Kepahitan Dalam Ramadan

Karya: Maman Rahmaniar


Ramadan kali ini aku sendiri. Dua sosok manusia yang dulu aku hormati dan banggakan sekarang telah tiada. Hanya do’a yang bisa aku berikan. Mereka meninggalkan anak tunggal yang mereka miliki terombang ambing oleh arus kehidupan. Aku Azmi Qawim, teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan Azmi. Kata ibuku nama ini diberikan oleh ayahku.  Sejak masih dalam kandungan, ibu bilang ayah telah mempersiapkan nama tersebut. Sempat aku tanyakan pada ayah kenapa aku diberi nama Azmi Qawim.
“Yah, kenapa Aden diberi nama Azmi Qawim..?”
            Aden, sebutan orang tuaku saat itu. Suatu panggilan orang tua pada anak laki-laki tunggal di desaku.
“Aden tahu arti Azmi Qawim?, itu bahasa arab, artinya adalah hati yang tangguh. Ayah tidak ingin melihat Aden cengeng, mudah menyerah, dan takut menderita. Aden harus menjadi sosok sebagaimana nama Aden”



Jawaban ayah masih aku ingat kuat. Karena jawaban itu adalah jawaban terakhir ayah untukku. Saat itu mentari baru muncul, memancarkan cahaya hangatnya. Kami biasa sebelum ayah pergi kerja selalu sarapan bersama. Ternyata sarapan itu sarapan terakhir, karena sekitar pukul 11 siang, sudah menjelang istirahat, aku dan ibu harus menerima kabar pahit yang sangat menyayat hati kami. Kami luluh dan lumpuh sejenak. Tulang-tulang seperti meleleh bagaikan es terkena api. Ayah dikabarkan tewas karena kecelakaan di tempat kerja dimana ayah mencari nafkah. Suatu jembatan dengan panjang lebih dari 70 meter harus roboh ketika pekerjaan sedang berlangsung. Ayahku kurang beruntung, karena ketika musibah itu terjadi, bersama 2 temannya tepat berada di bawah jembatan dan harus menerima kematian secara tragis. Kala itu aku masih duduk di Sekolah Dasar kelas 5. Hidupku hancur berantakan. Hampir satu bulan aku bersama ibu meratapi kepergiannya. Kalau bukan karena iman yang sempat ayah ajarkan, mungkin aku sudah menggugat Tuhan. Kenapa harus keluarga kami yang mengalami semua ini, Tuhan, Engkau tidak adil!
***
“Den, bangun nak! Sahur dulu..”
            Suara halus membangunkan tidur lelapku, suara yang beberapa bulan lalu adalah suara laki-laki dan kini suara itu telah menjadi suara perempuan, iya dia ibuku.
“Bu, Azmi masih ingat ayah..”
“Sudah nak ikhlaskan saja, jangan diratapi terus. Biarkan ayahmu tenang.”
            Sahur pertama tanpa kehadiran ayah untuk selamanya. Tak terasa air mataku menetes di samping piring yang ibu siapkan. Ibu yang melihatku menangis, menghampiriku dengan segera dan memeluk erat badan kecilku.
“Bu, Azmi sudah saja tidak usah sekolah lagi”
“Tidak nak, apapun yang terjadi kamu harus tetap lanjut studi, ibu rela menggantikan peran ayahmu...”
Aku benar-benar putus harapan. Tapi ibu yang memintaku untuk tetap lanjut studi. Dia bilang jika aku putus sekolah aku dianggap sebagai anak yang mengkhianati usaha orang  tua. Ada kebahagiaan tersendiri ketika kami bertiga membicarakan soal studiku. Terutama ayah yang sangat ingin melihat aku tidak seperti dirinya, yang kerja banting tulang dan tak punya pendidikan. Tapi aku tak mengakui itu. Bagaimanpun aku anggap ia sebagai motivator dan inspirasi terbesar selama aku mengenal dunia ini.
Hari pertama Ramadan aku jalani bersama ibu. Pekerjaan yang tak biasa ibu kerjakan, selepas kepergian ayah ibu mulai melakoninya. Sering aku khawatir akan keadaannya, aku takut ibu sakit. Maka dari itu, aku mempunyai niat selama Ramadan ini aku harus ikut bekerja. Mimpiku sederhana, ketika idul fitri nanti aku ingin sekali memberikan ibu sebuah hadiah, meskipun sederhana tapi berharap bisa membuat ibu bahagia.
“Kak, baju gamis dan mukena ini berapa harganya satu paket?”
“Adek mau beli buat siapa?”, tanya penjaga toko penasaran.
“Buat ibu saya kak, kalau saya sudah tau harga nanti saya balik lagi ke sini”, pungkasku.
“Baju yang ini agak mahal dek, pilih yang ini saja..” sambil menunjukan baju yang disarankan.
“Berapa yang ini kak?”
“Yang ini 250.000 tambah mukena 150.000, jadi totalnya 400.000”
            Dengan ucapan terima kasih aku langsung pamit meninggalkan toko tersebut. Dalam perjalanan pulang aku berpikir bagaimana aku mendapatkan uang sebanyak 400.000. Aku targetkan dalam 20 hari sudah mendapatkan uang itu. Jadi artinya dalam satu hari aku harus mampu mendapatkan uang sebanyak 20.000 di usiaku yang baru 11 tahun. Beruntung Ramadan tahun ini tepat pada saat libur panjang semester akhir, jadi aku bisa fokus untuk mendapatkan uang itu demi ibuku.
***
            Pagi itu aku sudah siap pergi ke luar mencari usaha bagaimana aku mendapatkan uang untuk membeli hadiah yang akan aku berikan pada ibu. Sosok wanita yang sangat berarti aku pandangi dari dari bilik kamarku. Seperti biasanya, ibu terlihat sedang membuat kue yang akan ibu jual nanti sore menjelang buka puasa.
“Ibu, Azmi main dulu ke teman..” teriakku dari luar.
“Sebelum Dzuhur pulang den..”
“Iya”
            Maafin Azmi bu, kali ini azmi harus berbohong, ucapku dalam hati. 20 hari ke depan tidak ada kata main untukku. Aku harus fokus bekerja. Sebagai anak kecil yang masih bocah, aku belum paham betul tentang dunia kerja. Hanya melihat anak-anak lain saja bagaimana mereka bekerja membantu orang tuanya. Mulai dari memungut barang plastik bekas aku lakukan tiap hari untuk dijual. Setidaknya aku mendapatkan uang dari pekerjaan ini rata-rata 5.000 per hari dari mulai pagi sampai menjelang dzuhur. Habis Ashar aku menjajakan barang dagangan berupa aneka makanan untuk berbuka puasa milik seseorang di kampung sebelah. Aku tidak membantu ibu menjual kue karena ibuku melarangnya. Katanya aku di rumah saja. Habis tarwihpun aku pergi ke sebuah rumah makan untuk mencuci piring untuk mendapatkan uang tambahan. Aku beralasan pada ibu bahwa aku ikut ngaji di kampung sebelah, jadi aku pulang sekitar pukul 10 malam.
            18 hari aku berhasil mengumpulkan uang 400.000. Tenaga yang aku miliki tiap hari terkuras demi mimpi sederhanaku memberikan ibu sebuah hadiah idul fitri. Tidak sedikitpun ibu curiga dengan aktifitas sehari-hariku. Mungkin karena ibu juga sibuk dengan pekerjaannya, jadi tidak sempat mengawasiku dengan sempurna. Tidak banyak berpikir, ketika uang aku sudah hitung, aku langsung pergi ke toko yang dulu aku datangi. Aku beruntung, baju dan mukena yang aku tanyakan lalu ternyata masih ada. Aku langsung mengambil uang dari saku celanaku dan langsung membayarkannya pada kasir di toko tersebut. Senang dan  bahagia karena aku telah membeli satu hadiah untuk sosok terpentingku saat ini.
            Sampai di halaman rumah aku heran kenapa banyak orang yang masuk ke dalam rumahku.
“Pak, ada apa di rumahku?”, tanyaku penasaran.
            Hanya pelukan erat yang di iringi tangisan kesedihan yang bapak tadi berikan. Aku semakin penasaran mengapa semua orang menangis. Aku langsung lari ke dalam rumah dan ku dapati ibuku terbaring berlumur darah di kepalanya. Aku rasakan langit runtuh dan seakan kiamat. Aku bantingkan tubuhku ke dinding, berharap ini semua mimpi. Ternyata bukan, ini bukan mimpi, ini sebuah kenyataan terpahit yang pernah aku rasakan. Tubuhku telah menyatu dengan tubuh ibuku dalam sebuah pelukan, menangis secara histeris dan penuh penyesalan. Usahaku 18 hari belum sempat aku berikan. Tuhan kenapa Engkau begitu cepat merenggut kebahagiaanku. Aku ingin mati Tuhan, aku ingin ikut ibu...
            Sejak itulah aku hidup sebatang kara tanpa orang tua. Dua sosok yang sangat aku cintai dan hormati meninggal dalam keadaan tragis. Ayah yang tewas tertimbun jembatan dan ibu meninggal tertabrak sebuah mobil yang tak bertanggung jawab ketika sedang berjualan. Aku tidak tahu ntah rencana apa lagi yang Tuhan siapkan untukku, tapi bagaimanapun kesedihan dan ratapan bukanlah solusi. Aku tidak akan menyerah untuk hidup, dan aku tidak takut hidup meski tanpa orang tua. Aku akan wujudkan pesan-pesan yang sempat kedua orang tuanku sampaikan. Aku adalah Azmi Qawim harus ikhlas menjadi anak yatim piatu di usia 11 tahun. Ramadan memang indah dan penuh bahagia, tetapi apakah masih harus dikatakan demikian ketika kepahitan yang aku terima itu sangat menyakiti dan menyimpan luka yang sangat dalam.



Sebuah kisah inspiratif dari seorang anak yatim piatu di daerah Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Kejadian tahun 2015 M dan kepahitan Ramadan 1436 H. Nama tokoh saya samarkan takut menyinggung perasaannya. Ia sekarang tinggal di salah satu panti asuhan di daerah Kota Sukabumi.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!