Kue Nastar


Karya: Eni Ristiani


            RASANYA ada hal yang ingin aku bebaskan. Ada beban yang selama ini menyinggapi hati dan perasaanku, seolah-olah ingin kuhancurkan dengan tanganku. Namun sayangnya sesuatu itu terasa kabur, tidak jelas wujudnya. Rasanya membingungkan. Ini hanyalah perasaanku atau ilusiku saja? Atau obsesi yang sejak dulu memang ingin kuhancurkan?
            “Gilang!” Cubitan di lenganku tiba-tiba saja mengejutkanku dan tanpa sengaja kujatuhkan cangkir kopi yang terletak tak jauh dari tanganku.
            “Kamu tuh kenapa sih. Aku dari tadi cerita ini itu tapi kamu nggak dengerin. Kamu ngelamun? Ngelamunin apa?”
            Resti. Gadis berlesung pipit yang ada di depanku ini kini menekukkan bibirnya. Merasa jengkel karena tak kuperhatikan.
            Aku menggeleng, mencoba menampilkan satu garis senyum untuk menutupi pikiran-pikiran aneh di otakku.
***
           

            Aku bikin kue nastar rasa kopi. Kamu cobain ya… resep baru lho :)
            -Resti-
            Aku menghela napas. Satu kotak kue nastar rasa kopi buatan Resti dan selembar kertas tulisan tangan sudah ada di tanganku.
            Resti suka sekali bereksperimen dengan bahan-bahan makanan. Dia tipe perempuan yang suka memasak dan suka membuat kue-kue. Saat itu, Resti berkata padaku kalau dia ingin membangun toko kue besar di tengah kota agar ia bebas bereksperimen dengan bahan-bahan kue serta bisa membuat seseorang jatuh cinta dengan masakannya. Baginya, memasak adalah bagian dari hidupnya. Oleh sebab itu tak heran kalau setiap bulan pasti ada satu menu baru yang ia temukan. Dan aku akan selalu menjadi kelinci percobaan yang pertama kali harus mencicipi masakannya.
            Meskipun aku tahu bahwa rasa yang dihasilkannya selalu enak, entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi sensitif. Seringnya, aku merasa malas kalau Resti sudah memaksaku untuk mencicipi resep barunya.
            Frustasi dengan pikiranku yang sensitif, kusingkirkan kotak kue nastar sedikit menjauh dariku. Aku rasa, aku sudah tahu inti permasalahan yang ada di otaku saat ini.
            Menghela napas, kutatap atap ruangan rumah kosanku.
            Benar, aku… bosan dengan Resti.
***

            Empat tahun aku menjalani hubungan dengan Resti. Selama ini kami tak punya masalah serius. Hanya cekcok biasa dan hal itu tidak bisa dikatakan sebagai konflik besar. Resti baik padaku, begitu juga aku berusaha untuk baik terhadap dirinya.
            Kupikir, aku tidak mungkin merasakan bosan. Resti adalah tipe perempuan yang menyenangkan. Hanya saja, terkadang ia cukup manja.
            “Kamu tahu nggak Lang, kenapa kopi itu pahit?” Tersenyum, kulihat mata jahil Resti menghujamku. Aku tahu, Resti suka dengan hal-hal yang berbau humor. Makanya tak heran jika ia suka sekali menonton openmic di Caffee Toffee. Seperti saat ini.
            Pura-pura tidak tahu, kugelengkan kepalaku dengan malas-malas. Sebenarnya, hari ini aku ingin mengatakan sesuatu pada Resti. Namun melihat keceriaannya aku tak tega.
            “Karena kalau manis, itu… kisah kita berdua. Hahaha.”
            Benar kan, garing! Mungkin, aku saja yang akhir-akhir ini masih dalam keadaan sensi. Tapi serius deh, aku sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan tidak penting ini. Meski begitu, aku tetap saja melemparkan senyuman tipis untuk Resti.
            “Lang, kayaknya ada yang beda deh,” kata Resti sembari menyeruput minumannya. Mata bulatnya menatap penuh selidik kepadaku. Ah, tatapan itu. Tatapan Resti yang begitu polos selalu membuat hatiku merasa bersalah. Sebenarnya, bolehkah aku merasa bosan dengan sebuah hubungan?
            “Beda… gimana maksudnya?”
            Resti menatapku beberapa detik dengan tanpa ekspresi. Seolah mendapat sinyal bahaya, aku merasa salah tingkah. Namun melihat satu garis senyum terbit di menit ke lima belas, aku merasa lega.
            “Ah, enggak. Kayaknya itu hanya perasaanku aja,” katanya.           
            Sebenarnya, apa yang sudah menggantung di tenggorokanku ingin kuungkapkan detik itu juga. Namun begitu Resti berteriak kegirangan karena comik favoritnya akan tampil, kuurungkan ucapanku. Mungkin, pulang dari sini akan jauh lebih mudah.
***

            Selain suka memasak, Resti paling suka sate kambing muda yang ada di warung tenda pinggir jalan. Seolah memiliki obsesi yang terlalu besar, setiap kali pulang malam Resti mengajakku untuk makan sate. Katanya, makan sate di atas jam sepuluh malam lebih nikmat dibanding makan sate saat lapar.
            Resti memesan dua puluh tusuk. Sementara aku lebih suka melihat Resti melahap sate dengan sambal kacangnya.
            “Boleh bilang sesuatu?” kataku ketika mata Resti bebinar karena sate kambing muda pesananannya telah sampai di meja kami. Tak menunggu waktu lama, segera ia ambil satu tusuk untuk kemudian ia santap.
            “Boleh… ada apa sih?” katanya sembari mengambil tusuk sate kedua.
            Mata bulatnya mengarah kepadaku. Rasa penasaran terpancar dari ekspresi wajahnya.
            Menghela napas, aku mencoba menetralkan suasana hatiku yang tak karuan. Boleh jadi, ini adalah perkataan terkejam yang akan kuucapkan untuk Resti.
            “Kita… putus, ya?”
            Seolah film yang putarannya dihentikan, Resti yang sedang makan sate juga tiba-tiba terdiam. Ia meletakkan dengan pelan-pelan tusuk sate yang belum sempurna ia habiskan.
            Diam mengudara beberapa detik.
            “Oke,” katanya dengan lirih.
            Terkejut, kukernyitkan keningku sembari mencoba menilai ekspresi Resti sekali lagi. Namun, Resti tak menunjukkan sikap apapun. Ia malah sibuk menundukan kepala sembari terus menyantap sate kambing mudanya.
***

            Lima hari berlalu. Aku masih biasa-biasa saja. Tersenyum, merasakan kebebasan.
            Sepuluh hari berlalu, kurasa aku mulai memikirkan arti dari beban yang selama ini ingin aku bebaskan. Sebenarnya hal besar apa yang mengganjal dan ingin kubebaskan?
            Satu bulan berlalu, aku mulai bertanya-tanya. Kenapa Resti tidak menghubungiku lagi? Kenapa saat aku mengajukan sebuah penawaran dia hanya mengatakan satu kata?
            Dua bulan, aku berusaha melupakan. Bukankah ini yang kuinginkan? Bukankah hal ini yang sejak lama ingin kubebaskan?
            Berusaha menghapus segala pikiran yang mengganggu hidupku, aku menghela napas sembari menelungkupkan kedua telapak tangan ke wajah. Saat semua terasa bercampur aduk, seseorang menepuk pundakku dan membuatku terkejut.
            “Gilang kan?” tanyanya.
            Keningku mengernyit. Entah karena kesadaranku yang sedang kacau atau karena wajahnya tak pernah ada dalam memori otakku, aku kebingungan.
            Kuanggukan kepalaku dengan pelan. “Kamu siapa?” tanyaku padanya.
            Seorang yang tampak asing itu hanya tersenyum. Lesung pipitnya terlihat begitu jelas. Perlahan, ia singkap rambut ikal sedikit panjangnya ke belakang telinga. Setelah lama kuperhatikan, rasanya ada yang tak asing. Sepertinya, aku pernah bertemu dengannya.
            “Apa kabar, Lang? udah lama ya kita nggak saling menyapa,” katanya sekali lagi. Kali ini, aku yang merasa sangat penasaran mengubah posisi dudukku menjadi menghadap tepat ke arahnya. Halte yang sedang kududuki ini sepi. Setahuku, hanya ada aku dan dua orang yang tadi sedang menunggu bus. Lalu, entah kenapa sekarang hanya ada aku dan laki-laki yang tak kuketahui namanya itu.
            “Udah lama? Maksud kamu?”
            Dia tertawa. Tanpa berniat menjawab pertanyaan dariku ia terus saja menghujamiku dengan tatapan yang serba misterius. “Kamu nggak berubah.”
            “Kamu siapa?!” kataku dengan sedikit kesal.
            Yang ditanya kembali tersenyum.
            Saat ini aku mulai merasa bahwa kehadiran laki-laki di hadapanku sangat menyebalkan. Ingin rasanya kupukul wajahnya, namun ketika satu kalimat yang tak terduga muncul dari mulutnya, niat itu segera kuurungkan.
            “Sudah selesai lari dari perasaan bosanmu?”
            Seolah ditusuk oleh sebilah pisau, aku terdiam. Ada rasa perih yang terasa di ulu hatiku.
            Laki-laki itu tertawa. Kembali, ia singkap rambut panjangnya ke belakang telinga. “Dasar bodoh. Laki-laki sejati tak pernah sepengecut ini menghadapi perasaan semunya. Bahkan tanpa ia pikirkan secara matang-matang!”
            Aku diam kembali. Berbagai pikiran kini kembali berputar-putar di otakku. Tentang kebimbanganku, kekacauan pikiranku, Resti, dan juga tentang identitas laki-laki yang ada di hadapanku. Rasanya semua bercampur menjadi satu dan ingin kuledakkan saat itu juga.
            “Kedatanganku ke sini bukan tanpa sebab. Pun bukan untuk memperkenalkan diri. Jadi aku tak perlu basa-basi,” katanya.
            “Apa maksudmu?”
            Seperti biasa, dia tak menjawab pertanyaanku. Yang ia lakukan hanyalah menghujamiku dengan tatapan tajamnya. Kemudian ia membuka tas ransel besar yang tergeletak di sampingnya.
            “Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui. Untuk alasan Resti, kali ini aku berbaik hati memberi semua tulisan Resti selama dua bulan belakangan.” Dia meletakkan sebuah kotak di atas pangkuanku. Tanpa menunggu aku bereaksi, dia menepuk pundakku kemudian pergi.
            Saat itu aku yang masih mematung menatap kosong ke arah kotak yang ada di pangkuanku. Lagi-lagi berbagai pertanyaan berputar-putar di otakku.
            Pelan-pelan kubuka kotak pemberian laki-laki tadi. Tak terduga, bahwa isi kotaknya hanyalah sekumpulan kertas dengan tulisan tangan.
***

            Senin, 1 Februari
            Maaf ya, kue nastar rasa kopi kemarin belum sempurna. Ini percobaan kedua. Bisa kamu cobain? :)
            Senin, 8 Februari
            Masih nggak berhasil. Tapi aku sedang mencoba :)
            Senin, 15 Februari
            Hampir berhasil, sekarang aku kirimi lebih banyak :)
            Senin, 14 Maret
            Aku masih mencoba membuat kue nastar rasa kopi. Kamu tahu kenapa? Karena kamu suka kopi. Kamu masih inget kan gimana tantangan kamu tiga bulan lalu?

            Satu tetes air mata mengalir di pipiku. Masih banyak tulisan tangan Resti yang sengaja ia tunjukkan padaku. Namun selama ini tak kutemui di meja makan kosanku seperti biasanya.
            Rasanya aku ingin meledak. Surat-surat yang Resti kirimkan selama ini untukku selalu kuanggap angin lalu. Aku bosan? Sebenarnya rasa seperti apa bosanku itu? Apakah ini hanyalah sifat kelabilanku? Rasanya semua serba abu-abu. Aku ingin meledakkan perasaanku saat ini juga. Namun hal itu tentu tidak menyelesaikan semua kebimbanganku.
            Apa yang aku butuhkan bukan sebuah kebebasan. Sekarang, aku rindu Resti. Bolehkah? Bolehkah laki-laki pengecut sepertiku merindukan seseorang yang begitu perhatian kepadaku?
            Aku bosan? Sepertinya yang harus kubebaskan adalah sifat kekanak-kanakanku, bukan perasaanku terhadap Resti.

            Resti, aku rindu kamu!

Komentar

share!