PULANGLAH NAK

Karya: Dewangga


[Kringg..,kring..,kringg ] Suara HP kuberbunyi dengan kencangnya di dalam saku ku. Aku tadi lupa mematikan HP kusebelum rapat. Langsung seketika semua pasang mata tertuju padaku.

“Angga bisa dimatikan HP nya? saat ini kita sedang membahas hal paling penting dalam kepengurusan kita” Ujar ketua himpunanku dengan nada agak tinggi. Nampaknya dia merasa terganggu dengan suara-suara tak penting seperti suara HP.



“Maaf, bisa aku angkat sebentar? ini dari ibuku. Takutnya ada hal penting.” Ujarku dengan agak takut. Karena memang saat ini kami sedang merapatkan hal penting demi kelangsungan kepengurusan himpunanku. Dan aku mendapat amanah sebagai kepala departemen kominfo di HIMASIKA (Himpunan Mahasiswa Fisika). Pastinya aku harus selalu turut andil dalam berbagai macam program kerja himpunan ini.

“Halo bu, kenapa menelfonku? aku sedang rapat dan tak bisa diganggu.” Ujarku dengan nada agak marah. Aku agak kesal karena ibu selalu menelfonku disaat aku sedang sibuk.

“Maaf nak, ibu hanya mau menanyakan kabarmu. Sudah dua bulan kamu belum pulang nak, kapan pulang?” Ujar ibu dengan lembutnya. Karena nadanya begitu lembut, aku yang tadinya kesal bisa kembali luluh.

“Maaf bu, sepertinya aku belum bisa pulang beberapa minggu kedepan. Aku harus menyiapkan para stafku, agendaku dan program kerjaku untuk menjalankan kepengurusan depan bu.” Ujarku dengan lembut pula.

 Jujur aku sedang dilanda banyak pikiran saat ini. Aku harus bertanggung jawab penuh memegang departemen ini. Aku harus menyiapkan rencana dan strategi agar semua agenda dan program kerjaku dapat berjalan di kepengurusan yang akan datang. Aku harus memilih staf-staf yang berkompeten untuk mendukung departemen kominfo ini.

“Alhamdulilah, selamat ya nak, semoga kamu bisa memegang amanah itu. Tapi apakah kamu tidak pulang saat ramadhan yang akan datang? ibu akan masakan makanan kesukaanmu.” Ujar ibu dengan memohon.

Saat itu aku masih memikirkan departemenku, kemungkinan aku tetap tak bisa pulang sewaktu ramadhan. Paling cepat aku pulang mungkin pertengahan bulan ramadhan.

“Mungkin pertengahan ramadhan bu, aku baru bisa pulang. Udah dulu bu, aku masih rapat.” Aku langsung mematikan HP kutanpa salam yang terucap.

Aku tergesa-gesa menutup telfon karena Rina sekretaris departemenku sudah memberi isyarat agar cepat kembali ke rapat. Rapat ini merupakan rapat besar kami, karena disini kami menentukan staf yang masuk. Setelah melewati perdebatan yang panjang, akhirnya aku mendapatkan 7 staf. Itu menurutku masih kurang sekali untuk menjalankan tugas departemen kominfo yang begitu berat. Vidya Amalia, Nurul Azizah, Viona Hazar, Fertilita Enggar, Anas Haikal, Ahmad Farhan dan Ryandhika Rukmana, mereka adalah nama-nama yang akan berjuang di departemen kominfo ini.

“Rin, tolong kamu hubungi semua staf kita tadi dan besok kita adakan welcome party” Ujarku kepada sekretaris departemenku.

Selama tiga minggu ke depan aku bakal kerja keras untuk menyiapkan mereka dan meliput program kerja pertama yaitu rapat kerja himpunan. Padahal tiga hari lagi sudah memasuki bulan ramadhan. Ketika teman-temanku yang tak ikut himpunan sudah pulang kerumah, berkumpul dengan keluarga mereka, aku dan yang lain masih disini mempersiapkan kepengurusan organisasi ini.

“Besok kita ada diskusi terbuka dengan warga ngga, membahas program kerja tiap departemen. Bagaimana kalau sekalian buka bersama saja?” Ujar rina

“Astagaaa, pasti kita besok dibantai. Oke deh, jangan lupa kamu hubungi semua pemateri ya. Selama seminggu kedepan kita akan adakan pelatihan untuk mereka. Dan minggu depannya kita siap-siap untuk rapat kerja himpunan.” Ujarku dengan sesekali menghela nafas panjang.

Begitu banyak yang aku harus persiapkan untuk departemenku ini, hingga aku lupa dengan satu hal, yaitu ibuku dirumah. Aku lupa rasanya berkumpul dengan ibuku, kakakku dan keponakanku. Aku juga tak ingat rasanya ramadhan di rumah, karena semuanya hilang ditelan oleh kegiatan-kegiatanku di himpunan.

Hari demi hari, rapat demi rapat, kegiatan demi kegiatan kulalui. Tak terasa sudah 14 hari ramadhan berlalu, tapi aku masih berkutat dengan kegiatan di himpunanku. Selama seminggu akau juga mendampingi staf-stafku untuk memberikan pelatihan. Lalu setelah itu kami juga harus melaksanakan rapat kerja untuk mendapat persetujuan dari dewan perwakilan angkatan agar kegiatan-kegiatan kami dapat dijalankan.

Semenjak aku bilang ke ibu kalau aku sibuk beberapa minggu ke depan, beliau sudah tak sering lagi menelfonku. Ramadhan yang kulalui disini terasa hampa, hari-hari seperti lewat begitu saja. Karena setiap sahur aku selalu bangun dan menyiapkan makan sendiri, lalu paginya ke himpunan untuk rapat inilah, kumpul itulah. Itu berjalan hingga sore dan akhirnya menjelang berbuka puasa. Aku beli makanan sendiri, kalau gak gitu makan rame-rame dengan pengurus yang lain, hanya itu saja yang kujalani selama dua minggu ramadhan.

Entah kenapa suatu ketika aku merindukan ramadhan dirumah. Ketika sahur kini yang terlihat hanyalah ruang kosong tanpa sosok ibuku. Saat itulah aku ingin pulang, ingin menjalani ramadhan di rumah. Saat rasa rindu itu menghampiri, aku biasanya langsung menelfon ibu.

“Assalamualaikum bu, sudah bangun? sudah makan sahur?” Ujarku lembut. Yang kuinginkan saat rindu itu menghampiri adalah mendengar suara ibuku.

“Sudah nak, kamu sudah sahur? kamu kapan pulang?” Ujar ibu dengan lembut pula.

Aku selalu miris ketika mendengar pertanyaan itu. Ketika aku banyak menghabiskan waktu membangun departemen di himpunanku, disaat itu pula aku mengorbankan waktuku untuk ibuku dan keluargaku. Tapi kali ini aku dapat memberikan kabar baik atas pertanyaan itu. Karena semua kegiatan sudah berlalu, maka aku besok dapat pulang kerumah. Meskipun ramadhan sudah berjalan hampir dua minggu lebih, mendekati tiga minggu mungkin.

“Besok aku pulang bu, ibu mau titip apa?” Ujarku dengan nada agak terharu.

“Alhamdulilah, ibu gak titip apa-apa. Yang penting kamu pulang dengan selamat. Hati-hati ya nak.” Ujar ibuku dengan nada senang.

Akhirnya aku bisa memberikan jawaban yang membuatnya tak kecewa seperti biasanya.

Memang disaat aku sibuk, terkadang aku lupa betapa ibuku merindukanku untuk pulang, apa lagi disaat bulan ramadhan. Tapi ketika aku termenung tak memikirkan apa-apa, tiba-tiba terlintas perasaan sesal dan rindu kepada keluargaku. Setiap suap nasi yang kumakan saat sahur dan berbuka, serasa berbeda ketika aku jauh dari ibuku dan keluargaku disana. Aku merasakan ada yang berbeda, ada yang kurang ketika sahur atau berbuka tak ada ibu dan keluargaku disampingku.

Dan akhirnya aku pulang, aku sampai dirumah. Ibu, kakak, serta keponakanku menyambutku. Saat sahur, yang kudengar kini bukan alarm HPku lagi, tapi suara lembut ibuku. Saat berbuka, yang kulihat kini bukan pengurus-pengurus himpunanku lagi, melainkan keponakan-keponakanku yang lucu sedang berebut makanan. Usai sholat tarawih yang kulakukan bukan pulang dan mengerjakan tugas himpunan, melainkan tadarus bersama teman-teman lamaku, lalu bercengkrama bersama sampai larut malam. Kalau gak gitu bermain petasan atau bermain gitar sambil menyanyikan lagu-lagi religi. Sungguh benar-benar suasana yang selalu kurindukan. Suatu ketika ibu pernah bilang,


“Ibu tahu kamu seorang mahasiswa dengan segudang tugas kuliah, ibu tahu kamu seorang aktivis dengan sejuta tanggung jawab, tapi jangan kamu lupa untuk pulang nak. Jangan sampai kamu lupa rasanya kebahagiaan disini, kebahagiaan yang menuntunmu hingga menjadi mahasiswa dan aktivis. Ramadhan adalah waktu untuk keluarga nak, karena saatnya kamu membersihkan hati dan menenangkan jiwa, dan itu hanya ada bersama keluargamu disini.”

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!