Kopi Coklat

By. Inet Bean

Ketika kenangan pahit dan pahit kopi bercampur. Maka akan menghasilkan suatu ketiadaan. Bagai negatif bertemu negatif akan berdampak positif.
Tidak biasanya, aku pulang jam tiga dini hari. Rasanya begitu sesak untuk bernafas  dan dingin menyergap jiwaku. Jalanan masih lengang. Di sudut-sudut gelap menawarkan rasa magis.
“Baru pulang Gie?” Ucap Jundi mengagetkan. Dia duduk diantara redup ruang tengah.
“Ya,” jawabku singkat. Lalu merebahkan tubuh di sofa bersebelahan dengan Jundi.
“Mana titipanku? Jangan bilang lupa lagi,” ujar lelaki di sebelahku masih dengan tatapan ke layar laptopnya.
“titipan apa?”
“Kopi coklat.”
“Kopi coklat?”
“Ya, lupa lagi?”
“Bukan. Aku gak tau apa itu kopi coklat?”
“Sedini hari masih bercanda aja. Gih sana molor.”
Aku tidak peduli dengan titipan kopi coklat. Ragaku terlalu lelah. Tak ingin otakku bekerja keras mengingat titipan Jundi. Jadi aku memutuskan ke kamar menyelami dunia mimpi.
***


Pagi ini aku terbangun dengan sakit luar biasa di kepalaku. Jika saja bisa ku tanggalkan kepala ini, biarlah sementara terpisah dari tubuh. Jarum jam sudah mendarat di angka delapan. Ah kesiangan, sekalian saja hari ini aku tidak ke kedai.
Perut ini menggiringku ke dapur. Hidungku tergelitik oleh aroma nasi goreng perpaduan dengan telur dadar. Ternyata Jundi sudah menyiapkan sarapan pagi. Sahabatku itu memang pandai memasak. Apalagi sejak kita mengontrak rumah untuk bersama merintis usaha kedai kopi.
Kutandas habis makanan terlezat pagi ini. Lalu sekedar bersantai di sofa. Membaca koran. Mengamati bursa kopi apakah dalam waktu sebulan ini akan naik atau justru terjun bebas seperti rupiah.
Selain itu beberapa berita kriminal menghiasi, mulai dari kasus kopi sianida yang memakan korban pengantin baru sampai polisi yang tega menghabisi dua anak kandungnya sendiri. Bahkan memutilasinya, ‘ah, dunia ini atau manusia yang semakin gila?’ batinku.
“Ayo ke kedai, sudah jam setengah sembilan Gie,” perintah Jundi.
“Kepalaku pusing sekali, hari ini aku gak ke kedai ya?” kilahku.
“Bercanda kamu? Lalu gimana dengan kopi coklat?” ujarnya sembari tertawa kecil.
“Kopi coklat apa?” tanyaku.
“Ya ampun, ada apa dengan kepalamu? Kopi coklat ciptaanmu yang dua pekan ini jadi favorit pengunjung kedai,” jelas Jundi.
“Aku tidak paham apa maksudmu,”
“hei, ada apa denganmu Gie? Kamu bener-bener gak ingat kopi coklat?” ujar Jundi disertai mengerutkan dahi.
“Aku tau kopi, tapi kalau kopi coklat aku tidak tau,”
“Ada yang tidak beres dengan otakmu,”
“Mungkin, kepalaku berat sekali sejak pulang dari kedai. Berangkat ke kedai dulu aja Jun, ntar kalau baikan aku nyusul,” terangku.
“Oke, hari ini istirahat aja Gie, ntar pulang dari kedai kita bicarakan tentang kopi coklat,” ucap Jundi sembari melenggang keluar.
***
Hari ini rencanaku hanya ingin beristirahat. Namun otak ini tertarik untuk berkutat tentang kopi coklat obrolan tadi pagi dengan Jundi. Dia bilang aku adalah pionir kopi coklat. Tapi kenapa memori ini tidak ingat apapun tentang kopi coklat. Lebih parah lagi baru dua pekan kopi coklat itu menjadi favorit pengunjung kedai.
Aku masih ingat cara meramu menu kopi lain, seperti kopi hitam, kopi tubruk, kopi moka, Espresso, Machiato, Caffe Latte, Cappuccino, Marachino dan lainnya. Tapi tidak ada jejak di memori otakku tentang menu kopi coklat. Sebenarnya apa yang  telah terjadi pada otak ini. Aku kelelahan memikirkan hal itu sampai tertidur.
Mataku terbuka karena suara perutku yang merintih terlalu kosong. Kupriksa notif hpku, sebab saat aku tidur seperti mendengar erangan hpku beberapa kali, tapi tak kupedulikan . Dan benar saja ada 15 kali panggilan masuk dan 33 sms dari siang tadi.
Panggilan itu dari Jundi tujuh kali, sms 15 kali dan sisanya dari beberapa teman. Kontan saja aku terkejut melihat saking banyaknya notif di hpku. Biasanya juga kosong mlompong. Lalu kubuka sms dari Jundi
Ada pembunuhan di dekat kedai kita Gie, segera ke sini” from Jundi.
Sms lainnya intinya sama, mereka heboh dengan pemberitaan media yang secepat kilat. Belum reda rasa kagetku mendapat banyak sms dan panggilan. Aku dikejutkan dengan pemberitaan itu. Spontan kunyalakan tv. Mencari pemberitaan tentang pembunuhan yang terjadi di dekat kedaiku.
Dan benar saja. Banyak stasiun tv yang heboh dengan berita pembunuhan tersebut. Karena belum lama memang terjadi pembunuhan terjadi di suatu kedai kopi dengan diracun. Tetapi pembunuhan yang terjadi di belakang kedaiku bukan karena diracun. Melainkan korbannya digorok sampai kepalanya hampir putus papar salah satu stasiun tv.
Aku tidak tahu kenapa. Bulu kudukku merinding menonton berita tersebut. Dingin menjulur dari kakiku merambat ke seluruh tubuh. Mungkin aku terlalu takut dengan hal seperti itu. Dari kecil nyaliku selalu ciut dengan hal-hal sadis seperti itu. Bahkan aku takut darah.
Saat aku sedang antara menonton berita dan merasakan tubuhku yang dingin dan kepala ini serasa mau pecah, terdengar gedoran pintu. Gedoran itu makin lama makin keras. Sekuat tenaga menuju pintu. Lalu berhasil kubuka.
Betapa terkejut. Ternyata ada tiga polisi dan Jundi di depan pintu. Mereka masuk lalu menjelaskan banyak hal kepadaku. Katanya dari olah TKP. Bukti-bukti mengarah ke padaku. Lagi-lagi aku terkejut dengan dakwaan tersebut. Ada kartu identitasku sebagai barista yang biasa kugantung di bagian saku kemejaku. Kartu itu tergeletak tidak jauh dari lokasi pembunuhan. Dan di pintu belakan kedai ada tumpahan kopi coklat buatanku.
Polisi membawaku untuk diminta kesaksian apa yang telah terjadi. Pasalnya aku pulang jam tiga. Dan pembunuhan itu juga diperkirakan terjadi pada jam tiga dini hari. Entah apa yang harus kusaksikan. Aku tidak ingat apa-apa sebelum pulang. Seolah terhapus dari memori otakku. Kutahan sekuat tenaga agar mataku tak berembun menghadapi musibah ini.
Sudah lima jam aku di introgasi polisi. Dari jam delapan hingga jam dua belas dini hari. Dan kujawab tidak ingat kejadian saat itu berkali-kali. Namun berkali-kali pula mereka menekanku. Sampai pada tuduhan bahwa akulah pembunuh gadis tersebut. Aku tidak merasa membunuh gadis itu, maka aku sangkal hal tersebut.
Karena tubuhku kurang sehat. Panas dingin dan kepalaku seolah dipalu godam. Maka mereka mengijinkanku untuk istirahat. Kini statusku sebagai tersangka. Aku dimasukkan ke penjara. Benar-benar tidak adil. Walaupun aku tidak ingat saat jam tiga apa yang kulakukan tapi aku tidak mungkin membunuh gadis itu.
***
Seminggu sudah aku meringkuk di dinginnya penjara. Aku memutuskan untuk mengakui perbuatan itu. Walaupun itu bukanlah perbuatanku. Mereka tentu butuh tumbal untuk disalahkan. Meskipun mati-matian tidak mengakui itu. Mereka menyudutkanku terus. Sampai aku lelah dan mengakui apa yang tidak pernah kulakukan. Atau memang aku yang membunuh, aku sendiri mengutuk memoriku yang bebal.
Detik begitu lambat kurasakan menuju menit. Lantas perlahan merambat pada jam. Begitu pun seterusnya. Kurasakan waktu sangat panjang dalam sehari. Kadang aku melamunkan pekerjaanku yang entah digantikan siapa. Jundi beberapa kali menjengukku. Dia percaya bahwa bukan aku pelakunya. Dia belum bisa menemukan partner kerja yang pas.
Suatu hari Jundi menjengukku. Dalam kesempatan ini dia mencoba mengingatkan aku tentang kopi coklat. Namun masih saja bermuara di jalan buntu saat berusaha mencari sisa ingatan tentang kopi coklat.
Sudah sebulan aku meringkuk di jeruji besi. Aku mulai menerima semua ini. Barangkali memang inilah takdirku. Kesehatanku juga berangsur membaik. Teman-teman satu tahanan juga sepertinya sedikit melunakkan hati mereka. Kami sudah seperti saudara. Dan anehnya mereka percaya kalau bukan aku pelaku pembunuhan itu.
Setelah sebulan tidak terkejut. Dan di dalam penjara seakan sudah beradaptasi. Tiba-tiba secara mengejutkan aku dikeluarkan dari penjara. Tadi malam aku tidak mimpi apa-apa. Hanya memikirkan kopi coklat. Tapi aku benar-benar dikeluarkan dari penjara dan dinyatakan tidak bersalah.
***
Kebenaran walau lambat tetap akan terkuak. Pelaku pembunuhan yang sebenarnya adalah pacar gadis itu. Karena terlibat percecokan saling tuduh selingkuh. Betapa tak habis pikir. Hanya karena perselingkuhan bisa membuat seseorang kalap dan membunuh.
Ada istilah. Bahwa seorang kriminal pasti berbuat ceroboh saat melancarkan aksinya walau itu sekecil apapun. Itulah yang berhasil di ungkap kepolisian. Gadged milik korban dijual oleh pacarnya setelah melakuan pembunuhan. Dan entah bagaimana polisi bisa menemukan gadged tersebut sampai terungkap pembunuh sebenarnya.
“Woi bro… bengong aja, lagi teringat masa di lapas? Haha,” gurau Jundi, membuyarkan lamunanku seketika.
“aku sedang berusaha mengingat kopi coklat, kenapa sampai sekarang masih saja aku gak bisa mengingat kopi coklat”
“sekarang coba buat saja, kemarin sudah kubelikan bahan-bahannya”
Aku mencoba meracik kopi coklat. Namun tetap saja rasanya belum pas seperti dulu kata Jundi. Padahal sudah puluhan kali aku mencoba. Walau begitu aku masih saja penasaran meracik kopi cokat yang pas dan sempurna.
Malam ini tidak seperti biasanya. Ramai pengunjung sampai larut malam. Hingga terpaksa baru tutup jam dua. Selanjutnya aku dan Jundi membereskan dan mengkalkulasikan kedai. Selesai jam tiga dini hari. Suasana seperti ini rasanya pernah kualami.
Tidak tau kenapa aku ingin sekali membuat kopi coklat. aku mulai meracik kopi dan coklat. Takaran keduanya kuimbangkan. Hanya sedikit ditambahkan gula. Lalu mulai ku mix semuanya. Dan hasilnya kusuruh Jundi mencoba. Dia belum pulang. Katanya takut terjadi sesuatu lagi padaku.
Jundi menikmati aroma uap kopi coklat. bernafas di atas kepulan cangkir dengan menutup matanya. Lalu perlahan menyeruput kopi coklat. Hening sejenak. Aku berharap cemas, gugup seperti saat mau mengungkapkan cinta pada seorang gadis.
“Gimana Jun?” tanyaku dengan wajah memohon.
“Ini baru pas, selamat datang kembali kawan….” Ujar Jundi sembari tertawa renyah.
“Wow, serius?” ucapku memburu.
“Ya…, bahkan ini lebih nikmat. Kedai kita akan semakin ramai”
Aku merasakan di dalam kepalaku seperti ada yang berputar-putar. Melesat ke atas awan. Lalu sampai di ruang hitam tanpa gravitasi. Ada beribu-ribu cahaya yang terlihat. Aku mendekati salah satu cahaya. Lalu meledaklah cahaya itu. membuat mataku terang. Seketika itu aku ambruk.
Kilau pagi merangsang mataku agar terbuka. Aku melihat sekeliling. Ternyata masih di kedai. Aku tertidur di kedai. Tiba-tiba aku tersentak. Ingatan berjejalan mengambang di otakku. Semuanya tampak jelas bagai disodori layar bioskop.
Aku ingat kejadian jam tiga dini hari sebelum siangnya ditemukan mayat gadis. Waktu itu kedai ramai. Kami baru tutup jam dua. Lalu Jundi ijin pulang dulu karena harus berhadapan dengan laptopnya. Jam setengah tiga aku membuat kopi pesanan Jundi, karena dia minta dibawakan kopi.
Saat aku mau pulang ada suara cekcok di belakang kedai. Aku melihat dari balik pintu belakang kedai. Seorang gadis dan lelaki terlibat adu mulut. Beberapa menit kemudian sang lelaki mendorong jatuh si gadis dan mengeluarkan parang dari balik bajunya. Seketika itu pula leher si gadis di gorok.
Melihat hal tersebut spontan menjatuhkan kopi coklat yang telah kubungkus. Kemudian menghampiri jasad si gadis yang telah di tinggalkan si lelaki setelah mengambil gadgednya. Karena aku seorang yang takut darah dan hal semacam itu. Aku langsung berlari menjauhi tempat itu dan pulang.
***
Setelah konsultasi ke Psikiater ternyata hal tersebut memang ada dalam istilah medisnya. Yaitu penguncian ingatan. Karena terlalu takut pada suatu kejadian yang dialami. Maka ingatan apapun tentang kejadian itu dikunci oleh otak. Dan aku terlalu takut pada kejadian yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri itu, jadi yang menyangkut dengan kejadian tersebut maka akan dikunci. Termasuk tentang kopi coklat.

Kopi dan Coklat. Tentang dua kepahitan yang menghasilkan perpaduan manis. Semanis buah pengalaman kisah romance tentang kecewa dan cinta.

Komentar

share!