Ayah, Ibu, Cireng, Petasan dan Shalat Tarawih

Karya: Lur


            “Nun, sahur pertama dimana? Di rumah mamah? Tante ? atau di kostan?” Ujar wanita yang paling cantik di negriku Indonesia, ibuku.Beliau bercakap lewat handphone. Nun, diambil dari kata Nunun. Panggilan sayang keluargaku padaku.
            “Di kostan mah.”
            “Yasudah, nanti mamah paketin rendang aja buat sahur yaa.”Kalimat terakhir yang menjadi akhir pembicaraan malam itu. Tak terasa air mataku menetes setelah percakapan itu terputus. Karena memang keadaan keluarga kami telah sangat berubah dari tahun lalu, bahkan jauh setelah ayahku meninggal. Makan dan berkumpul bersama keluarga menjadi hal yang sangat asing. Bahkan aku harus melewati sahur pertama sendirian di kostan.



Aku seorang mahasiswi di salah satu universitas negeri yang cukup ternama di Indonesia. Unpad. Jatinangor. Semester enam. Yang usianya sebenarnya sudah cukup matang untuk menikah namun tertahan karena harus melewatkan dulu sebuah skripsi dan syarat utama menikah adalah mempunyai pasangan. Namun kata orang “MSTMJ” singkatan dari "Mau Semester Tujuh Masih Jomblo". Yang harusnya sudah bisa memberi ibuku uang, namun ketika aku tidak bekerja, aku yang meminta uang pada ibuku. Aku juga bekerja sebagai sales promotion girl di salah satu brand terkenal. Perlu di garis bawahi bukan rokok tapi produck mie instan. Aku bekerja menjadi SPG ini sudah setahun lebih dan mampu menopang kebutuhanku di kampus. Bahkan ketika berpuasa pun, aku tetap harus bekerja.
Bulan suci, bulan Ramadhan, bulan yang selalu di rindukan hampir semua orang. Di bulan ini waktunya orang-orang yang jarang bertemu tetangganya bisa bertemu dalam suatu pertemuan di mesjid. Mesjid begitu ramai tak seperti hari-hari biasanya. Ada minuman khusus juga yang jarang ditemui dibulan biasanya, yaa minuman kolek. Selain itu, jam sebelas malam masih terasa jam tujuh malam. Kembang api dan petasan yang paling bisa di temukan di berbagai trotoar jalan. Bulan ini juga jumlah pengemis naik dua kali lipat. Hampir semua orang senang menyambut bulan ini, namun semenjak ayahku meninggal, aku tidak pernah suka.
            Aku memang dilahirkan di bulan ramadhan. Yang disukai banyak orang namun nampaknya tidak bagi ibuku atas kelahiranku. Ibuku pernah bercerita bahwa saat aku berada didalam janin, ibuku berusaha menggugurkannya dengan meminum banyak jamu. Mereka. Kondisi keuangan eonomi keluargaku memang sedang sangat kritis saat itu, tak heran jika aku sebenarnya bukan anak yang diinginkan Namun nampaknya Tuhan berkata lain, bahwa aku harus merasakan bagaimana kejamnya dunia.
Aku terlahir bukan dari keluarga berada. Dulu, almarhum ayahku hanya berpenghasilan sebagai pedagang cireng di sekolah dasar tempat aku bersekolah dan ibuku yang membantu ayahku membuatkan Cireng. Cireng adalah salah satu jenis jajanan warga Bandung. Aku mempunyai dua kakak laki-laki, dan satu orang kakak perempuan. Yang pertama bernama Eep, dia bekerja sendiri, mengandalkan orang yang membutuhkannya untuk memperbaiki alat-alat elektronik. Yang kedua bernama Ceko, bekerja di salah satu televisi stasiun swasta menjadi penulis skenario, dia memang sangat mencintai dunia jurnalis dari SMP. Dan yang ketiga bernama Eva, dia hanya sebagai ibu rumah tangga. Mereka semua telah menikah.
“Petasan ini berapaan teh?” tanya seorang anak kecil kepadaku. Teteh adalah panggilan kepada perempuan yang lebih tua di pelataran Sunda.
“500 rupiah de.” Jawabku singkat.
“Teh, petasan korek ada ga?”
“Teh, beli petasan gangsing satu.”
“Kembalian seribu teh.”
Ketiga kalimat itu lah yang sering aku dengar di rumahku sendiri. Ketika bulan ramadhan, selain berjualan cireng dari sore hingga malam hari di pinggir jalan, ayahku memang berjualan petasan juga didalam rumahku dan kadang aku membantunya. Walau sebenarnya ada perasan malu dalam benakku. Kadang aku juga di ejek oleh teman-teman ku sendiri. Namun aku tetap bangga pada ayahku. Berkat pekerjaan ini, dia mampu membiayaiku dan ketiga kakakku.
Tahun 2008. Aku sudah memasuki SMP kelas dua. Dan sudah bertanya-tanya pada diriku sendiri. Mengapa ibu dan ayah berjualan hingga larut malam ? Aku sering pergi shalat tarawih bersama temanku, mengapa bukan dengan orangtuaku ? Mengapa aku belum pernah melihat mereka pergi  ke mesjid? Sebegitu tidak bisa di tinggalkanlah pekerjaan mereka? Sebegitu berjuang kerasnyakah mereka untuk membiayaiku? Dan aku berfikir mengapa Tuhan tidak adil? Mengapa orang-orang bisa pergi ke mesjid dengan keluarga mereka sedangkan aku tidak? Mengapa harus ini yang menjadi pilihan ayahku? Apa tidak ada pilihan lain? Apa memang sebenarnya Tuhan mempunyai banyak pilihan, hanya saja pilihan ini yang ayah ambil? Jadi siapa yang harus aku salahkan disini? Tuhan kah? Ayahku kah? Atau aku dan kakak-kakakku?
Memasuki SMA. Aku sudah menargetkan apa yang ingin aku capai. Salah satu mimpi sederhanaku hanya ingin melihat orangtuaku pergi solat tarawih ke mesjid. Mengapa Tuhan tidak mengabulkan permintaan sederhana ini? Aku berfikir, bagaimana jika kedua orangtuaku tahun depan sudah tidak bisa lagi melakukan shalat tarawih karena Tuhan telah memanggil mereka? Aku masih melibatkan Tuhan dalam kasus ini. Dan benar saja firasatku. Impianku tidak tercapai. Hari jumat, tepatnya tanggal 16 September 2011. Ayahku menghembuskan nafas untuk yang terakhir. Mimpiku yang satu ini tidak pernah terwujud. Tidak pernah.
Tahun 2012. Setelah ayahku meninggal, kakakku yang kedua yang menghidupi biayaku dan ibuku. Saat itu dia memang belum berumah tangga. Ini bulan ramadhan pertama yang kami lewati tanpa ayah kami. Atas permintaan anak-anak disekitar rumahku, ibuku kembali berjualan petasan. Aku membuat mimpi baru. Kali ini impiannya adalah melihat ibuku pergi shalat tarawih tanpa ayah. Dan impianku masih belum terwujud. Ibu masih belum bisa pergi kesana.
Tahun 2013-2014. Mimpi kecilku belum terwujud.
Tahun 2015. Dua minggu sebelum memasuki bulan Ramadhan. Cobaan silih berganti datang ke kehidupan keluarga kami. Namun masalah kali ini benar-benar menyiksa batin kami. Rumah yang kami tempati ternyata masih sengketa keluarga. Belum menjadi hak milik utuh almarhum ayahku. Singkat cerita, rumah itu kami jual dan yang membelinya adalah adik ayahku sendiri. Dan untuk pertama kalinya, kami sekeluarga benar-benar berpisah dan tidak pernah lagi berbuka puasa bersama setelah kejadian ini.

Tahun 2016. Ibu telah menikah lagi. Sudah tidak berjualan petasan maupun cireng lagi. Ini sudah puasa hari ke-dua belas. Dan aku belum pernah merasakan lagi nuansa ramadhan di Bandung, daerah rumahku. Namun percakapan lewat handphone dengan ibuku telah mewakili kebahagiaan yang aku harapkan dari dulu. Mimpi kecilku akhirnya terpenuhi. Ibu sudah pergi kemesjid sekarang, meski aku belum pernah melihatnya kesana sama sekali.

Komentar

share!