MAS FURQON

Karya: Ditania Rakhma Andini


Aku bingung. Ya, aku bingung. Menurutku setiap hari di bulan Ramadhan adalah spesial. Jadi apabila aku ingin menceritakan tentang Ramadhan, maka aku harus menceritakan semua hariku. Jadi kuputuskan untuk menceritakan pengalaman seorang teman.
            Sebut saja namanya Alfiyah, santri kelas 5 di sebuah pondok pesantren. Di bulan Ramadhan ini, sudah tiga kali dia ngabuburit bersama pacarnya.
            “Ana sudah capek ketemu anti mulu. Semua hukuman sudah pernah anti jalani, Fiya.” Namanya Wilda, ketua keamanan pondok. Semua santri mengenalnya, santri paling cantik  ─  kata anak banin (pondok putra)  ─  dan juga santri paling galak  ─ kata anak banat (pondok putri).
            “Afwan, ukhti.” Alfiyah, semua santri juga mengenalnya. Santri paling pintar, santri paling royal dan juga santri paling bandel. Bayangkan saja, semua pelanggaran sudah dilakukannya, selama 5 tahun dia menjadi santri. Ma syaa Allaah. Dan kali ini dia melanggar peraturan nomor 3, bertemu dengan laki-laki yang bukan mahram, untuk kesekian kalinya.
            “Ana bingung. Gimana caranya untuk merubah anti, Fiya? Ana merasa gagal menjadi ketua keamanan pondok. Ana merasa telah mengkhianati Pak Kyai karena ngga bisa merubah anti.” Karena tak sanggup menahan air mata, menangislah Wilda. Dan untuk pertama kalinya Alfiyah melihat Wilda menangis. Seorang yang selama ini terlihat sangat tegas, berwibawa, disegani oleh seluruh santri, ternyata menangis di depan Alfiyah. Dan karena Alfiyah.
♣   ♣   ♣



            “Sekarang juga kalian harus putuskan. Apakah kalian berdua, saudara Afif dan saudari Alfiyah, ingin melanjutkan atau cukup sampai di sini. Jika kalian ingin melanjutkan, maka saat ini juga saya undang orang tua kalian, saya berikan saksi, dan saya nikahkan kalian berdua. Jika kalian memutuskan untuk….”
            “Saya memutuskan, cukup sampai di sini, Ustadz.” Alfiyah memotong pembicaraan Ustadz Anwar, pengasuh banin.
            “Saya belum selesai bicara, Alfiyah.”
            “Saya juga memutuskan, cukup sampai di sini, Ustadz.” Ucap Afif
            Ustadz Anwar, Ustadzah Fadhilah  ─  pengasuh banat  ─  dan Wilda menarik nafas lega. Menatap satu persatu Alfiyah dan Afif, mencari kepastian dan keyakinan. Untuk pertama kalinya, seorang pelanggar dibawa menghadap pengasuh. Biasanya ketua keamanan pondok yang akan menyelesaikannya lalu menghukumnya.  
            Sampai di kamar, Alfiyah menceritakan semuanya kepadaku. Ya, aku adalah teman satu kamar Alfiyah, sekaligus teman curhat. Aku senang mendengar cerita Alfiyah, aku selalu senang ketika Alfiyah dihukum. Bukan berarti aku tertawa di atas penderitaannya, tetapi aku selalu berharap bahwa hukuman tersebut bisa membuat Alfiyah berubah menjadi lebih baik. Sebenarnya, aku yang selalu melaporkan kepada ketua keamanan jika dia melanggar. Bukannya aku munafik, tetapi sebelum Alfiyah melanggar aku telah mengingatkan berulang kali agar dia tidak melakukannya dan mengancam akan melaporkannya kepada ukhti Wilda, tapi tetap saja dia tidak menghiraukan. Selain itu aku adalah anggota keamanan, jadi sudah kewajibanku untuk melaporkan setiap pelanggaran. Dan aku sangat senang ketika dia menyampaikan sesuatu yang sangat membuatku bahagia hingga kami menangis.
            “Ana mau berubah, Din. Bantu Ana  untuk berubah. Ana ngerasa, buat apa ana pintar di pondok tetapi ngga patuh sama peraturan pondok yang dibuat Pak Kyai dan para ustadz. Kan, sama aja ana ngga ta’zhim sama beliau, ana takut ilmu yang ana dapatkan jadi ngga berkah, Din.” Kami berpelukan sambil menangis.
Kami tarawih di masjid pondok, antara santri putra dan putri dibatasi hijab triplek yang sangat tinggi. Pulang sholat tarawih, benar-benar tidak disangka. Bahkan Alfiyah pun sama sekali tidak tahu akan seperti ini.
“Kepada seluruh santri putra maupun putri diharapkan untuk tidak meninggalkan masjid terlebih dahulu. Kepada saudara Afif dari kelas 5 banin dan saudari Alfiyah dari kelas 5 banat diharapkan untuk segera mendatangi mimbar.” Begitu menggema pengemumuman tersebut di dalam masjid.
Alfiyah menoleh kepadaku, aku menggelengkan kepala. Alfiyah beranjak dari duduknya kemudian jalan perlahan-lahan ke arah mimbar. Aku tahu, pasti saat ini Alfiyah merasa sangat gemetar. Kasihan sahabatku.
“Bahwasannya, pada hari ini tanggal 7 Ramadhan di atas mimbar dan disaksikan seluruh santri putra maupun putri, saya memutuskan hubungan “pacaran” walaupun di dalam Islam tidak ada istilah pacaran, antara saudara Afif dan saudari Alfiyah serta membuat perjanjian di antara mereka berdua bahwa tidak diperbolehkan bertemu selama di pondok karena melanggar peraturan pondok. Dan apabila sekali lagi terulang, maka mereka berdua akan saya nikahkan.” Ustadz Anwar mengumumkan dengan suara tegas.
“Huuuuuuuh…..” teriakan dan tepuk tangan membahana.
“Dan sebagai hukumannya, untuk Afif membangunkan santri putra untuk sahur dan tidak ada izin keluar selama Ramadhan, dan untuk Alfiyah membangunkan santri putri untuk sahur dan tidak ada izin keluar selama Ramadhan, saya harap ini bisa menjadi pelajaran bagi santri yang lain.”
♣   ♣   ♣
Hari-hari berlalu dengan normal. Semenjak kejadian tersebut, Alfiyah tidak pernah melanggar lagi. Dia juga menjalankan hukumannya setiap hari tanpa mengeluh. Sampai suatu hari, aku melihat secarik kertas di depan lemarinya.


Alfiyah
Mas Furqon

            “Alfiyah, apaan ini? Katanya anti mau berubah? Siapa lagi ini Mas Furqon?”
            “Ana cinta banget sama Mas Furqon, Din. Ana tenang kalau lagi sama dia, ana bahagia.”
“Tapi Alfiyah, anti kan udah janji.”
“Sini deh, ana tunjukin yang namanya Mas Furqon.” Dia menarik aku ke depan lemarinya dan dia menunjukkan sebuah al-Qur’an.
“Apaan sih, anti?”
“Ini pacar ana. Nama lainnya al-qur’an kan al-Furqon, ngga salah dong, kalo ana panggil dia Mas Furqon.”
“Tapi kan ini al-Qur’an, Fiya…”
“Maka dari itu, ana ngerasa nyaman kalo lagi baca al-Qur’an. Ana ngerasa tenang. Makanya ana mau jadi pacar dia.”

“Ih, anti tuh ada-ada aja. Hahaha…”

Komentar

share!