Merah-merah Dilema

Oleh : Mutia R. Effendi


“Disini selalu panas seperti biasanya. Tidak hanya cuaca, hati pun rentan panas, emosi selalu meluap dengan tidak pantas. Tapi aku berani bertaruh, kau pasti merindukan suasana Ramadhan di sini, terlebih merindukanku. Selamat berpuasa ya sayang, aku harap kamu ada disini  seperti tahun lalu.”



Setidaknya dia menghubungiku kala itu. Kata-kata singkatnya selalu membayang dalam malam sebelum tidur. Bahkan terlalu singkat. Apa tidak bisa ia menghubungiku setiap hari? Hanya supaya rinduku padanya tidak mencandu. Aku rindu dekapan hangatnya, kata-kata mutiara yang ia punya setiap harinya. Paling tidak bisa dilupakan di mulut adalah masakan yang ia hidangkan setiap hari, penuh cinta.
Hubungan kami spesial. Bukan keluarga, tapi lebih harmonis dari sepasang suami istri, apalagi remaja yang dilanda asmara. Bukan seperti itu, tapi kasih sayang yang semua orang patut menerimanya. Sayangnya, hubungan kami itu mulai memudar perlahan, saat Ayah menceraikannya tahun lalu.
Meski begitu, Ibu selalu berkata “Keluarga kita bahagia, semua akan baik-baik saja.” Aku tahu, tidak semua kata-katanya itu benar, tapi kata-kata Ibu selalu menguatkan hati. Aku tidak membenci salah satu dari mereka. Bukan karena aku tidak tahu alasan mereka berpisah, tapi mereka benar-benar orang tua idaman. Penuh kenyamanan.
Aku lahir di Indonesia, negeri pemalu yang selalu menyembunyikan keindahannya. Ayah membawaku bersamanya ke Fukuoka, Jepang pada saat usiaku masih lima tahun. Sedangkan Ibu memutuskan untuk kembali ke Jakarta saat tahun lalu Ayah menceraikannya-aku masih tidak tahu apa penyebabnya.
Bagaimanapun, ini semua sebuah anomali yang harus aku gali akarnya. Kalian pasti mengerti, jauh dari orang yang kalian sayang pada momen yang spesial. Berkali-kali aku meminta izin pada Ayah untuk mengunjungi Ibu ke Jakarta, tapi jawabannya selalu sama: “Jangan, kamu harus temani Ayah disini. Lewat telepon saja ya.”
            Tidak begitu menyenangkan, juga tidak begitu menyedihkan. Sangat dirindukan, tapi telah ditinggalkan. Jauh di sana, terhalang laut biru yang menghimpun rindu. Jarak yang ditempuh samudera terbentang, penuh kenang. Setiap dentingan waktu lapar yang kalian rasa, bagiku hanya dilema semata. Keduanya, syurga dunia yang selalu aku rindukan.
            Tepat setelah seminggu Ibu menghubungiku lewat telepon, aku memberanikan diri untuk “menggali” apa yang harus aku ketahui lewat Ayah. Perlahan saat senja, sambil menunggu waktu berbuka puasa, aku menghampiri Ayah yang melamun memperhatikan rel kereta di depan rumah. Beberapa hari ini Ayah terlihat sangat murung.
            “Ayah sedang menunggu kereta lewat?” Aku membuka pembicaraan, tapi yang terlontar dari mulutku sepertinya bukan kalimat pembuka yang bagus.
            “Ada apa Sayang? Kamu sudah selesai masaknya?” Memang sejak aku remaja, Ayah berhenti membeli makanan siap saji di kedai belakang rumah dan aku yang memasak.
            “Kok malah balik nanya? Udah kok udah siap buat buka puasa.”
            “Pasti seenak masakan Ibumu ya, aromanya sudah bisa Ayah tebak.”
            “Hmm.... Ayah rindu sama...”
            “Sudah yuk masuk, udaranya mulai dingin.” Ayah memotong pembicaraan dan beranjak dari kursi. Aku tidak mau menyerah begitu saja, aku memegang tangannya erat. “Eh? Ada apa? Kamu tidak usah pegang Ayah erat begitu, Ayah tidak akan terbang.”
            “Hehe, bukan. Aku mau nanya sesuatu. Tapi aku minta Ayah jawab dengan jujur dan serius. Aku sudah dewasa Ayah, aku pantas mengetahuinya.” Raut wajah Ayah berubah.
            “Mmm... mengetahui tentang apa?”
            “Ayolah, aku tahu Ayah punya alasan sendiri berpisah dengan Ibu. Aku hanya ingin tahu alasannya.”
            “Kamu yakin mau tahu alasannya?” Aku mengangguk degan penuh kepastian. Jantungku berdebar hebat, tanganku bergetar. “Untuk menyelamatkanmu, dan menyelamatkan Ayah.” Aku heran, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
            “Maksud Ayah Ibu itu superhero? Pergi untuk menyelamatkan dunia?” Lagi-lagi mulutku mengacaukan suasana. Ayah menggelengkan kepalanya, tersenyum, tapi mengeluarkan air mata. “Ayolah Ayah, cerita yang sebenarnya. Aku tidak percaya kalau Ibu itu pahlawan super atau semacamnya.”
            “Tapi ia benar-benar pahlawan super. Setelah melahirkan kamu, ibu mengalami pendarahan hebat. Ibu memerlukan donor, kami semua panik saat itu karena belum ada darah yang cocok dengan Ibumu. Beberapa jam setelah itu, kami mendapatkan donor dari seorang pemuda yang kami tidak kenal. Dokter langsung mengambil tindakan.” Ayah terus mengeluarkan air mata dan kembali duduk di kursinya, berusaha melanjutkan ceritanya.
            “Tapi Ibu kelihatan sehat tahun lalu, itu kan sudah lama sekali saat melahirkanku?”
            “Karena darurat, entah kenapa, dokter tidak memeriksa darah si pemuda, yang hasil Laboratorium tahu hanya darahnya cocok dengan Ibumu.” Nada Ayah mulai terpatah-patah.
            “Lalu?”
            “Ibu terinfeksi darah tersebut, Ibu divonis terkena AIDS.” Aku melemas, Ayah terus menangis. Tanganku yang menggenggam tangan Ayah perlahan lepas. Aku mulai menangis.
            “Lalu kenapa Ayah tidak mau merawat Ibu? Ayah malah menceraikannya! Aku mulai membenci Ayah jika tahu seperti ini!”
            “Kamu tidak tahu seberapa keras kemauan Ibu untuk menyelamatkanmu. Ibu begitu keras kepala.”
            “Ayah lebih keras kepala dengan bertindak seperti ini!” Adzan maghrib dari handphone-ku terdengar, masih pengingat dari internet, karena muslim masih jadi minoritas disini.  
            “Sudah Nak, ayo buka puasa dulu.” Aku berlari menuju kamar dengan menangis. Tidak peduli apa yang baru saja Ayah katakan.
            Mungkin ada setengah jam aku menangis di kamar, kemudian Ayah datang dengan tertatih, ia pun masih mengeluarkan air mata.
            “Ini Nak, lihat ini.” Ayah memperlihatkanku sebuah kerudung merah. Aku tidak terlalu memperdulikannya, mungkin Ayah mencoba menghibur dengan barang baru. “Ibu menyuruh Ayah untuk memberikan ini, saat kamu sudah berani bertanya tentang ini semua.” Aku menoleh pada Ayah.
            “Kenapa?” Suaraku parau, kacau.
            “Ibu bilang kerudung ini berwarna merah, melambangkan keberanian untuk menyelamatkanmu, melahirkanmu sampai sekarang. Ibu juga berpesan, pakailah ini saat kamu memecahkan dilema yang ada di hati.”
            “Dilema?”
            “Ayah tahu selama ini kamu bingung atas dasarnya perceraian Ayah, dan kenapa kamu dipisahkan sebegitu jauhnya, tentu bukan karena alasan pekerjaan Ayah. Berkemaslah, besok pagi kita besuk Ibu di Jakarta. Mungkin ini saatnya. Bersiaplah Nak.” Aku menelan ludah. Mendengar perkataan Ayah, aku langsung loncat dari tempat tidur dan membuka lemari, langsung berkemas. “Oh iya, makan dulu ya sayang, kita belum buka puasa.” Aku mengangguk.
***
            Esok hari kami sampai di Bandara, Jakarta. Rasanya sudah tidak sabar mempertemukan Ayah dan Ibu kembali. Aku berjanji akan memeluk ibu selama dan seerat mungkin. Wajah Ayah nampak kusam dari awal perjalanan, entah apa yang ia cemaskan.
            “Nak?” Ayah tiba-tiba mengeluarkan suara.
            “Hmm?”
            “Sebelum bertemu Ibu, Ayah mau dengar sesuatu dari kamu.”
            “Mau dengar apa? Lagu Dangdut? Aduh, bukan waktu yang tepat.”
            “Iya, bukan waktu yang tepat juga buat kamu bercanda.” Ayah tambah serius.
            “Oke, Ayah mau dengar apa?”
            “Jawabanmu.”
            “Jawaban?”
            “Apa kamu sudah pecahkan dilema yang kamu miliki selama ini?”
            “Soal itu....” Aku menundukkan kepala. “Mungkin aku akan sekeras pemikiran Ibu.”
            “Maksud kamu?”
            “Jika merah adalah lambang dari keberanian atas niat tulus Ibu menyelamatkan kita agar tidak tertular penyakitnya, maka aku juga harus berani mengambil warna merah untuk merawat Ibu, dan mempersatukan keluarga kita kembali. Apa Ayah setuju?” Aku tersenyum sambil meneteskan air mata. “Bagaimana Ayah menyebutnya? Merah-merah delima? Mungkin yang ini merah-merah dilema.”
            “Ayah mengerti Sayang, ayo ikut Ayah.” Ayah menarik tanganku menaiki kendaraan umum. Kami pergi sekitar sepuluh menit waktu perjalanan. Perlahan aku sadar. Kami tidak pergi ke rumah Ibu. Perlahan air mataku mengalir, perlahan semakin deras. Ayah tahu aku sudah sadar terlebih saat kami sampai di lokasi.Tempat yang sunyi, damai dan menekan, mencekam rasanya. Kami tiba di Pemakaman.
“Ibu pasti cantik sekali memakai kerudung merah ini, aku ingin sekali melihatnya....” Kami terus menangis. Bahkan sampai saat ini.
            Dilema bukan sesuatu yang buruk, tapi jika dibiarkan, akan membusuk. Baunya menyebar memenuhi setiap ruang di kepala kita. Terus menekan kehidupan. Tapi kita tidak bisa diam, kehidupan tidak boleh menekan diri kita, kita yang harus menekan kehidupan. Bersihkan dengan keberanian, meski hasilnya diluar perkiraan.

Saat Ramadhan penuh tangisan,
Fukuoka, 2016
 Merah-merah dilema. Mutia R. Effendi

Komentar

  1. Menarik... alurnya bagus dan benar-benar unexpected, semoga mendapat hasil terbaik ;)

    BalasHapus
  2. Mantap Ra, Lanjutkan! Semoga sukses!

    BalasHapus
  3. Ngena banget nih T_T

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!