas dalam memoriku. Boleh senang dapat hadiah, tapi puasa harus karena Allah. Hadiah ini anggap sebagai bonus aja ya, ujarnya dulu. Oh, Bapak, betapa sosokmu amat kurindukan. Laki-laki pertama yang kusayangi, sosok bijaksana dengan petuah-petuahnya yang kuhormati. Andai Bapak tahu, seberapa besar inginku untuk bersama Bapak saat ini, detik ini.
Kurasakan hangat pada pipiku. Lalu, sebuah tangan menghapus air mataku, lembut. “Bima juga kangen sama Kakek, tapi Mama nggak boleh nangis. Ada Bima di sini.”
            Tangisku semakin berderai. Tangis pilu yang bercampur rindu, rindu akan sosok Bapak. Namun juga bahagia, bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku.
           
***

            Jalanan lancar dan tak begitu ramai membuat kami sebentar lagi mencapai tujuan. Aku membangunkan Kyla dan Bima yang tertidur pulas di kursi tengah. Perjalanan Jakarta-Bandung memang tidak akan memakan waktu yang sangat lama jika tidak macet.
            Aku sengaja tidak memberitahu Ibu kalau kami sedang menuju ke rumahnya. Kejutan, pikirku. Aku sudah tidak sabar bertemu Ibu. Kekhawatiran menyelimutiku tiap kali teringat Ibu menjalani hari-hari puasa sendiri.
            Sebentar lagi sampai.. dan aku semakin tak sabar.
            Lalu, kulihat rumah itu dari kejauhan. Rumah yang kini sepi. Namun, masih terasa hangat di ingatanku. Rumah tempat Ibu dan Bapak menghabiskan masa tua mereka. Rumah yang menjadi saksi kepergian Bapak, bahwa benar janji mereka dahulu, hanya maut yang mampu memisahkan. Rumah yang sangat dipenuhi cinta.
            “Ah, nggak sabar ketemu Nenek,” ucap Kyla, putriku, dengan bersemangat.
            “Assalamualaikum nenek.” Bima dan Kyla berujar bersamaan.
            “Waalaikumsalam..”
            Wajah itu. Wajah sumringan namun masih tersisa sendu. Wajah yang menampung sejuta rindu.
Kupeluk Ibu dengan erat hingga tangis kami tumpah ruah menjadi satu. Kami, wanita yang sama-sama merasa amat kehilangan ditinggal Bapak dan saling menguatkan satu sama lain. Akan kuhabiskan Ramadhanku disini, di rumah yang sangat kental dengan sosok Bapak di tiap sudutnya bersama Ibu dan keluarga kecilku. Bapak, tersenyumkah engkau melihat kami semua? Kami, orang-orang yang amat kau sayangi dan menyayangimu berkumpul bersama di rumah kecil kita dulu. Bahkan aku bisa merasakan kehadiran Bapak di sini. Aku bisa merasakan kehangatannya karena sejatinya hanya sosoknya yang tiada, namun cinta dan kasihnya takkan pernah reda.


SELESAI

Komentar

share!