Terik Januari

Karya: Ni Komang Ria

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Januari. Januari tahun ini mengirim mendung yang tidak berhenti selama beberapa hari, tapi terkadang menyimpan terik yang meneteskan peluh penyebab dehidrasi. Januari, menyimpan banyak harapan musim semi. Tetapi januari tetaplah januari, hanya latar waktu penuh emosi bukan pemeran utama dalam cerita sehari-hari. Maka itu aku disini, duduk di deretan kursi samping jendela di sebuah kafe kopi, menikmati secangkir kopi latte. Sama seperti Januari, maka kopi dalam latte hanyalah latar, ringan didominasi susu. Maka dari itu aku disini, mengundang dan menunggu kamu.

"Tring tring" suara lonceng kafe kopi ini menyadarkan aku dari lamunan. Ah kamu sudah datang. Kesini, aku isyaratkan dengan lambaian tangan. Dengan senyum kamu melangkah perlahan. Aku menunjuk bangku di depanku dengan dagu, mengisyaratkan kamu untuk duduk di hadapanku.

"Pesan apa?" Kamu menunjuk capuucino dalam menu. Pelayan meghampiri kita setelah melihat isyarat memanggil dari lambaian tanganku.



"Tambahan satu cappucino ya mbak"

"Ada lagi?"

Aku menatap kamu, dan gelengan kepalamu menjawab pertanyaan pelayan itu, hingga ia tersenyum dan berlalu.

♪(intro lagu dari pengeras musik terdengar)♪

"Aku mengundangmu kesini untuk bercerita tentang aku dan cintaku" Kamu tersenyum dan mengangguk.

♪Sayang hanyalah kamu whoo♪ Hanyalah kamu whoo♪ Kamu milikku♪ Sayang kamu whoo♪ Sayang kamu, kamu cintaku♪ Seorang pria yang tidak tahu bagaimana caranya mencintai, adalah aku♪ Perasaan yang begitu mudah, adalah aku♪ Aku jatuh, jatuh cinta padamu♪

"Waktu itu, aku duduk berdua dengan sahabatku, di sebuah kafe kopi yang lain, menyesap espresso tanpa tambahan gula, karena kami masih percaya bahwa manis tak pantas menyentuh lidah kami. Tapi mungkin itulah detik terakhir kami percaya itu. Karena seorang gadis mendekati kami, tersenyum meminta izin duduk di sampingku, berseberangan dengan sahabatku, saat itu kursi yang lain penuh. "Dia..."

"Permisi, silahkan" pelayan memotong kalimatku seraya meletakan capppucino di hadapanmu.

Senyuman seadanya mengantar perginya pelayan itu.

"Baiklah aku lanjutkan yaa... dia, gadis itu membuatku percaya bahwa manis menyapa mampu lidahku. Ini bukan manis mewah atau manis gula tambahan. Dia manis polos, alami seperti manis alami buah, ahh lebih polos dari itu, ia seperti manis kopi, iya manis kopi espresso, manis dari sesuatu yang terbiasa pahit"

Aku tersenyum, sejenak menatap mendung di langit januari.

"Aku jatuh cinta padanya, jatuh cinta pada gadis itu,  gadis dengan rasa manis espresso alami, iya hanya dia, hanya dengannya aku jatuh cinta"

"Dari pertemuan sederhana itu kami saling membagi nama, nomor HP, akun media sosial, pin bbm, sampai membagi hari-hari kami dengan semua kontak itu. Semakin dekat dengannya sampai rasanya tak butuh lagi kata cinta, karena semua sayangku hanyalah dia pemiliknya, sampai kemudian...."

Aku menjeda kalimatku untuk memberi kamu waktu untuk menyesap cappucinomu. Setelah meletakan cangkirmu, kamu mengedipkan mata mengisyaratkan aku melanjutkan kembali. Dan lirik lain dari penyanyi wanitanya terdengar..

♪seorang gadis yang takut jatuh cinta, adalah aku♪ Terbiasa menyerahkan segalanya, adalah aku♪

"Koridor kampus,  iya koridor kampus saat itu begitu lengang, aku melangkah bersisian dengan sahabatku, kami seketika berhenti, gadis itu menghadang langkah kami. Gadis itu menatap sebentar dengan rona samar merah jambu di kedua pipinya, langsung membalikan badannya dan berkata aku cinta kamu, lalu ia berlari kikuk menjauhiku, khahahahahaha..wajahnya saat itu, kamu harus lihat wajahnya saat itu, hahaha.akhaka..ekh..akh"

Aku menepuk-nepuk dadaku dan meminum sedikit latte  untuk meredakan batukku.

"Maaf aku terlalu geli membayangkam ekspresinya saat itu" kamu tersenyum memaklumi.

♪Idiot sepertiku♪ Cinta kamu whoo♪ Cinta kamu, kamu membuatku berubah♪

"Saat itu aku kaget dan hanya bisa bertatapan dengan sahabat di sebelahku, lalu tawa geli kami terdengar di lorong kampus. Gadis pemberani itu telah berubah malu-malu dan aku pria yang menjadi tahu arti senyum dan tertawa" Aku menunduk malu, iya jatuh cinta terkadang menghilangkan intelektualitas, bodoh.

"Iya, sejak saat itu manis alami dalam espressoku, gadis pemberani dengan cinta malu-malu pemilik rona merah jambu, iya gadis itu, sejak saat itu menjadi kekasih..ku"

♪aku mencintaimu, mencintaimu,mencintaimu♪ Kata-kata yang ingin ku beri tahu padamu♪ Meskipun mencoba menyembunyikannya♪ Titik terakhirku adalah kamu♪

"Heeem...sejak itu, aku tak pernah lagi mendengar kata cinta dari dia. Tapi aku tahu dari matanya, dari rona merah jambu pipinya, dari kikuk gerakannya, bahwa ia sedang mencinta. Seperti ia yang melihat dan memilih kursi di sampingku dan berhadapan dengan sahabatku di kafe saat pertama kali, maka seperti itulah titik dalam hidupnya berakhir, aku yakin itu"

♪Alasan yang membuatku berhenti bernapas whoo♪ Alasan mengapa aku masih hidup seperti takdir♪ Mencintaimu whoo♪ Mencintaimu, kamulah cintaku♪

Mendung di januari perlahan berganti terik, sesuai dengan lagu latar yang kupilih kah?

"Ekhem" kamu berdehem mengembalikan lamunanku.

"Ahh maaf, kamu paham kan orang yang jatuh cinta banyak melamum, hehe" aku memperlihatkan wajah tanpa dosa.

"Baikah aku lanjutkan yaa, heumm tapi apa lagi yang hendak aku ceritakan, begitu indah, klasik, tapi itulah cinta, percayalah padaku. Kamu akan merasa berhenti bernapas tanpanya, mengangap semua kebetulan ialah takdir, kamu akan berjam-jam memikirkan bagaimana caranya mencintai dia, yah hal-hal bodoh tapi luar biasa menyenangkan. Iya aku mencintainya, mencintai kekasih.. ku" aku tersenyum bodoh lagi atas cintaku.

Kamu menggerakkan jemarimu di permukaan cangkir, tatapanku jatuh pada jemarimu yang kebingungan, dan beralih menatap matamu, ada tanya dalam matamu. Tanya 'mengapa ada jeda untuk menyebut kekasih..ku'.

"Kamu menyadarinya?" Aku masih tersenyum akibat euforia cintaku.

Aku meneguk latte-ku, mencoba membasahi kerongkongan yang seketika kering layakya terik januari saat ini. Aku memandang langit mencoba mencari mendung di antara terik januari.

"Aku sengaja meletakan dua titik sebagai jeda di sana, karena ada kata yang seharusnya ada disana...karena dia, gadis itu, hemm.............gadis itu...............gadis itu kekasih.." aku mengigit bibirku, gagal mencari mendung di terik januari.

"Gadis pemilik cintaku, ia kekasih sahabatku"

Melodi mengalun diantara keheningan setelah kalimatku.

Kamu mengenggam tanganku di atas meja, aku tersenyum menatapmu "Iya dia memang kekasih sahabatku, kalimat cinta itu, tatapan cintanya, rona merah jambu dipipinya, memang bukan untukku, tapi...tapi bukan berarti makna lagu ini berubah, aku tetap mencintainya, hanya dia, aku tetap hanya mencintai dia"

Kamu makin mengeratkan genggamanmu. Setetes air jatuh pada genggaman tangan kita. Aku tatap lekat matamu, matamu memang sendu mungkin mendung di januari berpindah dalam matamu, tapi air itu tak berasal dari sana. Maka aku raba pipiku,... Aku menemukannya, jejak air di pipiku, iya...air itu berasal dari mataku. Itu air mataku. Aku tetap tersenyum padamu, Genggamanmu semakin mengerat, "Ahhhh” helaan napas beratku, iya manis alami espressoku tetap manis, tapi bukan pada lidahku.

“Yaa..aku mencintai kamu, gadis manis alami espressoku, kamu, iya hanya kamu” Mataku terus mengeluarakan air mata. Ini bukan karena aku sedih, ini karena terik januari, iya karena begitu terik, terik januari wahai sayangku....

♪Sayang hanyalah kamu whoo♪ Hanyalah kamu whoo♪ Kamu milikku♪ Sayang kamu whoo♪ Sayang kamu, kamu cintaku♪

Cinta, tetap cinta sekalipun menyakitkan, maka bukankah hanya lagu ceria yang pantas mengiringinya?Cintaku tetap bahagia, maka itu lagu sendu tak boleh menyentuhnya.

Komentar

  1. Meski Januari sudah berlalu, namun mendung masih setia menggantung di langit Februari.


    Cerita sederhana namun sangat manis. Cocok dibaca kala gerimis. :)

    BalasHapus
  2. Terik januari bacaan ringan di tengah gerimis februari, cukup manis dan imajinatif ��

    BalasHapus
  3. Nice story, nice song. Like it :D

    BalasHapus
  4. Ringan, namun menyentuh. Duhh~ menyesap aroma cappucino dan memandang gerimis di luar jendela sambil ditemani selaksa kisah cinta itu memang kombinasi yang (hampir) sempurna.

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!