CERITA RAMADHANKU

Karya: Mulkan Kautsar Sofyan


Setelah ujian akhir semester selesai aku memutuskan untuk liburan beberapa hari ke Sabang. Aku rindu dengan keponakanku yang sudah masuk SD. Disana aku menjalani tradisi meughang (Memasak daging sapi menyambut ramadhan) dan puasa hari pertama dengan jalan jalan ke Pantai sumur tiga, Pantai anoe Itam, benteng Jepang, Sabang fair, Pantai kasih dan Danau aneuk laot. Tiba tiba komisaris kelas mengabari bahwa ada dosen yang minta untuk ujian lagi. Stelah itu ibu juga mengabari kalau ayah sedang sakit. Aku pun memutuskan untuk pulang kampung keesokan paginya. Aku bersyukur hari itu cuaca sangat bersahabat karena sebelumnya ombak sempat mencapai 2 meter.

            Setelah ujian tersebut yang benar benar ujian terakhir aku pun akan segera pulang kampung. Untuk pertama kalinya ayah dan ibu mengizinkanku pulang naik motor sejak aku kuliah selama 3 tahun. Aku pulang bersama seorang kawan dan sepanjang perjalanan kami memperbanyak berhenti. Cuaca hari itu sangat panas namun kami tetap harus menjaga puasa  kami. Beberapa titik menjadi tempat istirahat kami yaitu di Saree Kabupaten Aceh besar, Kota Sigli kabupaten Pidie, Trienggadeng kabupaten Pidie Jaya serta Samalanga dan Blangblahdeh di kabupaten Bireuen. Di Samalanga kami menyempatkan diri untuk berfoto di depan monumen Tun Sri Lanang, beliau seorang pujangga melayu yang telah melahirkan banyak karya sastra di Indonesia. Sang kawan menemaniku hanya sampai di Bireuen sedangkan aku harus melanjutkan perjalanan sampai ke Matangglumpangdua. Karena terlalu banyak istirahat, perjalanan sejauh 232 Km harus ditempuh selama 6 jam.



            Aku hampir tidak mengenali rumahku lagi. Padahal aku hanya meninggalkannya selama 4 bulan. Rumahku sedang direnovasi dan karena hal itu pula aku harus tidur di lantai sampai saat ini. Apa yang aku lakukan selama di kampung? Mengupas pinang. Iya, pinang adalah salah satu komoditi unggulan di daerahku. Jadi untuk membiayai kuliahku di perantauan, aku juga harus membantu orang tua. Aku juga sedang mengerjakan Praktek Keterampilan di Dinas Pertanian dengan topik Teknik pengolahan tanah dan pemupukan tanaman jeruk pamelo giri Matang. Nah sekedar info nih, Giri matang merupakan varietas asli jeruk pamelo khas dari daerah kami. Jadi aku sengaja mengambil Praktek keterampilan disini sambil bisa membantu orang tua untuk meringankan pekerjaan mereka.

Ada banyak sekali hal yang bisa aku lakukan di kampung yang tidak bisa aku lakukan di perantauan. Disini aku tidak perlu membeli mangga atau kelapa muda jika menginginkannya karena tinggal naik ke pohonnya lalu petik. Ya jangan dimakan kalau belum berbuka puasa, nanti batal puasanya. Disini aku bisa bertemu teman lama dan bercerita banyak hhal dengan mereka. Suasana berpuasa disini juga lebih seru karena bisa bercengkerama bersama keluarga tercinta.

Bercerita tentang tradisi yang kami lakukan dalam menyambut bulan ramadhan. Sebelum memasuki bulan ramadhan, dua hari sebelumnya ada tradisi ‘Meughang ubeut” disini yaitu kenduri kecil dimana setiap kelurga akan makan enak. Esoknya akan dimulai “Meughang rayeuk”, hari itu di semua rumah akan ada tradisi memasak daging sapi. Kemudian dalam sebulan ramadhan setiap keluarga punya andil dalam menyediakan makanan berbuka puasa di mesjid. Disini setiap pagi setelah shalat shubuh ada kebiasaan lari pagi bersama yang biasa disebut “asmara shubuh” dan ini hanya sering dilakukan dibulan ramadhan.

Ada satu kegiatan yang paling kusenangi saat menunggu berbuka puasa. Aku suka menulis dan menghabiskan waktu untuk menulis adalah hal yang sangat bermanfaat. Disamping bisa mencurahkan perasaan dan pemikiran, dengan sering menulis kita juga bisa meningkatkan kualitas tulisan yang kita hasilkan. Aku masih terus belajar untuk menjadi seorang penulis karena aku percaya tidak ada hasil yang akan mengkhianati usaha. Jika kita berusaha, selalu ada jalan bagi kita untuk mencapai mimpi.

            Ramadhan kali ini memang menjadi sangat berbeda dengan ramadahan sebelumnya. Saat ramadhan tahun lalu menjadi pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Sehari sebelum aku akan pulang kampung, nenekku sakit dan harus dirujuk ke Rumah sakit di kota Banda aceh. Aku mengurungkan niatku untuk pulang kampung dan memutuskan menjaga nenek. Dua puluh hari aku harus tidur dirumah sakit dan semua aktivitas harus kulakukan disana. Sahur dan berbuka puasa disamping nenek yang belum sadarkan diri dan mandi di toilet rumah sakit. Pindah dari satu kamar ke kamar yang lain sudah beberapa kali aku rasakan, apalagi tidur di lantai dimana orang orang lalu lalang disitu. Aku juga harus merasakan rasa kantuk yang luar biasa lalu digusur setiap pagi karena kamar pasien harus dibersihkan. Setelah 20 hari dirawat, disana nenek meninggal dunia. Saat itu aku sangat sedih karena kehilangan nenek yang telah mengajariku banyak hal. Aku sangat merindukan nenek hingga saat ini.


            Kapanpun ramadhan itu, aku akan selalu menanti karena saat ramadhanlah aku bisa melakukan banyak hal. Aku tidak ingin menyia nyiakan ramadhan kali ini karena kita tidak akan tahu kapan umur kita akan berakhir. Selamat datang ramadhan.

Komentar

share!