Ibu, Anak dan Kopi

Karya: Kartika

"I owe you something, this is for you. The special one." Kusodorkan secangkir kopi robusta dengan racikan dua-satu. Dua sendok kopi satu sendok gula.

"Thanks, Madam."

Setelah ia mencecap barang satu teguk, dihelanya udara, "Enak. Pasti kopi mahal."



Tak sungkan aku tersenyum, "Masalah harga dan pirantinya bukan urusan Anda, yang penting kan pemenuhan janjinya. Dan lagi kualitas kopi itu bukan dinilai dari nominal angka di tag harganya loh. Tapi tangan yang buat."

"Jadi intinya adalah si pembuat kopi." simpulnya.

"No, no.. 45 %."

"Sisanya?"

"45% lagi faktor si penikmat. You suka saya buat, berarti oke sajalah."

Ia membentuk bulatan 'O' dengan bibirnya yang seksi. "Masih sisa 10% itu."

Potret anak kos, porsi dikit komplain, kurang dikit protes.

"Itu adalah bakat si kopi. Benih." kataku.

"Yang dari kecil tumbuhnya di lingkungan yang baik dengan perawatan yang baik akan menumbuhkan biji yang baik pula, toh?" lanjutku dengan senyum lebar paling sesal yang sanggup aku berikan.

"Itulah kenapa saya dibesarkan jauh dari rumah asal saya oleh kakek saya?"

Pertanyaan yang sederhana untuk jawaban yang sama sekali tidak. Segala macam rangkaian kata dengan kehati-hatian tidak jua terucap, menguap di udara.

"Aku tahu setiap orangtua selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Aku berangkat dulu, Bu." katanya mengakhiri percakapan singkat kami.

Ini hari pertama kami bertemu sejak kepulangannya dari Peru, sekaligus hari terakhir ia di Indonesia sebelum melanjutkan S2 di California. Anak semata wayangku sudah besar. Sayang, di hari yang bersejarah ini aku hanya bisa memberinya secangkir kopi. Aku memang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anakku, meski karena alasan tersebut, aku malah menjadi ibu yang tidak baik.

Komentar

share!