Ekspektasi Bulan dan Kopi

Karya : April Cahaya

“Aku tidak akan pernah tahu kenapa kamu sangat menyukai kopi dan mengagumi bulan.  Karena selamanya aku tidak akan pernah menjadi bulan yang akan menyinari hidupmu, tapi aku hanya sebagai kopi yang menemanimu saat kau kesepian dan bosan.”

            Kepulan asap dari secangkir kopi yang dipegang oleh Bulan memberikan aroma khas kopi arabica yang menggugah selera. Menjadi penyemangat pagi yang selalu ia nantikan setiap harinya.
            “Oi, dilarang ngelamun pagi-pagi gini.” ocehan dari cowok tampan seberang rumah selalu menjadi rutinitas yang tidak pernah absen dari hidup Bulan.
            “Ssstt... berisik.” Bulan menggerakkan tangannya dengan isyarat menyuruh diam cowok itu.
            “Idih sok banget kamu, Bul.”
            “Tuan Muda, diem.” sahut Bulan lagi.
            Perumahan sederhana yang saling berdekatan membuat antar tetangga bisa berinteraksi sangat dekat meskipun mereka berada di rumah masing-masing. Layaknya Bulan dan Putra, mereka bertetanggaan dari setahun yang lalu. Ketika orang tua Bulan pindah di komplek perumahan ini, mereka menjadi semakin akrab. Apalagi jarak rumah mereka yang bisa dibilang hanya sejengkal. Seperti itulah rutinitas pagi mereka saling sapa, ejek dan menyindir.
--


            Kacamata minus bertengger manis di hidung mancung Bulan. Wajahnya sangat serius mengerjakan sekelumit soal statistika yang bisa membuatnya gila. Cowok berperawakan tinggi dengan kulit putih dan hidung tak kalah mancung dari Bulan memperhatikannya dengan tenang.
            “Tuan Muda, aku tahu aku itu sangat cantik tapi gak segitunya juga kali lihatnya.” celetuk Bulan begitu dirinya sadar sedang diperhatikan oleh Putra.
            “Bibit kepedeanmu itu gak perlu dipupuk, Bul. Jadinya ya kayak gini terlalu subur.” Putra terkekeh sendiri dengan ejekannya ke Bulan.
            “Sialan.” Bulan melempar gulungan kertas tepat mengenai wajah Putra.
            Putra adalah anak satu-satunya dikeluarganya. Cowok penikmat kopi dan pengagum bulan. Bukan gadis bernama Bulan tapi bulan dalam arti sesungguhnya. Menurutnya menikmati kopi di dalam hari bersama dengan mengagumi indahnya benda yang menjadi satelit bumi satu-satunya itu adalah moment berharga.
            Bulan, gadis pecinta novel dan penyuka kopi meski tak sefanatik Putra. Dia bukan pengagum bulan meskipun namanya adalah Bulan, tapi dia adalah pengagum Putra. Ya, ia sangat mengagumi tetangga tampannya itu. Entah sejak kapan rasa itu muncul dan hadir seiring kebersamaan mereka.
            Karena perasaan seseorang bukanlah hal yang mudah ditebak maka Bulan adalah orang yang paling lihai dalam menyembunyikan perasaan itu. Serapat mungkin jangan sampaorang yang bersangkutan mengetahui sampai saat yang tepat itu tiba.
            “Bul, Bul...” panggil Putra ketika Bulan masih serius dengan soal-soalnya.
            “Apaan sih, hobi itu jangan gangguin orang dong.” sungut Bulan merasa jengkel karena Putra tak beranjak dari duduknya dan semakin gencar mengganggu Bulan. Dan jujur Bulan sebenarnya tidak menyukai panggilan Bul Bul yang ditujukan untukknya. Tapi jika Putra tetap memanggilnya dengan sebuatan itu maka Bulan bisa apa untuk mencegahnya?
            Putra kembali tertawa melihat wajah merah padam Bulan, ia tahu jika sudah seperti itu Bulan benar-benar marah padanya. “Iya-iya, Bul. Aku pergi ke kelas dulu. Bye.” Putra pamit ke Bulan sambil mengacak-acak rambut Bulan gemas. Jangan ditanya jika saat ini Bulan semakin menekuk mukanya.

--

            Pandangan mata Bulan tidak bisa beralih menatap Putra yang cekatan meracik berbagai macam jenis minuman kopi di sebuah kafe. Putra bukan karyawan, melainkan dia adalah pemilik kafe ini. Nilai plus yang menjadikan Bulan semakin kagum dengan sosok Putra.
            “Java Chips Frappuccino special to my moon.” Putra menyuguhkan minuman andalan kafe itu. Senyuman bahagia terpancar di bibir tipis Bulan. Dia merasa selalu spesial jika bersama dengan Putra. Bagaimana bisa perasaan itu tidak muncul jika perlakuan Putra ke Bulan selalu istimewa?
            “Ehem... cieh si boss romantis banget. Mau dong punya pacar kayak boss.” celetuk Ayu salah satu karyawan Putra begitu melihat adegan Putra dan Bulan.
            “Kalau gitu mau dong jadi pacarku, Yu?” Putra mengerling nakal di depan Ayu. Otomatis Ayu jadi salah tingkah sendiri. Siapa yang tidak meleleh jika dirayu oleh Putra? Tidak ada yang menyangkal hal ini. “Aku jomblo kok, Yu. Hahahaha.” tawa itu semakin pecah ketika wajah Ayu menjadi semerah tomat.
            “Lhoh bukannya mbak Bulan itu...” kalimat Ayu terhenti ketika melihat gelengan kepala Putra. Ada sesuatu yang sakit jauh di lubuk hati Bulan. Ingin rasanya menyangkal jika ia menyukai Putra tapi itu tidak bisa, masih terasa perih jika perasaannya seolah ditolak secara tidak langsung.
            Kapan Bulan mampu berkata jelas dihadapan Putra jika ia sangat menginginkan Putra dalam hatinya. Layaknya meneguk Java Chips Frappuccino meski sudah dimodifikasi hingga rasanya manis dan menggiurkan tetap saja dia adalah kopi yang masih menyisakan unsur pahit pada rasanya. Meski kisah ini terlihat manis namun ada getir pahit yang begitu menyiksa batin Bulan.
            “Ada satu lagi yang spesial, Bul. Karena aku telah berjanji jika apapun yang terjadi padaku, orang pertama yang aku kasih tau adalah kamu.”
            Kata-kata Putra menjadi pertanyaan tersendiri untuk Bulan, perasaannya mengatakan bahwa ini hal yang benar-benar spesial. Mungkin saja ini adalah waktu untuk Bulan mengatakan perasaannya. Apakah mungkin jika Putra menyatakan perasaannya juga pada Bulan?
            Putra mengeluarkan kotak beludru berwarna biru gelap. Dada Bulan berdesir ada getaran aneh yang merambat disekujur tubuhnya. Apakah mungkin perasaannya berbalas? Karena bibir Putra masih terkatup dan belum berkata apapun, Bulan menjadi harap-harap cemas. Menanti sebuah kata indah yang akan meluncur dari mulut Putra.
            “Bul, akhirnya aku berani melamar seorang gadis. Awalnya aku ragu, tapi... kali ini aku yakin.” Ada jeda sejenak dari perkataan Putra membuat degupan jantung Bulan semakin cepat. “Dan aku mau kamu menjadi saksi keberanianku sebagai cowok saat melamar gadis itu, Bul.”
            Bagi Bulan saat ini seakan suasana mendadak sepi, bumi berhenti berputar saat ini juga. Saat menatap mata Putra ternyata harapannya itu kosong tak ada kata cinta di sana.
            “Sssstt.. nah itu orangnya datang, Bul. Do’ain aku, semoga sukses.” Genggaman sekilas tangan Putra membawa luka bagi Bulan. Sakit yang teramat sakit baginya. Benar apa kata Putra jika tingkat kepedeannya itu terlalu banyak dipupuk hingga bisa sesubur saat ini. Setetes air mata meluncur dari sudut matanya.
            Tak sanggup lagi Bulan menjadi saksi mereka berdua, kakinya perlahan mundur. Diam tanpa suara ia menyelinap keluar kafe. Ia bukan bulan di hidup Putra, ia adalah kopi yang hanya sebagai pelengkap rasa kosong dan pelepas penat bagi Putra. Ekspektasi yang selalu berbeda dengan kenyataan, meski perih tapi inilah keadaan yang sesungguhnya.


-Tamat-

Komentar

  1. Duhhh... Bul, bul.... Sini peluk :*

    BalasHapus
  2. Sabar ya Bulan. Percayalah kau akan mendapatkan yg lebih baik dari Putra.

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!