Jingga Selepas Subuh

Karya: Risna Rahmadyah


Goresan jingga mulai menampakkan diri dengan malu-malu ketika aku bingung harus mengerjakan apa pada suatu hari.
            Selepas santap sahur dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim untuk melaksanakan salat subuh, biasanya aku akan langsung melanjutkan tidurku yang baru setengah jalan. Memang, kita baiknya tidak tidur setelah salat subuh dan mengisi pagi hari dengan sesuatu yang bermanfaat. Maklum, aku bahkan baru tidur di saat warga sekitar rumahku punya sedikit sisa waktu tidur untuk kemudian bangun dan berkeliling membangunkan sahur.



            Dibangunkan oleh alarm yang memang ku-setting dengan nada yang keras tidak lantas membuatku semangat dalam sekejap. Sering juga bunyi itu membuat mimpi indah yang kualami hilang secepat angin dan membuatku penasaran dengan kelanjutannya. Seperti jejak kaki di pasir pantai yang terkikis seiring datangnya ombak. Tak berbekas.
Kebiasaanku yang lainnya adalah ketika alarmku kumatikan dengan tujuan sejenak bisa kembali tidur dan menunggu mama meneriakiku dari ujung tangga bawah.
Apesnya, tak lama setelah kupejamkan mata, keluar bunyi terkutuk dari dalam kamar adikku yang langsung masuk ke telingaku. Awalnya aku tak menghiraukan itu. Tetapi, entah sudah berapa detik-mungkin juga menit-bunyi terkutuk itu tak kunjung berhenti. Memang sudah kebiasaan jika aku tidak pernah menutup pintu kamar ketika tidur dan juga pintu kamar adikku yang tak pernah tertutup dengan rapat, sehingga aku bisa mendengarnya dengan jelas. Kamar kami bersebelahan.
Gusar. Aku bangun dengan bibir mengerucut dan kerutan di dahi. Sedikit sempoyongan karena baru sadar. Juga kaos kaki abu-abu yang panjangnya hanya sampai mata kaki yang masih melekat di kedua kakiku.
Berjalan dengan langkah panjang untuk menggedor kamar sebelah yang manusianya tidak tahu diri. Masih kudengar bunyi terkutuk itu yang seolah mengolok-olokku dengan bangga.
Tok.. Tok.. Tok..
Tidak ada sahutan.
Langsung saja kubuka pintunya dan melihat pemandangan yang membuat mata makin sepat. Manusia di atas spring bed empuk itu masih meringkuk dengan damai tanpa terganggu sedikitpun oleh gadgetnya yang sedari tadi berbunyi dan lampunya berkedip-kedip manja.
Sial! Rutukku dalam hati.
“Hei!” Kutendang-tendang kakinya sambil mengucek mataku. “Bangun, Hei! Alarmmu!”
Baru ditendangan yang kesebelas-jika aku tidak salah hitung-adikku menunjukkan tanda-tanda ‘hidup kembali’.
Kutendang lagi kakinya supaya benar-benar bangun. “Matikan alarmmu!”
Tak tahu apakah dia benar-benar sudah paham dengan perintahku, dia bergegas mengambil ponselnya dengan satu mata tertutup. Detik berikutnya suasana kembali senyap.
Tanpa melirik ke arahnya lagi, aku bergegas menuju kamarku untuk meringkuk di kasur yang saat itu tampak sangat menggiurkan. Sebelum pada akhirnya...
Pintuku diketuk agak keras.
Tok.. Tok.. Tok..
“Hei, bangun.” Suara terkutuk kedua di pagi hari ini. Ya, suara adikku.
Arrrgh.. “Apaaa?!”
Kulihat dia sedikit tertawa dengan wajah setengah-sadar-setengah-teler dan kudengar langkahnya menuruni tangga.
Seenaknya saja. Apa dia tidak sadar tadi sudah menggangguku dengan alarmnya?
Kurasa tidak mungkin lagi untuk kembali tidur. Akhirnya, aku benar-benar bangun.
            Hari itu sebelum turun ke bawah untuk makan sahur, aku menghidupkan mesin cuci dan mulai mengerjakan ritual sakral dengan segala tetek bengeknya. Di hari biasa, ritual mencuci pakaian baru kulakukan sekitar pukul sembilan atau sepuluh pagi menjelang siang. Karena aku merasa akan bangun pada pukul yang tak bisa alam bawah sadarku tentukan itu, muncul ide untuk mengerjakannya sebelum sahur sehingga setelah solat subuh aku bisa segera menjemurnya.
            Insiden tadi membuatku ingin cepat-cepat selesai makan sahur dan kembali menyelesaikan tidurku jika saja aku tidak teringat untuk salat subuh terlebih dahulu. Itu juga membuatku malas menanggapi pertanyaan adikku saat sahur yang hanya kujawab “hm”, “he-eh”, dan jawaban singkat lainnya yang tidak memunculkan pertanyaan lanjutan.
            Singkat cerita, kudirikan salat subuh setelah mengambil wudhu. Mulutku merapalkan ayat-ayat suci kepada Sang Pencipta dengan sebisaku. Setelah kulipat mukena, setengah berlari aku pun melesat kembali ke kamar. Sengaja kulupakan pakaian yang sudah setengah kering.
            Kuganti posisi tidurku beberapa kali agar bisa tidur dengan cepat. Mataku malah tak kunjung terpejam meski dipaksakan. Geser kiri, geser kanan. Menghadap ke kiri, menghadap ke kanan. Telentang juga tengkurap. Hasilnya nihil.
            Dengan tidak ikhlas aku turun dari kasur dengan maksud menjemur pakaian yang tadinya kuletakkan di bak sebelah mesin cuci. Dengan agak malas aku menjemur mereka satu persatu sampai tak tersisa.
            Maksud hati ingin kembali menutupi diri dengan selimut, pandanganku tertuju ke cahaya jingga yang perlahan menggantikan gelapnya malam. Aku selalu suka langit di kala senja. Mereka bercampur dengan udara yang menyiratkan lelahnya hari. Begitu juga jingganya langit pagi. Menunggu udara pagi yang siap mengantarkan semangat.
            Yang biasanya aku hanya melihat ketika langit sudah benar-benar jingga, terkadang aku melihatnya ketika masih berupa garis berwarna jingga.
            Aku diam tak bergerak sedikitpun. Pemandangan di depanku selaras dengan udara sejuk yang memancarkan energi positif. Perlahan awan membantu matahari menyapukan warna jingganya dengan lembut.
            Subhanallah.

            Suasana pagi selepas subuh ini membuatku melupakan apa yang tadi sudah terjadi. Entah di hari Ramadhan yang ke berapa aku mulai merasa udara pagi hari seperti ini sayang sekali jika dilewatkan begitu saja.

Komentar

  1. Membaca ini sambil melarang diri sendiri tidur setelah sahur nanti. Merasa diingatkan, ada jingga langit pagi dan sisa-sisa purnama yg menunggu untuk disapa. 😊

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!