Dalam Borneo

Karya: Anggra Satria Wijaya


Aku terujung sebagai laki-laki berupa makhluk yang harus berkelana. Masa sekolah menengah memang membatasi bertualang, namun tidak dengan saat-saat kuliah seperti ini. Pelajaran adalah alam, lingkungan sosial dan segala sesuatu, tidak terbuntu pada bangku-bangku kosong kelas kuliahan. Begitupun aku, entah berapa banyak jam kredit semester yang kuabaikan. Aku bekerja, sekaligus belajar dunia. Apa-apa yang tak akan pernah kuperoleh dari kepala-kepala botak dosen dan segala bentuk catatan rapi temanku. Hingga pada suatu waktu kesempatan yang lebih jauh datang. Kalimantan. Bos punya proyek di sana. Aku pergi sesaat sebelum memasuki bulan puasa. Aku tak peduli. Tidak dengan orang-orang yang selalu pulang ke rumah pada awalnya, aku malah pergi, jauh ke luar pulau.



            Bersama pesawat memang selalu membuat paranoid. Maunya selalu dipaksakan tidur sewaktu di atas, boro-boro. Tangan berkeringat, dingin. Bukan karena apa-apa, hanya saja pendingin udaranya terlalu kencang. Berdua dengan rekan kerjaku, dia malah santai membaca majalah antah berantah dari kantung belakang kursi, lalu tidur hingga aku harus menahan rasa ini sendirian. Di dalam udara, kadang tempat berpijak ini bergetar. Aku hanya heran melihat sang pramugari. Dia duduk dengan rapi seolah cuek, mengobrol genit dengan rekan di sampingnya. Aku yang melihat mereka hanya bengong, kucoba pejamkan mata. Sudah kuduga, mustahil bisa tertidur pikirku.
            Kurang lebih satu jam akhirnya tiba juga di ibukota negara. Dari atas kulihat sungguh padat, seperti kerumunan yang benar-benar rapat. Iya, ini pertama kali bagiku, bahkan ke Jakarta yang sering bolak-balik disinggahi orang-orang. Begitulah, memang belum ada kesempatan sebelumnya. Kesan pertama biasa saja, tak ada yang istimewa dengan gerbang masuk udara ini. Cuma, saat melihat lalu lintas di luarnya, luar biasa. Bahkan seorang barat yang duduk di dekatku terpana dengan merayapnya kendaran-kendaraan pribadi itu. Dia sedikit tersenyum, sepertinya mengejek. Aku tak terlalu peduli, hanya memeluk ranselku dengan erat sembari sesekali kutangkap lirikan perempuan pria barat itu padaku. Pada akhir jalan, Shuttle bus yang kunaiki itu berujung pada momen yang indah, dalam artian yang sebenarnya. Langit memerah di cakrawala. Sepasang barat tadi tersenyum, menunjuk pasangannya pada cahaya yang indah itu. Aku pun begitu, terkagum.
            Dalam deru roda pesawat yang menggilas lembut aspal yang hitam, akhirnya tiba dalam rintik hujan dibandara yang agak terlihat berbeda. Rasanya ada tembok-tembok di jauh sana berupa kaca-kaca yang berkilau, bahkan pada malam seperti ini. Bandara Sepinggan, begitulah namanya, namun belakangan kabar sudah berganti menjadi Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Mungkin karena bangunan yang lama telah diubah menjadi seperti ini, lalu nama pun mesti berganti. Begitulah, lalu aku pun berjalan menelusuri lorong putih yang sudah sepi karena larut. Putih, berbeda sekali dengan bandara di tempat tinggalku.
            Perjalanan yang karena malam mengakibatkan tak dapatnya merekam situasi kota Balikpapan. Aku hanya duduk saja di mobil yang sedang menderu menuju Samarinda.
            Pagi harinya aku keluar kos. Barulah sadar bahwa jalan antar kota begitu mengerikan, kiri kanan jurang, berbelok-belok seolah ular yang sedang melata. Aku bahkan tidak menyadarinya semalam Udara segar sekali. Aku merasa ada suasana nostalgia di sini. Pagi tak begitu dingin.. Ada hal yang membuatku agak aneh. Keadaan di sini rasanya seperti situasi belasan tahun yang lalu di tempatku. Rumah-rumah berupa dinding papan dan kayu, serta dengan ukuran yang relatif kecil dibandingkan dengan apa yang biasa kulihat. Kukira Kalimantan itu kaya dan mengayakan penduduknya, mungkin aku salah. Namun perihal itu, ternyata ada yang kaya memang, beberapa saja di kota katanya, yang rumahnya seperti mal-mal di Jakarta itu. Ada pula satu hal menarik perhatianku, ternyata orang-orang di sini mayoritas merupakan ras Jawa, jadi aneh sekali rasanya berada di Kalimantan, namun yang terdengar sehari-hari adalah percakapan dalam bahasa Jawa yang kental.
            Siang hari di bulan puasa itu aku sedang duduk-duduk di bawah pohon rindang dekat proyek, hanya sekedar beristirahat dari pekerjaan lapangan yang cukup menguras tenaga. Cuaca memang cerah namun tidak terlalu panas seperti kampung halaman. Lalu semerta ada seorang bapak-bapak bertubuh gempal berambut keriting menghampiri.
            “Pak, ini proyek sudah ada ijinnya belum?” tanyanya dengan nada mengintimidasi. Tak ada senyum, wajahnya masam..
            Dalam hatiku tentu sudah bukan. Bagaimana bisa yang memiliki proyek pemerintah itu sendiri namun tak berijin.
            “Jangan asal caplok tanah orang Pak. Kami ini sudah lama di sini. Bapak tahukan di atas tanah itu ada batang-batang bambu dan lain-lain yang berharga. Nah, coba lihat sekarang, dijadikan aliran sungai seperti itu.” ujarnya dengan nada yang semakin meninggi. Adrenalinku yang lemas karena berpuasa agak sediki terpicu.
            “Begini, maaf Pak. Saya pikir sejak sebelum saya datang ke sini masalah perijinan sudah beres. Bukankah pernah dikumpulkan dalam suatu pertemuan siapa-siapa saja yang memangku kepentingan untuk membicarakan masalah itu.” jawabku dengan menahan degup jantung yang mulai meningkat. Aku berusaha menjelaskan sebaik dan sehalus mungkin.
            “Ah, ya ... itu kan lain urusannya. Saya di sini sebagai wakil keluarga. Tidak ada tuh yang minta ijin dengan kami. Kalian main asal saja. Jangan macam-macam ya di sini, saya bisa laporkan ke polisi lho.” Ucapnya dengan lagak. Tangannya di pinggang, sambil menunjuk ke sana kemari. Aku yang berada dihadapannya hanya bisa menahan diri.
            Pikirku tak peduli, bapak ini benar-benar orang yang tidak mengerti. Aku selalu menolak menilai orang dari penampilannya, namun setelah mendengar cara dan apa yang dikatakan orang ini, ternyata seiring dengan penampilannya. Aku pun berusaha mencari jalan aman.
            “Begini saja Pak, nanti beberapa hari lagi bos saya datang ke sini. Bapak bisa membicarakannya dengan beliau. Saya di sini hanya sebagai pegawai yang bertugas. Bapak bersabar saja dulu sampai beliau tiba ... hm, ngomong-ngomong nama bapak siapa? Bolehkah minta nomor ponsel agar nanti saya bisa hubungi untuk dibicarakan lagi?” Begitulah, aku mencoba mengganti topik dan berusaha meredakan emosinya, dan nampaknya berhasil. Nada bicaranya mulai menurun, dia berusaha menyebutkan nomornya untuk kuketik di ponselku.
            Kemudian menit-menit berlalu hingga sang bapak itu pergi. Aku hanya bisa memaklumi apa yang dilakukannya. Proyek-proyek seperti ini memang riskan akan konflik. Belum lagi masalah irigasi warga yang terganggu, hingga beberapa minggu kemudian warga mengancam demo di kecamatan, serta memaksa kami untuk menutup sudetan dengan kemampuan sendiri.
            Beberapa hari berselang bos datang. Usut punya usut, masalahnya hanya satu. Ya, benar ,UANG. Mereka ingin memanfaatkan adanya proyek itu untuk memeras kami. Sebagai orang pribumi yang mengaku rugi karena beberapa tanamannya hilang, mereka menagih ganti rugi yang tidak wajar. Beberapa rumpun bambu dengan bilangan belasan juta.
            Dengan topografi yang berbukit, maka kesan yang ditimbulkan benar-benar seperti sedang di pelosok, padahal desa ini terhitung dekat dengan kota, hanya belasan kilo. Kemudian baru aku tahu ternyata memang tempat ini seperti pepatah ayam yang kelaparan di ladang padi. Jalan desa hampir selalu dilewati kendaraan-kendaraan perusahaan tambang. Seperti jeep-jeep modern yang beroda besar-besar itu. Orang desa yang bekerja di perusahaan hilir mudik pagi dan petang berduyun-duyun. Kadang berjalan kaki dengan safety boot dan helm yang keren itu, kadang pula naik sepeda motor yang berdebu. Paling cukup untuk hidup pikirku, kalau untuk kaya, mungkin mustahil, uangnya tidak ada di sini melainkan di luar sana telah dibawa lari. Namun terlepas dari semua itu, terdapat harta sejati yang mereka miliki. Para petani dan pegawai tambang itu selama ramadhan beramai-ramai berbuka puasa di surau. Inilah yang membuatku betah di sini.
            Surau di depan kos diurus oleh seorang ustad yang sederhana, berumah dan berwarung kecil disamping surau itu. Aku yang kadang lewat pergi pulang selalu sulit untuk menyapa. Wajah pak ustad hampir selalu masam, mungkin karena kumisnya yang tebal itu, namun kali ini memang hanya tampak luarnya saja, kau tak melihat suatu kali beliau tersenyum, rasanya manis sekali. Sore-sore beliau mengajar membaca Al-Qur’an. Aku yang sedang berbaring di kos tersenyum mendengar anak-anak itu bergantian mengaji hingga maghrib.
            “Ayo Dik, buka di sini saja.” ajak seorang ibu yang rupa-rupanya istri pak ustad.
            “Oh iya Bu, nanti saya mampir” jawabku sambil tersenyum.
            Pikirku dengan keadaan yang berpuasa seorang diri, alangkah lebih baik pergi ke surau untuk sekedar sedikit berbaur. Maghrib tiba. Aku yang sudah mandi bersih bergegas ke surau yang dekat sekali itu. Anak-anak berlarian. Ibu-ibu berjalan dengan mukena putih mereka. Anak gadis? Kupikir sedikit sekali, aku hampir-hampir tidak memperhatikan.
            “Ayo, silahkan duduk.” tawar seorang bapak dengan sangat ramah, mungkin karena darah Jawanya.
            “Oh iya, baik Pak.” Aku pun duduk dengan bersila berhadapan dengan bapak-bapak di teras surau. Lalu segera setelah waktu berbuka tiba, segala macam makanan dan minuman disajikan. Penuh, ada segala jenis gorengan, kue-kue, minuman dari teh, cendol, hingga sirup yang membuat bingung mana yang mau diambil duluan. Aku yang hanya bengong malu-malu langsung ditegur.
            “Hei, jangan malu-malu.” canda seorang bapak dengan senyumnya yang tulus. Aku yang memang kurang nutrisi selama di sini pun tak segan lagi. Segala macam makan kucoba. Tawa canda dan berbagai macam obrolan membuat ramai teras surau itu. Aku pun seskali ikut tersenyum hanya untuk berusaha memahami raut wajah mereka.
            Memang benar dalam sebuah kehidupan ternyata bukan harta yang utama. Boleh benar tanah ini sedang dieksploitasi dengan sangat mengerikan, namun dengan kebahagian yang terlihat dan terasa nyata seperti ini, aku pun mereasa tak apalah. Mereka mungkin jauh lebih kaya. Atau bisa jadi jika harta-harta bumi itu dipakai untuk mengayakan mereka, tak akan ada surau kecil yang ramai ini. Mungkin pula tak ada perkumpulan dan pertemuan yang erat seperti ini. Kekayaan yang ada pada mereka bisa jadi hanya akan membuat hidup sendiri-sendiri dengan rumah besar berpagar tembok tinggi-tinggi.
            Beberapa saat sebelum lebaran aku pulang. Kupikir entah kapan lagi ke sini. Pamit kepada sepasang bapak ibu pemilik kos rasanya membuat agak sedih. Katanya lebaran di sini tidak begitu ramai, banyak dari warga yang malah mudik ke Jawa. Aku juga sama, tidak bisa membayangkan berlebaran di sini, ah aku masih seperti kebanyakan juga ternyata. Berujung pada kepulangan dari pekerjaan dan petualangan, walaupun sedikit, namun benar-benar membuat hidup ini lebih berarti. Dari kembali kagumnya aku pada sebuah bandara yang mewah, lalu berujung pada keringat dingin di dalam pesawat, aku bersyukur.

***

Komentar

share!