SEWINDU

Karya:Ariani




Aku berdiri didepan rumahku dan memandangi rumah yang tak jauh dari rumahku. Rumah bernuansa modern juga beberapa bunga dan tumbuhan indah mengitari halaman rumahnya. Oh ya, perkenalkan namaku Daffa Maulana Nugraha. Usiaku masih 22 tahun. Hanya berbeda 3 tahun dengan ‘Dia’. Aku anak tunggal dan kedua orangtuaku berada di Batam sedangkan aku di Jakarta.

Seperti biasa, setiap pagi aku selalu mendatangi rumah ‘Dia’. Ya dia. Siapa lagi kalau bukan Sheryl Anastasya. Gadis 19 tahun yang selalu membuat hariku lebih semangat. Aku berjalan menuju rumahnya yang hanya berjarak 5 meter dari rumahku. Dekat bukan? Itulah yang membuatku lebih mudah memandanginya.

Kini aku sudah berada didepan rumahnya, jantungku bagaikan orang yang habis marathon. Berdetak melebihi batas. Mungkin kalau ada polisi lalu lintas jantung, jantungku sudah terkena tilang karna berdetak sangat cepat. Akupun mengatur nafasku agar tidak terlihat gugup dihadapannya juga menyiapkan senyum terbaikku.


TOKK.
TOKK.
TOKK.

Aku mengetuk pintu rumahnya dan tak lama kemudian keluarlah gadis yang sedari tadi melintas diotak dan juga hatiku. Dia tersenyum manis dan mampu membuat siapapun meleleh karna senyuman mautnya itu.

“ Hai Daff.”

“ Hai Ryl.”

“Berangkat sekarang?”

“Tentu.” Diapun berjalan mendahuluiku dan berhenti didepan motorku. Aku akan mengantarnya kuliah. Ya inilah yang aku senangi, mengantarnya setiap hari untuk ke kampusnya yang cukup jauh. Setidaknya aku masih bisa berlama lama dengannya.

“Daff?” Ucapnya yang membuyarkan lamunanku.

“Ehh iya ayo.” Kamipun menaiki motorku dan kami mulai berjalan menuju kampusnya.

“Daff, makan dulu ya. Laper nih.”

“Siap Princess” Ucapku dan disambut tawa riang olehnya. Senang rasanya bisa membuat orang yang kita sayangi itu tertawa lepas. Akupun mengemudikan motorku menuju salah satu restoran ternama di Jakarta ini.

Setelah sampai didepan restoran entah sengaja atau tidak Sheryl tiba tiba menggandeng tanganku dan membawaku masuk kedalam restoran ini. Kamipun duduk di tempat duduk yang berada didekat jendela, sehingga menyuguhkan pemandangan Jakarta pada pagi hari.

“Selamat pagi. Silahkan mau pesan apa?” Tanya pelayan yang ada disampingku.

“Kamu mau makan apa?”Tanyaku.

“Bubur aja deh Daff. Minumnya teh manis aja deh.”

“ Yaudah mba, buburnya 2 sama teh manisnya 2.”

“Silahkan ditunggu.” Pelayan tersebut pun meninggalkan kami.

 “Ehh Daffa, ada yang mau aku omongin”

“Apa”

“Sebenernya aku itu…”

“Permisi, ini pesanannya” Pelayan itu pun menyuguhkan makanan kami dan permisi pergi meninggalkan kami.

“Kamu mau ngomong apa tadi?”

“Aku lupa. Tadi kepotong sih omongan aku. Jadi buyar deh.”

“Yaudah nanti kalu udah inget kasih tau aku ya” Sheryl pun mengangguk dan kami mulai memakan makanan kami.

Sekitar 15 menit sudah kami habiskan untuk sarapan dan kami pun bersiap untuk pergi ke kampus Sheryl. Disepanjang perjalanan kami tak berhenti bercanda juga tertawa bersama sampai membuat Sheryl mengeluarkan airmata.

“Udah ah Daff. Perut aku sakit ketawa mulu. Kamu jangan ngelawak mulu dong”

“Kamu kalo ketawa manis deh. Makin cinta.”

“Kenapa Daff? Aku ga denger.”

“Ehh engga kok. Ini kita udah sampe.” Ucapku mengalihkan pembicaraan. Bisa bisanya aku keceplosan kaya gini. Untung dia ga denger.

“Yaudah aku kuliah dulu ya. Dah” ucapnya sambil melambaikan tangannya kearahku. Akupun melakukan hal yang sama dengannya.

-----

Sudah pukul 19.00 aku menjemput Sheryl dirumahnya. Kami memang sudah janjian untuk makan malam. Ini memang sudah menjadi kebiasaan kami. Makan malam bersama, makan siang bersama,juga nonton bioskop bersama,dll.

Tapi malam ini berbeda karna aku akan menyatakan perasaanku padanya. Ya. Malam ini. Semoga dia memiliki perasaan yang sama denganku. Aku rasa setelah bersama sama selama kurang lebih 8 tahun, aku rasa kini saatnya.

“Sheryl” Panggilku saat sudah ada didepan rumahnya. Dia keluar rumah bersama? Siapa pria itu? Kenapa Sheryl sangat dekat dengannya?

“Daffa?”

“Sheryl? Jadikan malam ini?” Tanyaku ragu ragu.

“Maaf banget Daff, aku ga bisa. Soalnya pacar aku baru pulang dari Singapura. Dia baru aja sampe.”

“Pacar?”

“Iya. Eh ya aku belum cerita ya sama kamu? Maaf ya. Aku lupa. Sebenernya aku mau cerita tapi kepotong sama pelayang yang waktu itu kita sarapan Daff. Oh ya, kenalin ini Daffa, Daffa ini Delvin.”

Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya kearahku. Aku membalas senyumannya dan menjabat tangannya.

“Oh ya gapapa Ryl.” Ucapku “Kalo gitu aku pulang dulu ya.” Ucapku dan meninggalkan pekarangan rumahnya dan pulang kerumahku

-----

Pagi pun datang dan ternyata aku tertidur di sofa. Dan itu membuat seluruh badanku sakit. Akupun segera melakukan ritual mandi dan menyiapkan sarapan untuk diriku sendiri.

Sekitar 5 menit sudah aku melakukan ritual pagiku akupun keluar rumah dan menyiapkan motorku. Bukan. Bukan untuk mengantar Sheryl tapi untuk ke minimarket karna persiapan makananku minggu besok sudah habis.

Sudah tidak ada lagi Daffa yang akan menunggunya didepan pintu. Tak ada lagi Daffa yang mengeluarkan tutur manis merayunya. Yang ada Daffa yang mulai fokus dengan kehidupannya.
Saat aku ingin keluar dari pekarangan rumahku, aku melihat Sheryl bersama pacarnya.” Jujur memang sakit dihati, bila kini nyatanya engkau memilih dia. Takkan lagi ku sebodoh ini, larut didalam angan-angan tanpa tujuan.”  Dan saatnya aku lupain Sheryl. Tapi seengganya aku bisa menjadi sahabat dengannya dan membuang perasaan yang berlebihan ini.

Akupun mulai menjalankan motorku melewati dua pasangan yang sedang berjalan bersama. Saat aku menengok Sheryl tersenyum kearahku. Akupun membalas senyuman itu dan aku kembali melajukan motorku menuju minimarket.

Sesampainya diminimarket, aku segera turun dari motor dan masuk kedalam minimarket ini. Saat aku masuk kedalam tanpa sengaja aku menabrak seseorang hingga terjatuh. “Aduh, sorry sorry.” Ucapku sambil membantu wanita itu berdiri.

“Loh, Daffa?”

“Dinda?”

“Iya ini gue Dinda”

“Udah lama ya kita ga ketemu.” Dinda. Dia adalah mantan kekasihku dulu. Tapi entah kenapa saat aku bertemu lagi dengannya, rasa sayangku muncul kembali. Entahlah aku masih bingung.

“Daff, ada yang mau aku omongin.”

“Apa?”

“Semenjak putus sama kamu hidup aku berasa hampa Daff, apa masih ada tempat buat aku di hati kamu Daff?” Mungkin Dinda lebih baik dari Sheryl dan mungkin juga aku jadi bisa melupakan perasaanku pada Sheryl jika bersama lagi dengan Dinda. Semoga.

“Daff?” Aku tersenyum dan mengangguk.“Jadi? Kita balikan Daff?”. “Iya Din.” Jawabku 

Komentar

share!