Percayalah Dengan Cara Langit

Karya: ALFIAN ZIZA


Perjalanan Senja Ke Kota Solo
Hiasan anyaman ketupat berayun terkena angin sore di bulan Ramadhan, suasana stasiun sore itu sangat ramai menjelang musim mudik lebaran. Waktu itu bulan Juli tahun 2014, aku akan berangkat ke kota budaya dari kota kelahiranku Purwokerto menggunakan kereta Api. Itu merupakan kedua kalinya aku akan pergi ke kota Budaya yaitu Kota Solo sendirian untuk mengejar salah satu impianku yaitu mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Aku mendapat panggilan tes wawancara untuk memperoleh Beasiswa di salah satu Universitas swasta terkemuka di kota Solo, setelah sebelumnya aku menyertakan diri untuk mengikuti seleksi tes beasiswa di universitas tersebut, dan akhirnya aku dipanggil untuk mengkuti tes wawancara. Sore itu terasa berbeda bagi diriku, terasa sangat spesial, senang, haru, dan bahagia bercampur menjadi satu.



Pukul 17.00 WIB waktu itu kereta yang akan membawaku ke kota Solo tiba di stasiun Purwokerto. Menjelang berbuka puasa kereta pun meninggalkan stasiun Purwokerto beserta aku dan ribuan penumpang lain di dalamnya. Dan tidak lama kemudian, HP yang ada di saku celanaku berbunyi dan aku sudah bisa menebak itu pasti SMS dari bapak yang mengantarku ke stasiun, yang sedari tadi masih setia menunggu kereta yang aku tumpangi berangkat. Hanya sebuah pesan singkat untuk berhati-hati di perjalanan, dan semoga besok dapat dengan lancar melaksanakan waawancara.
Setelah menempuh sekitar 45 menit perjalanan dari stasiun Purwokerto, terdengar suara adzan maghrib berkumandang yang menandakan waktunya berbuka puasa telah tiba, setelah satu hari menahan lapar dan dahaga. Buka Puasa waktu itu tidak ada menu yang spesial, berbuka di dalam kereta api dengan sebotol air mineral yang kubeli di warung sekitar rumah tadi sebelum berangkat serta beberapa bekal roti yang dibawakan oleh ibu. Lima jam perjalan dengan kereta api bengawan, akhirnya sekitar pukul 22.30 WIB aku tiba di stasiun Purwosari Solo. Seperti sebelumnya, tujuanku pertama setelah sampai di Stasiun adalah pergi ke Masjid Stasiun untuk melaksanakn sholat maghrib dan isya yang tadi belum sempat dilaksanakan karena berada dalam perjalanan. Selain itu, Masjid stasiun juga akan menjadi tempatku bermalam hingga besok pagi. Walaupun aku punya kerabat di Solo, namun aku tidak mau merepotkan kerabatku seperti kunjunganku ke kota Solo sebelumnya, dimana aku menginap di rumah kerabatku. Bahkan kunjunganku kali ini kerabatku tidak mengetahuinya karena sengaja tidak aku kabari, takut nanti merepotkan.

Malam menjadi sedikit spesial, karena aku tidak sendirian tidur di masjid stasiun seperti sebelumnya, kali ini aku ditemani 5 pemuda yang usianya antara 3-4 tahun lebih tua dari diriku. Setalah berkenalan dan ngobrol kesana-kemari, ternyata kelima pemuda tersebut berasal dari daerah yang sama denganku yaitu Purwokerto. Dan ternyata pula, mereka memiliki tujuan yang sama pula sepertiku di sini, yaitu untuk melakukan wawancara. Bedanya, mereka akan melaksanakan wawancara kerja, dan aku akan melakukan wawancara beasiswa. Mereka merupakan Fresh graduate dari salah satu Universitas terkemuka di kota Purwokerto yang akan melamar pekerjaan di kota Solo, dan layaknya orang yang memiliki kesamaan nasib, kamipun cepat akrab dan saling mengenal. Dalam benakku berbicara “Akhirnya aku punya teman untuk tidur di masjid stasiun malam ini”.
Esok dini hari, pukul 03.00 WIB pagi, aku terbangun, kemudian diikuti kelima pemuda yang baru aku kenal tadi malam juga ikut terbangun. Kami bangun sangat pagi karena ini bulan Ramadhan, dan waktu tersebut adalah waktunya orang yang akan berpuasa untuk bersantap sahur. Kami pun bergegas keluar stasiun untuk mencari warung nasi terdekat, dan tidak jauh dari stasiun, kami menemukan warteg yang buka pada dini hari, tanpa menunggu lama, kami langsung memesan nasi bungkus beserta teh hangat untuk kami santap sebagai menu sahur sahur di pagi itu. Setelah Sahur selesai, aku langsung menuju kamar mandi stasiun untuk mandi di pagi buta itu, karena aku tahu shubuh nanti stasiun Purwosari pasti akan di penuhi orang yang hendak pergi ke jogja dan sekitarnya dengan kereta Prambanan ekspres disingkat (prameks) yang sudah familiar di Solo-Jogja dan sekitarnya.
Tes Wawancara Yang Menegangkan
Udara di pagi itu terasa dingin dikuti kabut yang turun dari langit menyelimuti kota Solo pada saat itu. Pukul 06.00 WIB pagi, aku dan kelima pemuda yang semalam  tidur bersama di masjid stasiun akhirnya berpisah, dimana mereka akan menuju tempat wawancara kerja, sedangkan aku akan pergi ke tempat tes wawancara beasiswa di Universitas. Setelah mandi pagi buta setelah sahur, aku segera ganti baju yang kusimpan di dalam tas ranselku, beserta sepatu lusuh yang aku bawa dan bersiap mamakainya. Sepatu yang dulunya berwarna hitam dan kini sudah berubah warna agak abu-abu. Segera aku berjalan keluar dari stasiun Purwosari, dan menunggu di halte BST (Bus Solo Trans) di depan stasiun. Penampilanku sedikit berbeda waktu itu, tidak seperti biasanya aku menggunakan kacamata namun yang kugunakan hanyalah sebuah kacamata hias karena kali ini mataku sedang sakit. Setelah perjalan sekitar 5 menit dari stasiun, akhirnya akupun turun di depan Universitas tersebut. Pagi itu masih terasa sepi, dan aku langsung bergegas masuk ke kampus mencari lokasi tes wawancara.
    Dan akhirnya waktu tes wawancara tiba, dimulai pukul 09.00 WIB. Dimana  sebelumnya aku mengisi waktu dengan berkeliling melihat-lihat isi kampus dan berharap dapat berkuliah disini dengan beasiswa. Puluhan peserta wawancara menunggu diluar gedung menunggu antrian untuk tes wawancara, menurut info yang aku dapat sebetulnya ada ratusan peserta yang diseleksi, namun yang datang pada hari itu hanya puluhan dan itu berarti mengurangi jumlah sainganku. Namaku dipanggil setengah jam setelah wawancara dimulai, aku segera masuk ke dalam ruangan dan menemui orang yang sudah ditunjuk untuk melakukan wawancara untukku. Kali ini seperti wawancara pada umumnya, ditanya mengenai kebiasaan sehari-hari, prestasi di sekolah dan lain ssebagainya. Namun aku sedikit merasa tegang pada waktu itu, karena ini merupakan tes untuk mendapat beasiswa kuliah yang aku mimpikan. 15 menit berlalu dan akhirnya aku berhasil menyelesaikan tes wawancara dan menyudahi ketegangan yang melanda diriku. Setibanya di pintu depan ruangan, aku ditegur oleh bapak-bapak yang bertugas memanggil peserta wawancara, beliau berkata “mas.. jangan pulang duluya, masih ada wawancara satu lagi”. Ternyata aku harus menjalani dua kali proses wawancara, yang barusan aku ikuti merupakan wawancara mengenai prestasi, dan seputar kegiatan sehari-hari. Sedangkan wawancara yang kedua meerupakan wawancara tentang keislaman, karena universitas ini memiliki wacana keislaman yang kuat, maka tidak heran jika ada wawancara mengenai keislaman. Terpaksa akupun harus menunggu antrian lagi untuk wawancara yang kedua.
Adzan dhuhur berkumandang di masjid kampus, waktu hampir menunjukkan pukul 12.00 WIB dan aku belum juga dipanggil untuk menjalani tes wawancara yang kedua. Semua peserta wawancara langsung menuju masjid begitupun diriku untuk melaksanakan sholat dhuhur berjamaa’ah. Setelah usai, baru pukul 13.00 WIB tes wawancara kembali dimulai, tak ada makan siang atau makanan ringan, karena ini adalah bulan ramadhan. Kali ini peserta mulai berkurang karena banyak yang sudah melaksanakan dua kali tes, namun tidak sedikit pula yang masih setia menunggu tes wawancara yang kedua termasuk diriku. Setengah jam berlalu, akhirnya namaku dipanggil untuk mengikuti tes yang kedua. Ternyata tes yang kedua ini aku disuruh mempraktekkan shoat dan di tes bacaan al-qur’an, ya namanya juga tes kesilaman. Aku merasa percaya diri waktu itu, karena berhasil melakukan kedua tes dengan baik.
Dan sekarang, tak ada lagi yang bisa aku lakukan kecuali berdo’a kepada Allah SWT atas semua perjuangan yang sudah aku lakukan sejak awal. Dan setelah selesai melakukan tes pada hari itu, aku memutuskan untuk langsung pulang kembali ke kota Purwokerto. Meskipun aku punya kerabat di kota Solo, sebetulnya bisa saja aku singgah untuk ikut menginap semalam sekedar melepas lelah setelah perjalanan jauh tadi malam dan menjalani tidur yang kurang nyenyak di masjid stasiun tadi malam. Namun aku tidak mau merepotkan kerabatku yang ada disini. Aku memutuskan untuk langsung menuju stasiun, walaupun rasa kantuk dan lelah melandaku namun aku berpikir nanti saat berada di kereta bisa digunakan untuk istirahat. Namun nasib malang menimpaku, aku kehabisan tiket kereta api yang berangkat ke Purwokerto, aku sempat bingung harus bagaimana. Sempat terlintas untuk menghubungi kerabatku yang ada di sini, agar bisa ikut menginap satu malam dan esoknya aku bisa pulang. Namun pikiran itu hilang ketika ada seorang tukang becak yang menanyakan kepadaku hendak pergi kemana. Dan ternyata tukang becak itu punya alternatif agar aku bisa pulang ke Purwokerto. Tanpa pikir panjang aku meminta untuk diantarkan ke tempat itu, dengan imbalan 5 ribu rupiah tukang becak akhirnya mau mengantarku. Dan tidak lama setelah itu, aku mendapat bus menuju kota Jogja, dan dari kota Jogja aku bisa melanjutkan naik bus lagi ke kota Purwokerto.
Cara Langit Itu Benar-Benar Ada.
            Sabtu pagi yang cerah di kampungku, kabut turun menyelimuti bumi di pagi shubuh bulan Ramadhan dua tahun yang lalu (tahun 2014). Setelah lebih dari satu minggu yang lalu aku menjalani tes wawancara di kota Solo, kini aku sedang menanti sebuah harapan, selama tiga hari terakhir aku senantiasa membuka website pengumuman hasil tes wawancara penerima beasiswa, namun belum ada pengumuman yang muncul. Pagi itu aku meminjam smartphone milik bibiku dan tanpa berfikir panjang aku langsung menmanfaatkan akses internet di smartphone itu untuk melihat pengumuman di Internet. Beberapa saat kemudian website pun berhasil dibuka, kucari bagian pengumuman tes, setelah beberapa saat kucari dan akhirnya ketemu dan tanpa berlama-lama aku langsung membuka halaman tersebut.
            Aplikasi Internet masih berputar-putar memproses halaman yang aku buka, maklum karena desaku ini sedikit susah dimasuki sinyal internet. Beberapa saat kemudian akhirnya berhasil terbuka, langsung kucari namaku dalam daftar. Alangkah terkejutnya ketika namaku masuk dalam daftar yang diterima dan mendapat beasiswa di Universitas tersebut. Sungguh tidak terduga sama sekali, dari ratusan peserta yang iktu wawancara hanya diambil 30 peserta yang lolos dan aku termasuk di dalamnya. Langsung seketika aku melakukan sujud syukur, dan meluapkan kebahagiaan kepada bibiku dan nenekku yang pada saat itu ada di sampingku (bibi dan nenekku tinggal satu rumah). Baru beberapa saat kemudian aku pulang menuju rumah dan mengabarkan kabar bahagia ini kepada ibuku. Akhirnya Allah SWT mengabulkan mimpiku pada bulan Ramadhan waktu itu, dan inilah bukti cara langit dari Allah SWT sebagai imbalan bagi hambanya yang mau berjuang dan berusaha.
            Satu minggu kemudian, masih dalam suasana Ramadhan namun kali ini sudah hampir mendekati idul fitri, aku pergi lagi ke Kota Solo untuk mengurus semua berkas yang harus dilengkapi sebagai syarat penerima beasiswa. Dan kali ini akhirnya aku resmi menjadi mahasiswa di Kampus tersebut. Setelah selesai, pada kesempatan kali ini aku tidak langsung pulang ke Purwokerto, namun singgah terlebih dahulu ke rumah Eyang (kakek/nenek dalam bahasa jawa) yang ada di Slawi dan menginap satu malam disana. Dan mengabarkan semua kabar gembira yang aku dapatkan pada kesempatan kali ini. Baru kemudian aku kembali lagi ke kota Purwokerto, tentunya menggunakan kereta api.

            Saat ini ketika cerita ini ditulis, di tahun 2016 aku masih menjalani kuliah di Universitas tersebut. Sekarang aku sedang menjalani kuliah semester 4 dan hendak melaksanakan ujian akhir semester di bulan Juli tahun ini. Hingga saat ini, semua kisah perjalananku ini akan menjadi kenangan seumur hidupku dan menjadi pengalaman hidup yang tidak akan pernah terlupakan. Syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT atas cara langit yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan aku selalu percaya bahwa sekarang, suatu saat nanti, dan selamanya cara langit dari Allah SWT akan selalu mengubah hal yang tidak mungkin, sesuatu yang mustahil, di luar dugaan menjadi kenyataan.

Komentar

share!