Dear calon mantan pacar, inilah hal yang harus kamu dengar namun tak pernah kusampaikan

Karya: PERICHOR


Sepuluh bulan semenjak pertama kali berkenalan di coffee shop tempat kita bekerja sebagai barista. Aku tidak pernah menyangka akan menjatuhkan hatiku padamu. Bukan karena kamu tidak menarik, bukan. Wajahmu tampan, tinggi badanmu sesuai dengan ekspektasiku terhadap tipe pria idaman, kamu juga pandai bergaul dan aku yakin pasti dengan sifatmu itu banyak perempuan yang diam-diam menyimpan perasaannya kepadamu. Namun, entahlah. Walau aku dengan mudah akan memuji betapa indah ciptaan tuhan saat aku melihatmu tapi tak pernah terbesit sedikitpun pemikiran bahwa aku suka kamu.



Saat itensitas pertemuan kita semakin meningkat diluar jam kerja, kita menjadi semakin dekat karena banyak informasi pribadi yang kita bagi. Aku dengan senang hati membantu dia menyelesaikan permasalahannya begitu juga sebaliknya. Within no time, kita menjadi dekat disaat hanya tersisa dua bulan waktu yang ada sebelum kontrak kerja partime kita habis. Senang karena tidak harus capek bekerja dan bisa fokus skripsi tapi juga sedih karena kita harus berpisah disaat baru saja mulai dekat.
Perlahan kamu mulai memberikan perhatian lebih. Dan tentu saja hal itu kusambut dengan hangat. Mungkin karena usiamu lebih muda dariku jadi aku tidak pernah berpikir untuk menjadi lebih dari teman. Tapi, setelah sekian lama bersama aku semakin nyaman dengan hubungan kita. Tepat disaat aku memutuskan untuk membuka hati padamu, tepat disaat itulah kamu menyerah dan memutuskan untuk berhenti berjuang mendapatkan hatiku. Aku terluka.
Ingin rasanya aku memukulmu supaya kau rasakan sakitku. Sakit akan perbuatanmu. Membiarkan aku jatuh mencintaimu dalam dan kamu dengan mudahnya hempaskan aku layaknya aku mikroorganisme kasatmata yang tidak ada artinya. Marah aku pada dirimu dan juga pada diriku sendiri. Atas kelalaian yang membiarkan aku mudah hanyut dalam pesonamu dalam kenangan indah saat kita bersama dan tak mampu beranjak. Berlarut-larut dalam jurang penderitaan yang kubuat sendiri.
Tahun berganti baru, andai waktu itu aku sedikit lebih peka memahami sikap manis dan perhatianmu. Bisa jadi kini kita telah merayakan 1st anniversary. Apalagi semenjak salah satu teman kita, bercerita saat kita reuni, bahwa dahulu kamu pernah mati gaya dan tidak tahu harus berbuat apa saat menyadari jikalau saat itu kamu jatuh hati padaku. Kamu mulai menyakan apa yang aku suka, meminta nasehat darinya dan memintanya untuk merahasiakan hal ini padaku. Luka itu masih membekas disana, belum sepenuhnya terobati. Mendengar hal itu membuatku berpikir akan dua kemungkinan. Haruskah aku menuntaskan apa yang belum tuntas di masa lalu atau kubiarkan saja rasa ini terkubur seiring dengan berjalannya waktu?
 “It was a roller coaster ride with you. You fly me high and crush me down. We fight we laugh. Can’t hide can’t show up but you might already know. I don’t play these kind of games. Stop messing around with me. Is it your weapon? Which makes me, her, and other thousand girl out there are paralyzed with your love poison? Dark and sweet. Lost in love. I can’t let myself drunk ‘cause it hurt me badly, it hurt me deeply. I’m dying. Tough it hard for me not to missing you but I know I can’t stay any longer. Love is weird, isn’t it? How can we loved and hurted by the same person?!”
Aku rasa sudah waktunya aku mengakhiri penjara perasaan yang aku buat sendiri. Ramadhan kali ini, akan menjadi moment penting buat aku melepaskanmu. Melepaskan segala rasa yang membuat aku terkekang. Terkekang oleh lara dan duka tiada terkira. Banyak aku berdoa kepada-Nya. Untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sekiranya, dengan ini aku akan mendapatkan kekuatan untuk memulai untuk mengakhiri. Agar kelak Allah akan mengirimkan kepadaku laki-laki terbaik yang bisa menjadi imam bagiku dan anak-anakku kelak di masa depan.

Komentar

share!