Bersama Lawang Sewu


Karya: Eni Ristiani



            DARMA.
            D-a-r-m-a!
            Sudah berapa kali aku merapal dan mengeja nama itu? Kurasa, tak terhitung. Ratusan, atau bahkan ribuan kali aku mengejanya? Namun hingga saat ini, aku belum mengerti… sihir apa yang digunakan orang itu sehingga membuat otakku yang lelah ini masih sempat memikirkannya?
            “Ke Lawang Sewu yuk, Nay!”
            Bahkan beberapa kalimat yang malam ini menggangguku muncul. Seolah ada ribuan stereo radio di gendang telingaku. Atau boleh jadi, suaranya sudah telanjur terpatri di otakku?
            “Acaranya masih berlangsung lho, Ma.”
            Senyum sederhananya kadang menjadi amunisi yang membuatku tak berani menolak apapun ajakannya. Seperti saat ini.


            Di bawah guyuran air hujan langit hitam kota Semarang, aku memeluk pinggang Darma saat ia membawaku ke Lawang Sewu dengan vespa birunya. Perasaan hangat, merasa memiliki dan entah perasaan-perasaan lain menyambangi tubuhku. Rasanya, aku ingin mengeratkan pelukanku; mencoba mencari sebab kenapa ia menjadi candu hebat untukku.
            “Ini Lawang Sewu saat malam hari berselimut hujan, Nay. Tutup. Nggak bisa dinikmati keindahannya sama sekali.”
            Tawa kecutku menderu. Aku tahu Darma tidak terlalu bodoh menerjemahkan cuaca, apalagi waktu dan suasana. Di atas jam sepuluh malam tentu saja Lawang Sewu tutup. Dan aku tahu, Darma juga terlalu pintar untuk menerjemahkan semua ini. Hingga aku yang otaknya bekapasitas rendah malah kelimpungan mencoba menganalisis.
            Darma berdiri di dekatku, tepatnya di samping kananku. Dengan tinggi badan yang cukup, aku mencoba melihat wajahnya untuk kuanalisis. Tadi, ia tak mau kuajak berteduh di salah satu pos tak terpakai yang ada di depan gedung Lawang Sewu, atau beberapa tempat beratap yang ada di sekitar Lawang Sewu. Namun ia lebih memilih berdiri di dekat lampu taman Tugu Muda; bertepatan dengan pintu utama Lawang Sewu. Hujan, kebasahan dan… sedikit romantis.
            Kucoba tesenyum, mengeraskan usaha untuk menganalisis.
            Kali ini hujan menderas.
            Darma juga telah meninggalkan kewarasannya untuk sedikit egois saat meninggalkan acara yang sama-sama kami hadiri. Di mana ia seharusnya sedang berdiri di panggung menjadi MC, memandu acara bersama salah satu MC lainnya. Namun saat melihatku duduk sendiri di pojok ruangan salah satu gedung kampus yang terletak tepat di belakang panggung, Darma mengucapkan ajakan yang bermakna perintah; tak terbantahkan.
            “Dia jadian, Nay.”
            Dia? Siapa?
            Aku kembali menajamkan analisisku. Semakin lama, aku semakin kelimpungan. Sebenanya, Darma yang sulit dicerna atau aku yang terlalu bodoh mencerna?
            “Zera… dia baru aja ditembak Reno di panggung, di depan mataku,” katanya.
            Ah, sekarang aku paham. Darma patah hati. Bagaimana mungkin aku tidak tahu?
            Oh iya! Sepanjang acara tadi aku sudah bersembunyi. Luka menganga melihat Darma bercengkrama dengan Zera di depan panggung membuatku tiba-tiba imigren.  Meski seharusnya aku tidak boleh begitu. Bagaimanapun, mereka hanya mengemban amanah.
            “Sayang banget, aku kalah cepat.”
            Sudah, aku sudah mengerti.
            Aku mengerti bahwa ini bukan hanya malam puncak kesakitanku sendirian. Aku saat ini sakit bersama seseorang yang menjadi penyebab sakitku. Bonusnya, kini ia sakit akibat orang lain. Setidaknya, di sini kami tidak saling melukai.
            Wajah basahnya tidak ia pedulikan. Ia melipat kedua tangannya di dada, bergeser hingga tubuhnya berhadapan denganku.
            “Bisakah kamu memberiku obat penyembuh patah hati, Nay?”
            Aku tersenyum, rasanya lucu. Bukankah seharusnya aku yang bilang begitu?
            “Kalau apotek menyediakannya untuk kubeli. Aku nggak akan ragu buat lari-larian di tengah hujan begini buat membelikannya untukmu, Ma,” kataku. “Sayangnya, obat itu enggak ada. Bahkan… sekeras apapun kamu mencari.” Satu tarikan napas terlepas. Aku bernapas, tapi rasanya agak sesak.
            Darma beralih tatap ke objek lain; gedung Lawang Sewu yang diguyur hujan.
            “Kalau gitu, temani aku sampai pagi, Nay. Melihat gedung ini—berdiam diri sampai lukaku luruh dengan hujan. Memandang Lawang Sewu seperti ini selalu menjadi intermezo tersendiri buatku. Barangkali inilah satu-satunya obat yang aku butuhkan.”
            Tes… tes… tes….
            Air hujan berjatuhan. Aku mencoba berpikir, namun satu titik temu tak kutemukan juga. Sebenarnya apa yang kucari?
            Satu tarikan napas. Lagi. kali ini aku mencengkram lengan kemeja Darma. Kuat. Hingga dengan terkejut ia menoleh ke arahku dengan satu alis yang terangkat.
            “Kalau sekarang aku bilang aku punya penawarnya, kamu mau percaya?”
            Darma menyipitkan mata.
            “Ya, aku bukan punya obat, tapi penawar. Mungkin kamu berasumsi bahwa dua kata itu memiliki makna yang nyaris sama. Bagiku itu beda." Aku menghela napas.
            "Mencintai lagi, membuka hati. Lalu lupakan masa lalu. Itu... penawarnya, Ma," kataku. "Itu sulit, tapi di dunia yang serba abu-abu ini, seharusnya itu bukan suatu ketidakmungkinan."      Aku mencoba menenangkan diriku. Meraba suasana yang mulai canggung ini. Beberapa detik berlalu sunyi. Hanya tetesan air hujan yang membasahi tubuh kami yang bersuara.
            "Satu lagi... aku mencintaimu. Bagaimanapun terlambatnya aku."
            Sunyi kembali, barangkali Darma kini sedang berbalik menganalisisku. Lalu, ia tersenyum. Tangannya dengan tiba-tiba mengacak rambut basahku, aku tidak memahami apa yang coba ia sampaikan. Sejujurnya aku berharap ia merespon pernyataanku dengan lebih baik. Namun semuanya abu-abu. Kami hanya dua manusia yang sedang saling menanyakan apakah obat patah hati itu ada?

            

Komentar

share!