Benarkah Setan Dibelenggu

Karya:Argita Sativa


Alhamdulillah... Kini aku merasa lega. Ulangan akhir semester telah  berlalu, meski raport belum kuterima, namun untuk beberapa hari ke depan tak ada tugas dan pr yang membebani pikiranku. Ya, karena libur panjang di bulan Ramadhan satu bulan lebih seminggu.
Malam itu adalah terakhir kali aku menghuni asrama sekolah di akhir semester dua. Hampir semua penghuni asrama telah berpulang ke kampung halaman masing-masing. Asrama yang biasanya ramai jadi  senyap hampir seperti kuburan. Aku berbaring di bedku sambil memikirkan kegiatan apa yang akan kulakukan untuk mengisi liburanku. ”Hmm, banyak hal.. maka aku tak boleh membiarkan hari-hariku berlalu percuma. Tak boleh piara malas seperti biasa” Aku bergeming sendiri.
***




Beberapa waktupun berlalu, aku yang sudah berusaha memejamkan mataku meski ruang telah gelap tanpa lampu, namun tetap saja aku masih terjaga. Aku belum mengantuk, aku teringat ada sesuatu yang harus kulakukan sebelum pulang. Aku sudah merencanakan, setelah ulangan aku akan membuat sebuah kerajinan tangan dari kertas koran untuk kado ulang tahun temanku, Cantika.Ya, bentuk silindris dengan lingkaran sebagai tutupnya yang didalamnya akan kuisi dua pasang deker tangan warna hitam dan putih, hmm... satu bulan yang lalu aku membelinya di Toko Bu Murah.
Satu persatu segitiga sama kaki dari koran itu kususun membentuk sebuah lingkaran sebagai alas silindris dengan lem tembak. Baru terbentuk alas dari silindris itu, mulutku menguap disusul mataku mengeluarkan airnya seperti keadaan mengantuk biasanya. Namun aku harus menyelesaikannya sebelum pulang. Aku mencoba melebarkan kelopak mataku agar tak mengantuk lagi. Tapi malah hasilnya tak karuhan,” Ya, pantaslah ! Jarum jam sudah menunjukkan pukul  dua  lebih lima belas menit dini hari” Aku bicara dengan diriku sendiri di ruang belajar asrama sekolah yang sepi. Akupun bergegas ke kamar dan bersiap untuk tidur. “Aku harus tidur sekarang ataukah menunggu sampai waku sahur tiba?” aku bertanya pada diriku sendiri. Kemudian aku memutuskan untuk tidur lagi dan untuk berjaga-jaga aku mengatur alarm di telepon genggamku pukul tiga lebih lima belas.
***
“Ai... Ayuuk.. Kamu tadi sahur??” teriak Amala, teman sekamarku merasuk dalam mimpiku. “Astaghfirullah... aku terlelap sampai tak mendengar alarm hpku bahkan adzanpun aku tak dengar” jawabku menyesal. Sampai terik mentari menembus lubang ventilasi di atas jendela kamarku. Ternyata sudah jam enam. Aku benar-benar merasa bersalah. Seharusnya aku tidak usah tidur sampai sahur. Aku segera berwudhu dan melaksanakan shalat subuh. Dalam sujudku, aku memohon ampunanNya dan berharap tak akan mengulanginya.
Usai sholat aku termenung sambil melipat mukena baliku, dengan pandangan mata yang kosong terlintas di pikiranku “Di bulan Ramadhan para setan dibelenggu”sebuah kalimat yang disampaikan setiap kali Ramadhan. Aku juga pernah mendengar bahwa ketika seseorang terlelap dalam tidur sehingga ia tak mendengar adzan subuh, berarti ada setan yang kencing di telinganya. “Berati kalau di bulan Ramadhan bagaimana? Apakah itu masih berlaku, ya? Kan para setan dibelenggu” tanyaku dalam hati.
“Aii.. Jadikan nyuci baju bareng di tempat cuci bawah? ujar Shabrina menyadarkanku dari lamunanku hingga akupun berkedip. “Iya, jadi Shab. Tapi kita mandi dulu aja deh!” jawabku menoleh ke arahnya. “Oke, tapi kita harus cepet. Kan nanti kita pulangnya naik bis” Shabrina menyetujuiku.
***
Setelah semuanya beres, aku dan Shabrina pulang ke kampung halaman naik bis. Dari sekolah menuju ke halte kami mengendarai becak yang ada di seberang jalan depan sekolah. Kami naik berdua dalam satu becak meski sopir becak itu sudah paruh baya ditambah lagi tas ransel besar berisi baju dan barang bawaan lainnya yang tentunya berat. Sebenarnya kami tak tega melihat pak tua tukang becak itu, namun beliaunya sendiri bilang tak apa. “Ya, sudahlah. Entar dikasih dobel” ujar Shabrina padaku. “Ya” jawabku singkat sambil mengangguk.
Beberapa saat kami berhenti karena rambu lantas lampunya merah. Terlihat di depan halte ada bis Bagong jurusan Kediri-Malang. Alhamdulillah, itu bis yang kami butuhkan. Tak perlu menunggu lama di halte seperti biasanya. Kamipun langsung masuk ke dalam bis itu dengan senang hati. Dalam perjalanan di bis, kembali terfikirkan olehku tentang hal itu. “Shab, kamu tau nggak kenapa masih ada manusia yang malas beribadah di bulan Ramadhan? Kan para setan katanya lagi di belenggu, lantas kenapa manusia malas beribadah?” tanyaku pada Shabrina yang sejak tadi duduk terdiam di sebelah kananku. “Mungkin karena hawa nafsunya. Mereka belum bisa melawannya” sambung Shabrina. “Iya, sih... bisa jadi” jawabku meng-iya-kan.
Sesampainya di rumah, ayah, ibu, kakak dan adikku menyambutku dengan gembira. Aku sungguh bahagia. Di rumah aku melakukan aktivitasku seperti biasa. Aku membantu ibu menyiapkan menu berbuka. Setelah terdengar adzan maghrib kemudian kamipun berbuka, hanya minum es buah dulu kemudian shalat Maghrib.
***
Hari ini aku sholat tarawih di Masjid Baitul Amal, masjid dekat rumah. Keadaannya memang berbeda dari biasanya. Ketika di asrama sekolah “Mahad Darul Ilmi” para santri diwajibkan sholat berjamaah ke masjid sekolah “Masjid At-Taqwa” untuk sholat Maghrib, Isya dan Subuh. Semua santri berlomba mendapatkan shaff depan atau ujung kanan karena  ingin di doakan malaikat. Sebelah kanan dan kiripun selalu rapat tak bolong. Kalau hari ini, di Masjid dekat rumahku shaffnya begitu longgar. Kembali terfikirkan olehku, Kata guru ngajiku, shaff sholat tak boleh bolong nanti ditempati setan. “Nah, kalau di bulan Ramadhan  setan dibelenggu berarti nggak papa to shaffnya bolong?” tanyaku dalam hati.
Setelah selesai shalat tarawih dan witir aku berjalan pulang melewati jalan terdekat menuju rumahku. Sampai di rumah aku langsung menuju kamar sholat, melepas mukena kemudian menyusul ibu di kamar tidur. Sambil berbaring aku teringat dulu ibu pernah bercerita tentang pamanku yang penakut. Ketika Ramadhan paman disuruh nenek mengambil sayur lodeh di rumah buyut. Jarak rumah nenek dan buyut lumayan dekat sebenarnya, namun pagi-pagi buta kan masih gelap. Pamanku takut kalau jalan sendirian. Kemudian beliau nekat naik sepeda. Sepulang dari rumah buyut tiba-tiba di jalan paman melihat ada putih-putih seperti pocong. Paman kehilangan keseimbangan hingga terjatuh beserta sayur lodehnya. Kembali terlintas di pikiranku “Mengapa paman bertemu pocong? Kan para setan dibelenggu di bulan Ramadhan” tanyaku dalam hati.
***
Rasa penasaranku semakin menjadi, tapi sayang sekarang masih libur panjang. Biasanya kalau ada yang ingin kuketahui tentang sesuatu yang berhubungan dengan agama seperti ini kutanyakan Bu Mila, guru Al-Qur’an Hadits di sekolahku. Beliau lulusan Al-Azhar, Mesir. Pengetahuan beliau begitu luas. Setahuku, apa yang disampaikan beliau selalu berdasarkan sumber yang shahih. Akhirnya aku mencari di internet dan diperoleh hasil sebagai berikut:
Hadits tentang dibelenggunya syetan di dalam bulan Ramadhan adalah hadits yang shahih menurut Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ r : إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّياَطِيْن
Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan dan pintu-pitu neraka akan ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu.” (HR Bukhari Muslim)

Ada yang berpendapat hadits seperti ini termasuk perkara ghaib, sikap orang muslim adalah menerima dan membenarkannya. Dan tidak kita memperbincangkan (apa kenyataan sesungguhnya)  di balik itu. Karena sikap tersebut  lebih menyelematkan agama seseorang dan lebih bagus akibatnya. Oleh karena itu ketika Abdullah bin Imam Ahmad berkata kepada bapaknya: “Sesungguh orang kerasukan (jin) pada bulan Ramadan (maksudnya mengapa sampai terjadi padahal katanya setan dibelenggu)”.  Imam Ahmad berkata: Begitulah hadits ini dan jangan membicarakan (lebih dalam masalah) ini.
Tampaknya, yang dimaksud 'dibelenggu'  adalah dibelenggunya setan dari upayanya menyesatkan manusia, dengan dalil banyaknya kebaikan dan orang yang bertaubat kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadan." (Majmu Fatawa, hal. 20)
Kesimpulannya, (makna) setan dibelenggu adalah bersifat hakiki (nyata), Allah yang lebih mengetahui tentang hal tersebut. Dan hal itu tidak harus berarti bahwa kejelekan dan kemaksiatan tidak terjadi di antara manusia. Wallahu’alam
Ada pula yang berpendapat bahwa:
1.      Dibelenggunya syetan hanya berlaku bagi mereka yang melakukan ibadah shaum dengan penuh keikhlasan.
2.      Yang dibelenggu hanya sebagian syetan saja, yaitu syetan yang membangkang
3.      Yang dimaksud adalah berkurangnya tindak kejahatan atau perilaku maksiat. Dan hal tersebut dapat kita rasakan meskipun masih terjadi tindak kejahatan atau kemaksiatan tapi biasanya tidak sebanyak di bulan-bulan lainnya.

4.      Tidak mesti dengan dibelenggunya syetan maka kemaksiatan akan hilang atau terhenti, karena masih ada sebab-sebab lainnya selain syetan. Bisa jadi kemaksiatan tersebut timbul karena sifat jelek manusianya, adat istiadat yang rusak, lingkungan masyarakat yang sudah bobrok, serta kemaksiatan tersebut bisa juga disebabkan oleh syetan-syetan dari golongan manusia

Komentar

share!