Gadis Kecil itu Bernama Aisyah

Karya: Arum Melati Suci


Ada yang berbeda dari ramadhanku kali ini. Bagaimana tidak berbeda? Jika Ramadhan biasanya aku menetap di kota lamaku. Namun kini aku harus merantau ke jogja. Memang  jogja bukanlah daerah yang asing untukku terlebih aku telah lama menetap selama 1 tahun. Ah, tapi bukan karena itu saja yang membuat ramadhanku kini  berbeda. Saat ini aku harus merasakan atmosfer Ramadhan jauh dari kedua orangtua. Karena bentangan ratusan kilometer  jarak yang menghadang. memaksaku untuk menikmati Ramadhan tanpa masakan ibu yang sudah lama rindu untuk ku cicipi.



            Ada yang berbeda dari ramadhanku lagi. Ramadhan kali ini aku diajak kawanku untuk membantu mengajar mengaji di salah satu TPA. Ah, ajakan temanku itu. Mengajar di TPA merupakan sesuatu yang teramat baru untukku. Biasanya aku hanya diminta oleh anak-anak tetangga dekat rumah untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dan kini aku ditawari untuk membantu mengajar mengaji dengan jumlah anak yang boleh dibilang mencapai tiga puluhan anak. Segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi bergelantung dalam pikiranku. Bagaimana jika aku tidak sabar menghadapi anak-anak yang jumlahnya banyak? Belum lagi ilmu yang aku miliki tidaklah begitu banyak apa mungkin aku bisa?
“Jangan khawatir rum” katanya seolah ia bisa membaca kegundahanku.
“Yang  belajar bukan hanya santrinya juga kok. Tapi kita juga pembimbingnya. Disana kita sama-sama belajar jadi nggak perlu ragu untuk membantu mengajar” katanya meyakinkanku.
Aku tersenyum mendengar perkataanya barusan. Bismillahirrahmanirrahim. Lirihku dalam hati. Permudahkan urusanku yang satu ini Ya Allah semoga Engkau lancarkan niat tulusku. yang sesaat kemudian ku akhiri dengan anggukan, pertanda bahwa aku setuju.
            Meskipun belum genap sebulan aku ikut serta dalam  mengajar mengaji di TPA. Ada saja kisah yang ku dapati setiap harinya. Apalagi ketika membagikan makanan untuk buka puasa anak-anak santri. Tingkah polah mereka yang berebut makanan padahal persediaan makanan masih banyak. Seringkali mengundang gelak tawa yang menontonnya. Ekspresi raut kegembiraan mereka ketika tidak mengulang bacaan ngaji yang begitu jelas terekam oleh mataku. Meskipun selain itu juga dijumpai beberapa santri yang meributkan suatu hal bahkan terkadang menimbulkan perkelahian kecil. Yang membuat kami pembimbingnya harus bersabar menghadapi itu semua.
            Tapi ada satu kejadian yang membuat batinku meringis. Sebab gadis kecil yang bernama Aisyah. Usianya belum genap 7 tahun. Ia sama seperti gadis kecil pada umumnya. Tapi setelah mengenal sosoknya aku jadi banyak termenung. Hei, Bagaimana keadaan kabarmu Iman?
            Berawal dari sebuah surat undangan Festival Ramadhan Ceria yang ditujukkan kepada TPA Al-Muhtadin. Ya, TPA itu merupakan tempat aku mengajar mengaji. Dalam acara tersebut diadakanlah lomba-lomba untuk para santri. Seperti Lomba Adzan, Lomba Mewarnai, Lomba Menggambar Kaligrafi, Lomba Pildacil dan Lomba Hafalan Al-qur’an, lomba yang diikuti gadis kecil bernama Aisyah.
            Aku dan para pembimbing TPA yang lain begitu antusias. Bagaimana tidak antusias? Ini adalah perlombaan pertama yang kami ikuti. Meskipun hari perlombaan tinggal menghitung hari. Hal ini tidak menyurutkan semangat kami. Aku dan para pembimbing TPA yang lain berinisiatif untuk mengadakan seleksi lomba untuk para santri.
            Satu persatu santri dites sejauh mana hafalan Al-qur’annya. Namun ada seorang santri yang berhasil membuat kami pembimbingnya berdecak kagum. Ah, iya santri itu bernama Aisyah diusianya yang masih amat belia ia telah mampu menghafal 1 juz Al-quran dan tengah bersiap untuk meneruskan hafalannya lagi. Hal itulah yang membuatnya menjadi perwakilan dalam lomba hafalan Al-Qur’an.
            Masih tergambar jelas dalam ingatan. Kala itu seluruh santri yang mengikuti lomba berkumpul dalam ruangan aula untuk menunggu pengumuman pemenang lomba. Sembari menunggu santri diberikan pertanyaan-pertanyaan oleh mc. Waktu itu mc menyuruh untuk santri yang bisa dan hafal Surat Al-A’la untuk maju dan membacakannya kedepan. Satu, dua tiga detik tidak ada yang maju. Hingga aku melihat dari kejauhan tubuh gadis kecil itu berdiri dan maju kedepan dengan begitu berani. Ya gadis kecil itu Aisyah. Dengan bibir mungilnya ia melantunkan surat Al-A’la yang berjumlah 19 ayat tersebut.
Sabbihisma rabbikal-a’laa
Alladzii khalaqa fa sawwaa
Walladzii qaddara fa hadaa
Walladzii akhrajal mar’aa
...
Masya Allah Aisyah Lirihku dalam hati ketika mendengar lantunan ayat demi ayat surat Al-A’la yang dibacakan Aisyah. Mendengarmu melantunkan hafalanmu. Aku jadi berpikir bagaimana hafalan Al-qur’anku? Teringat hafalanku yang tidak menunjukkan kemajuan lebih beberapa waktu ini. Apa kabar dengan keimananku? Teringat pula kondisi imanku yang seringkali naik turun seperti roller coaster. Astagfirullah. Linangan di kedua bola mataku kini terasa ingin tumpah mengeluarkan aliran bak anak sungai yang mengalir.
            Aku tahu ada yang berbeda dari Ramadhanku kini. Perjumpaan dengan kalian yang memberikan warna tersendiri dalam hidupku. Terlebih denganmu Aisyah. Aisyah, Gadis kecil itu berhasil menyabet juara 3 pada lomba Hafalan Al-qur’an.
            Aku ingat betul bagaimana sosok gadis kecil itu berlari menghampiri ibunya yang menungguinya di luar Aula. Dengan senyum yang malu-malu ia menyerahkan piala itu kepada ibunya. Ntah aku tak bisa mendengar percakapan apa yang sedang ibu dan anak itu bicarakan. Tapi dengan melihat raut wajah ibunya saja. Sudah tergambar dengan jelas raut bahagia.
            Aku diam. Lantas aku membayangkan raut wajah ibuku. Teringat impianku menghadiahi mahkota kehormatan untuknya di akhirat kelak lewat hafalanku pada kitab suci. Tapi sedetik kemudian aku teringat lagi jumlah hafalanku yang sedikit, juga semangatku yang seringkali kendor. Duh!! Astagfirullah.
“Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar Al-qur’an dan mengajarkannya” (HR.Bukhari)

            MasyaAllah dek. Semangatmu dalam mempelajari Al-qur’an menjadi pecutan tersendiri untukku. Untuk mempelajari dan mengajarkan Al-qur’an atau bahkan menghafalkan kitab suci yang bisa menjadi syafa’at di akhirat kelak. 

Komentar

share!