Hijrah Cinta Nisa

Karya: Zaura


“Emangnya kita ini apa, sih?”
            Nisa terdiam. Jarinya berhenti menyapu keypad di layar smartphone-nya. Sudah kesekian kali Rio menanyakan hal serupa. Meski begitu, Nisa tak terbiasa juga. Mereka berteman, tentu saja. Rio dan Nisa bersekolah di sekolah yang sama sebelum menjalani kelulusan beberapa waktu lalu. Mereka juga sama-sama aktif dalam kegiatan-kegiatan di sekolah. Tak heran perbincangan mereka seringkali bersambut satu dengan yang lain. Mungkin itu yang menyebabkan dua remaja tanggung yang hendak memasuki jenjang kuliah itu terlampau akrab.
            Belum sempat Nisa mengetikkan pandangannya, chat Rio datang bertubi-tubi.
            “Maksudku, kita nggak pacaran, kan?”
            “Jadi, yang wajar-wajar aja.”
            “Kamu baik sejauh ini, tapi aku nggak bisa memberi lebih.”
            “Nggak usah berlebihan.”
            “Bales?”
            Ada kodok yang jatuh dari perut Nisa, memaksa keluar dari mulutnya dan mengganjal kerongkongannya. Ia merasa mual. Dia tahu Rio benar. Mereka memang tidak berpacaran. Nisa tidak pernah diajarkan untuk menjalin hubungan antar dua insan yang tidak jelas jluntrungannya itu. Namun, dia tahu bahwa dia, seperti yang Rio bilang, berlebihan dalam pertemanan mereka.



Hampir setiap hari mereka berbincang via chat selama dua tahun belakangan ini. Entah membicarakan tayangan tv, masakan ibu, hingga masalah-masalah pribadi yang bersifat rahasia seperti masalah keluarga. Nisa senang bercerita pada Rio karena Ia merasa didengarkan, bahkan tak jarang Rio memberi solusi maupun motivasi dari sudut pandangnya yang logis. Dan, Nisa pikir, Rio juga senang bercerita dengannya…
Kadang, bila waktu terlampau larut setelah mereka melaksanakan kegiatan sekolah, Rio berbaik hati mengantarkan Nisa pulang. Padahal, rumah mereka terpaut jarak yang lumayan jauh. Nisa sering menceritakan cita-citanya pada Rio, dan sohibnya itu juga membeberkan angan-angannya yang tak biasa pada Nisa.
Nisa tahu, tak hanya sekali Ia membisikkan doa kesuksesan untuk mimpi-mimpi Rio. Nisa tahu, Ia seringkali menyelipkan doa-doa keselamatan dalam segala kekhawatirannya pada pribadi Rio yang naif. Dan Nisa tahu, pun memastikan, bahwa hanya Ia yang tahu, sampai Ia memberanikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya pada Rio.
“Nis?”
“Hmm, iya, oke, kayaknya emang berlebihan deh. Makasi ya selama ini udah dengerin, maaf ceritanya suka gajelas dan annoying banget, sukses Io!” ketik Nisa dalam diam.
~~~
“Allahuakbar…Allahuakbar!”
Setelah mengucap hamdalah dan doa berbuka, Nisa meneguk segelas air mineral di depannya. Aliran air yang menyegarkan membasahi kerongkongan Nisa. Ia mencomot tempe goreng yang terhidang di atas meja. Rasanya yang gurih dan lezat memanjakan lidah Nisa yang kian giat mengucap syukur.
Ramadhan berlangsung sudah hampir seminggu. Selama itu, Nisa selalu berusaha memaksa diri untuk tidak sering-sering megecek gadget-nya. Ia memilih menenggalamkan hidungnya dalam Quran. Ia tahu apa yang pikirannya cari, dan Ia memutuskan untuk memblokir segala sumber yang memunculkan kekecewaan bagi dirinya itu.
Namun, tiba-tiba layar hp Nisa menyala. Ada chat baru. Lagi-lagi Nisa menghela napas, menata hatinya untuk tidak berharap yang bukan-bukan, kemudian memberanikan diri membuka pesan baru tersebut.
“Dek, besok liqo’* jam sepuluh di rumah ana bisa, kah? Konfirmasi ya, jazakillah,” ternyata dari Mbak Ranti, mentor grup birama Nisa. Akhir-akhir ini, Nisa jarang ikut liqo’ bersama kelompok biramanya karena terkendala izin dari orang tuanya. Memang, meski sudah lulus, Nisa masih disibukkan dengan persiapan ujian masuk perguruan tinggi yang Ia idam-idamkan. Syukurlah, ujian itu dilaksanakan sebelum ramadhan, sehingga Nisa memiliki lebih banyak waktu luang untuk memaksimalkan ibadahnya di ramadhan tahun ini.
“Insya Allah bisa mbak, tunggu aku yaa,” ketik Nisa bersemangat.
Kelompok birama Nisa sudah terbentuk sejak Ia kelas dua SMA. Birama sendiri adalah sebuah kelompok mentoring yang terdiri dari beberapa anggota yang seangkatan dengan Nisa dan seorang murobbi** yang membimbing kelompok tersebut dengan ilmu-ilmu dunia maupun akhirat. Selain mengaji, hafalan qur’an, dan mengkaji sirah nabawiyah, dalam kelompok birama Nisa juga tidak ada larangan untuk curhat-curhat bahkan berbagi masalah. Justru Mbak Ranti, murobbi mereka, akan membantu menentramkan hati dan memberi solusi bagi mereka.
Keesokan harinya, setelah membantu menjemurkan cucian ibu di keranjang, Nisa berangkat menuju rumah Mbak Ranti. Letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Nisa. Sesampainya di sana, sudah ada beberapa teman yang tiba. Mereka duduk melingkar di atas sebuah karpet sambil menunggu Mbak Ranti menyiapkan laptop di ruang belakang.
Sambil menunggu, Nisa memerhatikan dekorasi ruang tamu Mbak Ranti. Matanya tertuju pada sebuah pigura foto yang tidak digantung di dinding seperti foto-foto lain. Foto tersebut disandarkan ke tembok di kolong sebuah meja kecil dari marmer. Dalam pigura, Nisa mengenali wajah Mbak Ranti dan suaminya, mengenakan gaun dan jas formal. Nisa terkikik geli melihat Mbak Ranti berfoto ala-ala foto pre wedding.
“Bagus ya, Fir, foto pre wed-nya,” kabar Nisa pada Fira yang kebetulan duduk di sebelahnya.
Pasca wed, Nis,” koreksi Fira.
“Kok pasca wed sih, Fir?” kikik Nisa keheranan. Pasti Fira bercanda, batinnya. Fira memang terkenal suka bercanda.
“Iya, Mbak Ranti pernah bilang kok. Itu foto pasca wed.”
Nisa terdiam. Ternyata Fira tidak sedang bercanda. Foto itu memang foto yang diambil setelah pernikahan, yang artinya mereka telah sah menjadi sepasang suami istri. Pantas saja Mbak Ranti tidak keberatan berpose memegang tangan sang suami, toh mereka sudah muhrim.
Tiba-tiba, Nisa teringat pada kisah Mbak Ranti saat beliau masih duduk di bangku SMA. Saat itu, beliau aktif sebagai pengurus SKI atau Sie Kerohanian Islam. Selain pribadi yang bersemangat, beliau juga pintar, bijaksana, dan cantik lagi. Tak heran banyak cowok-cowok yang naksir! Bahkan, Nisa ingat, seorang ketua OSIS yang tengah menjabat saat itu juga menaruh hati pada sosok Mbak Ranti. Namun, Mbak Ranti tidak tergoda. Beliau konsisten menjaga diri dan hatinya hingga Mas Iqbal, seorang ikhwan yang sekaligus dokter bedah di usia muda, meminang Mbak Ranti dengan bismillah.
Subhanallah! Nisa terhenyak di tempatnya duduk. Ia merasa seakan baru tersadar dari mimpi yang selama ini menyelubunginya. Nisa… Nisa… apa yang telah kamu lakukan selama ini? Membuang-buang waktu berkutat pada hal-hal yang sia-sia. Sesungguhnya apa yang menurutmu terbaik bagimu belum tentu seperti apa yang kamu pikirkan, Nis. Lihat waktumu selama ini kau gunakan untuk apa, menyimpan rasa galau yang kau tujukan pada dia yang fana. Untuk apa, Nis?
Nisa tertunduk. Jari-jarinya putih karena diremasnya kuat-kuat. Suara hatinya berpacu dengan degup jantungnya yang ketakutan. Astaghfirullah, apa yang telah kuperbuat selama ini, Ya Allah? Bodohnya aku menyia-nyiakan waktuku untuk memikirkan dia, yang bahkan tak sedikit pun memikirkan aku. Padahal waktuku bisa kugunakan untuk mengejar mimpiku, memperbaiki diriku, menghafal kitabku, membantu orang-orang di sekitarku… Sungguh lalai diriku yang menyombongkan diri dan selama ini merasa aku mampu. Nyatanya, aku hanya semakin dekat dengan murka-Mu. Ya Allah, ampunilah aku…
Nisa teringat pada kisah akhir hayat Rasulullah. Saat itu, malaikat maut datang ke rumah Rasulullah dengan mengetuk pintu. Ketika nyawa beliau diambil, keringat bermunculan dari dahi beliau. Padahal, dikisahkan malaikat maut mengambil nyawa Rasulullah dengan lembut dan perlahan. Di tengah kesakitan yang begitu dahsyat, apa yang Rasul khawatirkan? Rasulullah mengkhawatikan umatnya, beliau menyebut ummati…ummati…ummati… Beliau mengingat umatnya, mendoakan agar kesakitan sakaratul maut yang menimpa umatnya agar ditimpakan pada beliau saja…
Rasulullah begitu mencintai umatnya, Nis, sudahkah kamu mencintainya?
“Nis, kamu nggak papa?” tanya Fira. Nisa terlonjak dari lamunannya. Ternyata Ia masih berada di rumah Mbak Ranti, yang kini sudah tiba di hadapan mereka, sedang mengutak-atik laptop dan untunglah tampak tidak memerhatikan Nisa.
“Nggak apa-apa kok” geleng Nisa pelan. Sembunyi-sembunyi, Ia seka air matanya yang menggenang.
“Fir, ramadhan ini, bantu aku hijrah, ya?” bisik Nisa spontan. Kini, Ia tersenyum memandang wajah sahabat-sahabat surganya yang melongo keheranan.


*liqo’ : secara bahasa artinya pertemuan. Istilah liqo’ lebih umum dari halaqah, karena dapat berupa pertemuan, musyawarah, dan membahas hal-hal yang lebih luas.

**murobbi : pembina.

Komentar

share!