BERSIAP-SIAPLAH

 Karya: Putu Asprila Sutejo
 

Kedai kopi ini memang selalu ramai saat bulan puasa, di malam hari tentunya. Kebahagian akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya di kedai kopi ini orang-orang bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara terbaik pula. Atep, seorang pelayan di kedai ini galau, karena mungkin mudiknya kacau.

http://kafekopi.blogspot.co.id/2016/06/kirimkan-naskahmu-untuk-diedit_27.html

“Atep, antar kopi ini ke meja nomor lima, di sudut sana!”
“Kopi macam apa ini, pekat sekali”
“Itu kopi terpahit, Kopi Empedu. Segelas saja kau minum itu kedua katup matamu tak mungkin bisa dirapatkan, cocok untuk nonton bola Tep”
Atep merasa tersesat di jalan yang benar, rekannya bilang kedai ini akan begitu ramai saat mendekati lebaran nanti, tak ada waktu untuk istirahat. Konfliknya Atep ingin sekali mudik, tapi pekerjaannya justru bergaji besar saat itu. Atep benar-benar tersesat di jalan yang benar. Sempat ada cucunguk yang menawarkan pekerjaan lain sebelum puasa kemarin. Tapi Atep menolaknya, gajinya kecil. Di kedai ini memang honornya lumayan, tapi mudik juga harus dilupakan.
“Silakan, Pak. Kopinya”
“Pasti, tak ada kopi semantap ini di penjuru dunia manapun”
Aroma kopi itu memang begitu menggoda, kental. Atep pasti mencuri asapnya ketika mengantar ke meja-meja pelanggan. Aroma asap yang berasal dari kopi yang diantarnya itu seperti aroma surga, membuatnya merem-melek.
Hidup untuk bertahan hidup. Setiap hari Atep hidup untuk memperthankan hidup. Rekannya bilang Kopi Empedu adalah kopi terpahit, tapi tak ada yang lebih pahit ketimbang tak bisa mudik menjelang lebaran.
“Atep, kau melamun saja. Antah barantah pikiranmu, ya?”
“Ya, antah barantah. Aku ingin pulang kandang, pulang kandang terbaik ya di hari kemenangan, tapi di sini penjara”
“Hus, aku juga sejalan denganmu, Tep. Aku ingin sekali menemui bos, tapi ia tak pernah ke sini tiga tahun terakhir ini. Kedai ini ya dipercayakan pada suruhannya itu, yang super pelit THR”
“Aku juga keok tanpa THR. Harga sembako membuncit menjelang Lebaran. Memang di mana rumah bos kita?”
“Di Toraja, Sudut Kota, katanya”
Atep jadi tahu, ternyata bos yang belum pernah ia temui itu mendekam di Toraja, Sudut Kota.
Meski Atep sudah hampir dua tahun bekerja di kedai ini, namun ia belum pernah mencicipi pahitnya Kopi Empedu, memang mahal, 250 ribu secangkir mini, tentu Atep keok untuk membelinya. Gajinya cuma cukup untuk makan dan sewa kos, sisanya ditabung agar terlihat bawa uang banyak dan sukses ketika pulang kampung nanti. Setiap hendak berbuka puasa, lidahnya selalu membasahi kedua katub bibirnya, mengkhayal nikmatnya Kopi Empedu.
“Gila, kopi secangkir mini harganya 250 ribu!”
“Tentu, Tep. Ini kopi dari Toraja, di Jakarta tak mungkin ada selain di kedai ini. Kau belum mencoba, berarti belum merasakan hidup”
“Mencoba atau tidak itu tak berpengaruh, hidup terasa selalu pahit, sepahit Kopi Empedu dari Toraja itu”
Di luar beranda mereka, bocah-bocah jor-joran main petasan di depan kedai, emper toko berestalase bening, trotoar, dan halaman rumah. Pedagang kolak berderet-deret, beradu cuap menawarkan produk unggulannya. Banyak juga warga yang berbondong-bondong ke masjid untuk sholat, dan mendengerkan ceramah yang sering disebut kultum.
Setiap hendak berbuka puasa Atep selalu membeli gorengan dengan dilengkapi secangkir kopi. Kedua bola matanya yang kuyu selalu memandang girang bocah-bocah di luar sana, sambil menunggu waktu berbuka. Eh, ngabuburit maksudnya.
“Sial, lama sekali beduknya. Mendoan sudah hampir dingin, sedingin hatiku. Kopi juga terlihat semakin pahit, sepahit kenyataan”
Angka-angka yang tertera di kalender sudah tersilang banyak oleh Atep, di coret. Malam itu langit seperti mempunyai bintang baru yang tercipta dari tangan bocah-bocah. Meriah sekali, bunyi petasan bergelut di angkasa. Keluarga berkumpul untuk menikmati malam ini. Lain sudut, orang suka-ria hura-hura menyambut Hari Kemenangan, Atep dan rekannya terpasung rantai pelanggan. Untung Atep dan rekannya tak ngomel. Mungkin atasannya sudah berhasil mencuci otak mereka. Bocah-bocah bersama orang tuanya main petasan di luar sana, bahagia sekali bukan ? jelas.
”Atep, minal aidin walfa izin!”
Balas Atep ngakak.
”Pasti? Sudah yakin besok?”
”Pasti, sudah koar-koar di TV”
Berkerumun, berombong-rombongan, bergerombol seperti tawon. Kedai ini ramai sekali. Meja penuh, gula juga sudah habis ratusan kaleng. Atep gesit, mencuci cangkir dan mengantar pesanan, bolak-balik-bolak-balik, dari orang satu ke orang lain, dari pasangan satu ke pasangan lain, keluarga satu ke keluarga lain, dan tentunya dari sudut satu ke sudut lain. Asap hangat yang mengepul dari kopi yang diantarnya sesekali menghilangkan capek, harum sekali, bikin merem-melek, aduhay.
Sesampai semua sudah Atep layani, ngobrol juga dia dengan kamu, yang pesan Kopi Empedu di meja paling pojok, yang baru saja dilayani.
“Mas, sudah lama kerja di sini toh?”
“Sudah hampir dua tahun, Pak. Gila!”
Kamu menggelengkan kepala tiga kali.
“Gila?”
“Ya, Bapak bisa lihat wajahku seperti setengah waras kan? Gaji tak naik-naik, THR sedikit, hanya bisa ditukar beras sekilo. Semua harga membuncit menjelang Lebaran, siapa yang tak keok ? Kata temanku bos tiga tahun ini juga tak pernah datang ,boro-boro menaikkan gaji, dia pintar menyuruh suruhannya itu untuk mencuci otak pelayan di sini agar tak melakukan pemberontakan”
Lalu kamu menyeruput Kopi Empedu mahal itu dari cangkir mininya, gleguk-gleguk-gleguk.
“Aku tak pernah lihat Bapak sebelumnya, Bapak orang mana ya?”
Kamu menjawab.
“Toraja, Sudut Kota”

Purworejo,2016

Komentar

  1. unexpected :) unexpected ending. dan itu yang unik. akhirnya tak terduga dan keren.

    BalasHapus
  2. kereeeenn :D makna yang dalam dan akhir yang mengejukan. wajib baca kalo ini :)
    dijamin kereen :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. udang temenya buat baca dong, penting ini buat menang :D

      Hapus
  3. wah ini keren buangetttt!!!! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih, Mas Sendy.. salam literasi :D

      Hapus
  4. Ya, Sama sama Mas Putu , Terus Berkarya kalau Nggak menang Juri'nya Kurang Teliti :D Hihihi

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!