Rasanya Manis


Oleh: Alief Wheza

Satu cangkir kopi datang. Asap mengepul di atas cangkir, menjadi penanda kalau kopi itu masih hangat. Aku berterimakasih pada waiter yang mengantarkan kopi ke meja.
Aku mengambil cangkir dan menyeruputnya perlahan.
Manis.
Aku ingat pernah mengantar dua cangkir kopi yang sama, dan waktu itu kopinya masih terasa pahit. Waktu itu berlalu begitu cepat, begitu hebat sampai bisa menghapus rasa pahit pada kopi yang kupesan.
Aku menatap dinding kaca di samping mejaku. Embun hujan yang menutupi pemandangan mengingatkanku pada masa tersebut.


“Mau pesan apa?” tanyaku pada seseorang yang berkunjung di meja tempatku duduk, lima tahun lalu.
“Dua kopi original, tanpa gula, hangat. Terimakasih.” Dia memberitahu pesanannya.
Segera aku memberikan pesanan seseorang tersebut ke bartender. Sambil bertanya-tanya mengapa dia memesan dua kopi untuk diminum sekaligus. Mungkin dia sedang menunggu teman kencannya datang.
Dia tersenyum saat aku memberikan dua cangkir kopi pesanannya ke atas meja. Dan hal yang tidak kuduga adalah, dia memintaku untuk menghabiskan satu cangkir kopi yang lain.
“Jika tidak mau tidak apa-apa,” ujarnya menarik satu cangkir kopi yang lain ke sisinya.
Aku segera menatap jam untuk melihat apakah aku punya waktu untuk kuhabiskan bersama pria ini. Lalu aku menatapnya dan berkata, “Jam istirahat makan siang. Aku bisa, kok.”
Dan kami pun duduk berdua berhadapan dengan dua cangkir kopi di hadapan kami masing-masing. Mengobrol. Awalnya aku agak sedikit risih. Bagaimana tidak? Matanya tidak henti menatapku. Tetapi lama-kelamaan aku terbiasa.
Besoknya dia tidak datang.
Dia datang lagi satu minggu setelahnya di hari yang sama. Duduk di tempat yang sama. Dan dia menolak pelayan lain, meminta aku yang datang ke mejanya. Dan seperti hari pertama dia memintaku untuk menghabiskan kopi bersamanya.
Kali ini, aku memberikan senyum dan tanpa menolak sekalipun langsung duduk di hadapannya.
Rutinitas itu berlangsung setelahnya juga. Di hari yang sama, di tempat yang sama, dan ditemani dengan menu yang sama. Momen manis bersamanya mengalahkan rasa pahit pada kopi hitam yang kami minum bersama.
Aku pernah diajaknya untuk pergi menonton bioskop, berkencan, bahkan makan bersama. Tapi selalu setelahnya kami kembali ke kafe tempatku berkerja untuk memesan dua cangkir kopi.
Kami semakin dekat hingga kemudian dia meminangku untuk menjadi pendamping hidupnya. Laki-laki gagah, sopan, yang penuh kehangatan, yang sering datang ke kafeku, memintaku untuk menjadi istrinya.
Hari-hari bersamanya terasa indah. Hidup berdua bersamanya, ditemani dengan secangkir kopi pahit yang terasa manis jika dihabiskan berdua.
“Aku sangat senang bisa memilikimu,” ujarnya suatu hari.
Lagi-lagi aku hanya tersenyum sambil mengucapkan kalimat yang sama. Aku juga senang bisa bersamanya.
Namun sayang, hal tersebut tidak berlangsung lama. Satu tahun setelah pernikahan kami, laki-laki itu jatuh sakit. Hingga kemudian dia jatuh sakit dan harus di rawat di salah satu rumah sakit.
Aku selalu datang ke kamarnya, memberinya semangat, juga menemani dia menghabiskan hari. Menghiburnya, mengatakan padanya kalau dia akan segera sembuh.
Tetapi keadaan tidak bertambah baik, justru sebaliknya. Selang-selang yang dipasang bertambah. Monitor yang menampilkan garis panjang yang berubah setiap kali bunyi ‘bip’ terdengar. Serta beberapa tabung yang ditempatkan di samping ranjang. Semua itu tidak menampakkan kabar baik.
Namun aku tidak lelah memberinya semangat.
“Sayang,” panggilnya suatu hari.
“Ya, sayang? Aku di sini,” ujarku ketika dia terjaga dari tidurnya. Mulutnya kesulitan berbicara, karena selang yang menempel di hidungnya.
“Tadi malam aku bermimpi kita duduk di kafe itu. Berdua,” ujarnya. “Memesan kopi hitam seperti biasa.”
“Kamu masih belum boleh minum kopi, sayang.” Aku memberinya nasihat.
“Kau tahu, sayang? Aku adalah perokok berat. Aku kehilangan indra pengecapku, dua tahun lalu. Aku tidak bisa merasakan apapun kecuali hambar.” Dia mulai bercerita. Cerita yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.
“Semenjak aku tahu aku tidak bisa merasakan apapun, aku mulai benci dengan apa yang kumakan. Sampai kemudian aku bertemu denganmu di kafe itu.” Dia menatap langit-langit kamar.
“Itu pertama kalinya aku merasakan apa yang masuk ke mulutku.”
Aku menatap laki-laki yang terbujur kaku di ranjang dengan berbagai infus melilit tubuhnya. Laki-laki gagah, sopan, yang penuh kehangatan, yang sering datang ke kafeku itu, menatapku dengan penuh rasa sayang. Aku menggenggam jemarinya.
“Aku tidak peduli dengan apapun yang kumakan, menu apapun itu, bagaimanapun teksturnya, bentuknya, semuanya akan terasa menakjubkan saat dihabiskan bersamamu. Terlebih kopi hitam itu. Manis sekali.”
“Sebentar lagi kamu akan sembuh, sayang...”
Dia menggeleng perlahan.
“Bolehkah aku mencicipi kopi itu lagi?”
“Kamu masih belum boleh minum kopi, sayang.” Aku memberinya nasihat. Mataku berkaca-kaca.
“Kumohon?”
Akhirnya aku beranjak dari tempat dudukku dan membuatkannya dua cangkir kopi hitam permintaannya.
Aku membantunya memegangi cangkir kopi miliknya, dia menyeruput kopi di dalamnya. Memainkan lidahnya sambil bergumam, “Manis sekali.”
“Tadi malam aku bermimpi duduk di kafe itu, berdua. Memesan kopi hitam seperti biasa. Tetapi aku tidak duduk denganmu. Aku duduk dengan seseorang lain” ujarnya lagi. “Dia bilang, dia akan datang untuk menjemputku malam ini. Aku senang bisa menikmati kopi itu sekali lagi.”
“Kopi itu benar-benar terasa manis.”
Aku tidak berkata apa-apa. Tanganku bergetar. Separuh kopi di dalam cangkir tumpah ke atas lantai. Tepat saat laki-laki di depanku menghembuskan napas terakhirnya, cangkir yang kupegang jatuh.
Sejak saat itu, aku sering berkunjung ke kafe lama tempatku bekerja. Duduk di tempat yang sama dengan memesan menu yang sama seperti yang dipesan oleh kekasihku. Membayangkan saat aku masih bekerja di sana dan mengantarkan dua cangkir kopi lantas meminumnya bersama.
Kadang aku mengajak beberapa teman dan sahabatku untuk meminum kopi bersama. Hanya saja mereka tidak akan memesan kopi tanpa gula seperti yang kupesan. Dan ketika mereka bertanya bagaimana rasanya kopi yang kuminum, aku akan tersenyum dan menjawab, “rasanya manis.”

Alief Wheza
Batam, 15 Mei 2016

Komentar

share!