Kicauan Saat Puasa

Karya: makndrong


Pada intinya puasa bukan hanya tidak makan dan minum, tapi juga kontrol emosi. Tapi yang namanya manusia sebaik apapun tidak akan luput dari emosi meskipun secuil. Dikatakan emosi bila tingkat kemarahan orang terletak di level ekspresi marah. Orang marah cenderung mengeluarkan kata-kata kasar dengan nada tertinggi. Pada level itu gerakan tubuh dan raut wajah mengikuti irama.
Saat awal puasa hingga lima hari setelahnya, sudah cukup membuat hafal kondisi di tempat-tempat yang rutin saya kunjungi. Ketika saya berkeliling menikmati sejuknya pagi, tampak tidak ada yang berjaga di area kemacetan utama. Biasanya ada petugas yang mengatur lalu lintas sehingga dari perempatan jalan itu tidak ada aksi saling serobot karena buru-buru.
“Maju woi!” teriak pengendara motor terhadap ibu-ibu pengendara motor lain yang berada tepat di depannya.
“Sabar Pak!” sahut ibu itu.
“Bikin macet!” bapak itu semakin vokal.
“Sabar Pak puasa-puasa gini,” ibu itu mencoba menenangkan.
“Aku gak puasa. Kamu kalau gak bisa naik motor  ya gak usah ke jalan raya begini Bu. Bikin susah orang saja,’ kata-kata bapak itu sudah semakin bervariasi.




Saya yang berada di belakang bapak itu cuma menyaksikan. Memang kenyataannya ibu itu tidak mengerti aturan berlalu lintas. Posisinya tepat di tengah, padahal akan berbelok ke kiri. Teriakan sesama pengendara diikuti dengan berisiknya suara klakson membuat pagi itu tampak memanas tidak seperti biasanya. Meski saya tidak bereaksi pada saat kericuhan, tetap saja dalam hati sudah setumpuk kata terbentuk.
“Bapak-bapak ini tidak bisa biasa saja ya,” itu yang pertama kali saya ucapkan dalam hati.
“Ibu itu bagaimana sih, sudah tahu salah tidak cepat minggir malah sahut-sahutan sama si bapak,” itu yang ke dua. Untuk ke tiga dan seterusnya bisa dikira-kira saja.
Saat terik matahari mulai nampak artinya siang hari, saya pergi ke sebuah toko alat tulis membeli beberapa kebutuhan untuk keperluan usaha saya. Ketika saya datang memang menjelang dzuhur dan jam istirahat.
“Mbak, pensil 2b, 3b, dan 6b dua ya sama penggaris besi yang 30 cm satu,” saya menyebutkan beberapa barang kepada salah satu karyawan lawas di toko itu.
“Sudah itu saja?” tanya mbak-mbaknya untuk memastikan.
“Iya mbak,” jawab saya. Sambil tengok kanan kiri, sesaat kemudian saya melihat drawing pen. Mbaknya yang telah pergi memberikan nota ke kasir, saya panggil untuk mengambilkan drawing pen.
“Mbak. Mbak,” saya memanggil.
“Ada apa mbak?”
“Drawing pennya yang 0,5 satu ya. Maaf lupa tadi saya,” sembari meminta maaf.
“Sudah? Apalagi?” tanya mbkanya lagi.
“Sudah mbak itu saja. Makasih ya,” saya merasa sedikit tidak enak karena mbak itu kelihatan agak kesal.
Si mbak berjalan menuju kasir dan saya menunggu di tempat tadi. Kemudian saya seperti mendengar bisikan. Bukan bisikan gaib atau setan. Tiba-tiba saja mata saya tertuju pada satu titik. KASIR. Ternyata itu bukan bisikan tapi suara mbak tadi.
“Kalau pesan tidak sekalian saja. Bikin repot. Belinya gak banyak juga tapi bikin capek. Beli ya di siang bolong, gak tahu kalau lagi puasa,” mbak-mbak itu mengomel di forum kasir dan saya dengar.
Dalam hati ini mengatakan tak apa tapi agak jengkel juga. Ya memang saya tidak sengaja melakukan hal seperti itu. Namun sungguh tidak saya sangka kalau si mbaknya bakal berucap sedemikian rupa, padahal biasanya tidak begitu. Dia penuh senyum saat melayani pelanggan.
Ketika matahari mulai terbenam, itu artinya hari sudah sore menjelang maghrib. Saya pergi membeli beberapa bungkus minuman untuk santap buka. Penjual-penjual makanan dan minuman berjejer di area pintu masuk perumahan. Agar tidak kelamaan, saya pilih yang agak sepi.
“Bu es buahnya tiga bungkus ya,” saya memesannya untuk keluarga di rumah.
“Iya mbak,” jawab ibu penjual dengan ramah.
Ehh tidak ada petir, tidak ada hujan, tiba-tiba di sebelah saya ada ibu-ibu main serobot saja. Tampaknya ibu itu lelah setelah pulang kerja.
“Bu ini saya bungkus es buahnya 2, sate usus 4, sate kerang 2, sama cah kangkung satu bungkus,” ibu itu memesan dengan sedikit terburu-buru.
Bu penjual telah membungkus 2 es untuk saya dan tiba-tiba “Bu itu bungkus dulu saja untuk saya!” orang sebelah ini mulai beraksi.
Otomatis saya meresponnya dengan raut wajah yang tidak biasa. Segudang kata terucap dalam hati mengomentari ibu-ibu yang satu ini. “Seenaknya saja ibu ini. Enak sekali minta didahulukan. Padahal kan saya nyari yang agak sepi biar cepat dilayani. Ehh ini seenaknya main tikung. Minta enak saja nih orang. Emang dia es buah, enak?”
“Mbaknya ini duluan bu,” ibu penjualnya dengan baik menjelaskan.
“Sudah tidak apa-apa saya dulu saja. Capek saya. Puasa-puasa gini jam kerja tetap, tidak ada pulang cepat. Seharusnya kan ada keringanan. Meskipun di kantor cuma duduk menghadap komputer tapi kalau kondisi seperti ini rasanya capek,” ibu itu memaksa sambil menjelaskan tanpa ada yang tanya.
“Ya sudah bu, biar ibu ini duluan saja,” saya mengalah demi ketenangan. Semakin lama ibu itu semakin berisik dan mulai mengomel tanpa arah.
“Nah mbaknya ini gak ada masalah kalau saya duluan,” dengan percaya diri ibu itu melantunkan kalimat mengagetkan begitu. Saya pikir ibu itu akan mengucapkan terimakasih. Ehhh kok malah muncul kalimat tanpa penyesalan. Ya sudalah, saya kalah lawan ibu-ibu.
Belum sampai rumah ada kejadian lagi. Ada sebuah motor parkir sembarangan sehingga sedikit menghalangi jalan. Tinnn, tinnnn, tinnn. Suara klakson mobil menarik orang di area jual takjil untuk menoleh ke arahnya, termasuk saya.
“Tolong minggirkan motornya! Jangan parkir sembarangan! Ini jalan umum!” seorang laki-laki muda berteriak entah kepada siapa.
Belum berhenti teriakan itu, muncullah seorang ibu-ibu menghampiri motor yang menjadi masalah itu. Saya terkejut karena ternyata itu adalah motor milik ibu-ibu penyerobot es buah. Wow, benar-benar suatu kebetulan yang tidak biasa.
“Cepat minggirkan! Lain kali kalau parkir yang benar dong Bu! Jangan asal saja!” kemarahan si mas-mas penemudi mobil itu belum mereda.
“Sabar mas puasa-puasa, nanti batal lho.” salah seorang yang menyaksikan mencoba menenangkan.
“Ya kalau puasa-puasa begini ya jangan bikin orang emosi!” masnya itu menyahuti karena sudah terlanjur naik darah.
Hati saya nyelonong untuk berbicara. “Orang-orang ini apa-apaan sih. Puasa gak puasa kan ya sama saja. Kenapa dari pagi sampai sore panas-panasan. Emosi-emosian gak jelas. Pake bawa-bawa alasan puasa pula”
Hari pertama puasa berlalu tanpa terasa. Tanpa terasa sepi lebih tepatnya. Lalu datanglah hari ke dua, ke tiga, dan seterusnya dengan kejadian tak jauh beda. Hanya beberapa scene yang dihilangkan dan diganti dengan yang lain. Para pemainnya juga berbeda tanpa melewati proses casting. Terdengarlah kicauan-kicauan yang sangat beragam dan mungkin tidak indah.Saya pikir kicauan manusia lebih mendebarkan untuk didengar dibandingkan dengan kicauan sederhana burung.

Komentar

share!