“Secangkir Kopi Hangat”

Karya: Rizky Novitasari

Sudah berulang kali gadis itu menghembuskan nafasnya secara pelahan untuk meredakan emosinya. Namun masih belum berhasil. Mungkin, karena ketukan pintu di kamarnya yang tak kunjung berhenti. Bahkan justru, semakin keras. “Labiza! Buka pintunya!”
            Gadis di dalam kamar itu lebih memiolih untuk menutup telinganya rapat-rapat, dibandingkan harus menuruti perintah dari wanita di balik pintu itu. Ia terus merapal doa agar ketukan itu dapat segera berhenti, agar ia bisa meredakan emosinya untuk tidak melakukan sesuatu yang buruk kepada wanita di balik pintu kamarnya. Ia terus merapalkan doanya di dalam hati. Namun, wanita itu tak pernah menyerah untuk mengetuk pintu kamarnya. Bentakan juga ketukannya terdengar semakin keras saja. Tubuh gadis itu menjadi gemetar, merasa muak dengan suara yang sedari tadi didengarnya.
            Kepalanya mendongak, menatap jendela kamarnya yang sudah tertutupi hordeng berwarna coklat kayu. Sebuah ide terlintas dalam kepalanya. Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya, berjalan perlahan menuju jendela kamarnya, mengabaikan segala teriakan dari luar kamarnya. “Labiza! Keluar kamu!”


            Gadis itu membuka gordyn kamarnya. Ia bisa keluar dari tempat ini. Hatinya berdebar karena senang. Dengan cepat, ia membuka jendela kamarnya, menaikinya, lalu lompat keluar dari kamarnya. Keluar dari rumahnya. Keluar dari nerakanya. Ia pun mulai berlari sejauh mungkin menjauhi rumahnya.
            Semakin jauh gadis itu berlari, semakin senang perasaannya. Senyumannya semakin mengembang, hingga akhirnya sempurna. Namun, ia pun merasa lelah karena berlari. Ia berhenti. Tangannya bertumpu pada kedua lututnya. Dengan nafas yang tersengal-sengal, ia berbicara pada dirinya sendiri, “Biza, lo akhirnya bisa keluar dari neraka itu.”
            Ia pun mulai berjalan santai di bawah cerahnya langit malam yang diisi oleh kelap-kelip bintang di atas sana. Biza mulai berjalan di daerah pertokoan itu. Matanya melirik tiap toko yang ada pada sisi kirinya. Sampai akhirnya, apa yang ia lihat membuat langkahnya terhenti.
            Ia memutar tubuhnya menjadi tepat berhadapan dengan kaca besar milik sebuah kafe kopi. Biza mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali, mencoba memastikan penglihatannya. Dan ternyata benar. Laki-laki yang tengah duduk di salah satu meja kafe dengan secangkir kopi hangat di tangannya itu adalah laki-laki yang ia kenal. Laki-laki yang selalu ia rindukan tiap detiknya.
            Dengan langkah pelan dan degup jantung yang semakin cepat tiap detiknya, Biza melangkah memasuki kafe kopi itu. Ia berjalan menghampiri laki-laki itu. Tiap langkah kakinya yang semakin mendekati laki-laki itu, membuatnya kembali mengingat tiap kenangannya bersama laki-laki itu. Kenangan indah yang nyaris ia lupakan.
            Seorang anak laki-laki sedang menyesap secangkir kopi hangat di tangannya. Setelah menyesapnya, ia selalu merasa bahagia. Kopi adalah pembangkit suasana hatinya.
            “Kak, kakak suka banget kopi, ya?” tanya anak perempuan berambut panjang dengan poni menutupi dahinya. Di sekelilingnya terdapat banyak boneka.
            “Suka banget, sama kayak kamu yang suka sama boneka,” jawab laki-laki itu kemudian menyesap kopinya lagi. “Rasanya, kakak pengen minum kopi setiap hari.”
            Anak perempuan itu mengangguk mengerti. Kesukaan kakaknya terhadap kopi, sama seperti kesukaannya terhadap boneka. “Kalau gitu, nanti kalau Biza udah besar, Biza mau buatin Kak Azka kopi setiap hari, sama kayak Bunda yang buatin teh setiap hari buat Ayah.”
            Tangan Azka terulur untuk mengusap lembut kepala Biza dengan bibir yang membentuk senyuman. “Kakak akan selalu ingat kata-kata kamu, lho! Jadi, tepatin ya?”
            Biza mengangguk penuh semangat. “Pasti!”
            Mata gadis itu terasa panas, seolah ada sesuatu yang membuatnya ingin meneteskan cairan bening itu. Mengingat janjinya yang belum ia tepati, padahal dirinya sudah terbilang cukup dewasa saat ini. Ia sudah berumus 19 tahun. Sudah 10 tahun lamanya sejak janji itu dibuat. Semuanya karena kejadian itu. Mengingat kenangan indah bersama kakaknya, membuat Biza juga mengingat kenangan menyakitkan bersama keluarganya.
            “Biza! Biza! Bangun!” teriak Azka sambil mengguncang-guncang tubuh adiknya yang masih tertidur nyenyak di atas tempat tidurnya. Padahal, hawa panas telah menyelimuti ruangan itu. Bahkan keringat sudah bercucuran membasahi tubuh Azka. Namun anak laki-laki itu masih belum menyerah untuk membangunkan adiknya.
            Biza pun perlahan-lahan membuka matanya. Azka bernafas lega. “Biza, ayo kita pergi dari sini!”
            Biza yang masih belum tersadar sepenuhnya hanya mampu menuruti keinginan kakaknya. Ia bahkan tak sadar jika kobaran api berada di sekelilingnya.
            Akhirnya, kedua anak itu berhasil keluar dari rumah mereka. Noda hitam membuat tubuh mereka menjadi kotor. Azka memandang sedih rumah yang selama ini menjadi tempat keluarganya menghabiskan waktu bersama telah dipenuhi oleh sesuatu yang berwarna merah membara. Api.
            “Kak, Ayah sama Bunda mana?” tanya Biza dengan polosnya.
            Azka menoleh dan menatap adiknya penuh sendu. Namun bibirnya masih saja membentuk senyuman. “Kita keluar dulu, ya?”
            Biza hanya bisa mengangguk dengan tatapan tak mengerti. Azka pun menarik tangan Biza dan menggenggamnya erat. Mereka berjalan keluar gerbang rumah yang sebelumnya bernuansa putih itu.
            Mereka terus berjalan, entah kemana. Suasana jalanan yang sepi karena jam sudah menunjukkan waktu dini hari. Biza sebenarnya ingin bertanya mengenai keberadaan orang tuanya. Namun, ia takut. Ia takut mendapatkan jawaban yang buruk. Ia sudah sadar kalau rumahnya kini telah hangus terbakar kobaran api. Namun, ia tak bisa menangis mengingat bagaimana kakaknya tadi tersenyum.
            Kemudian, langkah Azka berhenti, membuat langkah Biza juga berhenti. “Kenapa, Kak?”
            Azka menatap adiknya sendu. Tangannya terulur untuk mengusap lembut kepala adiknya. “Biza, tetap sama kakak, ya? Kakak gak punya siapa-siapa lagi selain kamu.”
            Biza tercengang. Ia mengerti maksud perkataan kakaknya. Ia tak sebodoh itu. Ia sudah berumur 10 tahun. Biza menggenggam erat tangan Azka, menatapnya penuh keyakinan. “Biza gak akan ninggalin kakak. Biza janji.”
            Azka tersenyum mendengarnya. Langkah kaki mereka pun berlanjut di tengah sepinya jalanan.
            Langkah Biza semakin mendekati laki-laki itu. Ingatannya pun kembali terlintas dalam kepalanya kembali. Saat di mana ia berakhir sendirian di tengah kejamnya kehidupan.
            “Kalian bisa tinggal di sini kalau mau,” ucap seorang wanita dengan ramah. Mata Biza memandang penuh binar. Ia merasa dapat segera terbebas dari penderitaan hidup di jalanan. Namun mata Azka menyiratkan hal lain. Ia terlihat ragu. Namun, melihat bagaimana senangnya Biza ditawarkan kesempatan seperti ini, Azka pun menerimanya. Ia setuju kalau dirinya dan Biza tinggal di rumah yang pemiliknya berhasil menyelamatkan hidup mereka dari preman di jalanan.
            Keduanya ternyata hidup tak seindah ekspektasi. Keduanya bergabung dengan anak-anak lain untuk dipaksa bekerja di sebuah pabrik. Biza menyesal memilih tinggal di tempat ini. Ia bahkan lebih memilih hidup di jalanan. Azka pun begitu. Ia menyesal mengabaikan keraguannya.
            Hari-hari mereka dipenuhi siksaan oleh para pengawas pabrik itu. Terutama dari wanita yang menawarkan mereka tempat tinggal. Biza membencinya. Azka lebih membencinya.
            Sampai suatu malam, sebuah rencana telah tersusun oleh teman-teman mereka. Rencana untuk segera terbebas dari tempat penyiksaan itu.
            Seseorang bernama Ali bertugas untuk mengelabui para pengawas pabrik. Ia membuat kebakaran kecil yang membuat para pengawas memalingkan perhatiannya. Kemudian, mereka pun berjalan mengendap-endap keluar pabrik. Azka selalu menggenggam tangan Biza.
            Namun, semuanya tak seindah rencana. Wanita itu mengetahuinya. Bahkan, wanita itu mengejar mereka. Mereka pun berlari secepat kilat. Namun, Biza yang memang tidak pandai lari, jatuh tersungkur. Azka berusaha membantunya untuk berdiri. Namun, wanita itu berhasil mendapatkan tangan Biza. Ia menariknya. Azka tak menyerah. Ia berusaha merebut adiknya. Namun teman-temannya justru menarik Azka agar menjauh. Dan akhirnya, tangan Biza terlepas dari tangan Azka. Biza kembali ke rumah neraka itu, bersama wanita itu. Wanita yang selalu menyiksanya.
            Biza sudah berada tepat di hadapan laki-laki itu. “Ka–kak?” panggilnya gugup. Matanya sudah dipenuhi oleh cairan bening yang sudah siap menetes kapan saja.
            Laki-laki itu mendongak. Matanya membulat kala ia mengenali siapa gadis yang memanggilnya kakak. Ia tak mungkin melupakan wajah adiknya sendiri. Laki-laki itu beranjak dari tempatnya duduk, memeluk gadis itu erat. Sangat erat hingga tak ingin melepaskannya sedetikpun. Biza pun balas memeluknya dengan air mata yang terus-menerus membasahi pipinya. “Biza kangen banget sama Kak Azka.”
            Tangan Azka menyentuh kepala Biza, mengusapnya lembut seperti yang selalu ia lakukan dulu. “Maafin kakak udah ninggalin kamu,” ucap Azka penuh rasa bersalah.
            “Biza udah maafin kakak dari dulu. Biza seneng tahu kakak masih selamat,” ucap Biza masih menangis dalam pelukan Azka.
            “Kakak juga seneng kamu masih selamat,” balas Azka sambil melepaskan pelukannya. Jemarinya menghapus air mata yang membasahi wajah adiknya. “Jangan nangis lagi, ya? Sekarang kamu aman sama kakak.”
            Sama seperti dulu, Biza hanya mengangguk patuh.
            Biza pun duduk tepat di hadapan Azka. “Kakak masih suka kopi, ya?”
            “Masih dan akan selalu suka kopi.”
            “Tunggu Biza buatin kopi paling enak buat kakak, ya?”
            Azka tersenyum mendengarnya. Adiknya masihlah Biza yang dulu. “Pasti.”

            Biza pun balas tersenyum. Secangkir kopi hangat kesukaan kakaknya telah membuatnya bertemu lagi dengan kakaknya. Ia harus berterima kasih pada secangkir kopi hangat kesukaannya dengan membuatkan secangkir kopi hangat itu untuk kakaknya setiap hari, karena kehidupannya bersama Azka akan dimulai hari ini. Diawali dengan secangkir kopi hangat.

Komentar

  1. dikira bukan kakak-adek-an, tapi keren gak terduga endingnya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!