Rasa Sendiri

Karya: Seaa



“Kamu mau gak jadi pacarku? Kalo nggak, biar aku aja yang jadi pacar kamu”
Suara berat disertai tawa kecil di ujung sana begitu lantang dan hangat terdengar sehingga mampu membuatku memerah hingga tak tahu harus menjawab apa. 
Perkenalan singkat yang lebih aktif kami lakukan via chat dan video call ini, telah berhasil membuat setidaknya tiap jam dalam sehariku terasa begitu menggelikan. Aku tidak menyangka rasa nyaman dapat hadir begitu cepat hingga berhasil menggeser kenangan buruk percintaan yang berjanji tidak akan aku ukir lagi.


Hari ini kami berjanji untuk bertemu setelah pertanyaan frontal yang dilontarkannya tempo hari. Setelah menentukan waktu pertemuan yang cukup lama, aku pun kini sudah berada di dalam mobilnya.
“Hey, Alin” sapanya dengan senyuman berat kemudian menghisap sebatang rokok di kedua jari kanannya lalu menghembuskan asapnya keluar jendela. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam sambil sesekali tersenyum melihat satu sama lain, entah bingung menentukan tujuan tempat atau tidak tahu harus berbicara apa.
“Apaan sih lihat-lihat?” tanyaku mencoba mencairkan keanehan ini,
“dih, ge-er banget orang tuh lagi ngeliatin itu!” jawabnya,
“liat apaaa?” pertanyaan bodoh yang kuucapkan sambil mencari yang ia maksud,
“ngeliat itu tuh itu!” ucapnya kembali sambil tersenyum tipis dan mengarahkan jari telunjuknya tepat ke arah wajahku .
Oh god, he really know how to make a girl so blushing.
Kami baru berkenalan seumur jagung, tapi rasa nyaman itu sungguh telah hadir, aku tidak ingin kehilangan sosoknya, seseorang yang mampu membuatku tertawa tiap malam, mampu membuatku merasa sangat diperlukan, serta membuatku mengharapkan kembali arti sebuah komitmen.
Tiga hari setelah pertemuan itu aku menjadi semakin sering bertemu dengannya. Yah, setiap pertemuan itupun tidak pernah ia lewatkan dengan menagih jawaban dariku.
“Lin, jawab sekarang please, kalo enggak ya udah kita udahin aja semuanya. Kalo kayak gini terus kamu sama aja ngasi harapan palsu Lin, mau nunggu apa sih lama-lama? kalo emang udah ada jawabannya kan ya tinggal di jawab. Kamu mau jawab tidak, ya udah aku gak masalah biarin aja aku yang ngejar kamu terus, kamu lagi ngejaga hati siapa sih?” nada suara berat dan halus yang biasanya kudengar kini diikuti dengan nada yang kesal dan intonasi yang cukup tinggi.
20 di hari itu, kami pun mengikat komitmen ini. “Jaga perasaan satu sama lain”, hal yang selalu kami berdua posisikan sebagai poin utama dalam menjalin hubungan ini.
∞∞∞
Kini aku hanya mampu menatap kepergianmu melalui layar handphone atas balasan terakhir darimu.
“Kamu bangga diemin semua chatku kayak gini? Ahhhh aku udah capek sumpah, ga tau mau gimana lagi, sekarang semuanya terserah kamu..” pesan terakhir yang kukirimkan padanya dan mendapatkan balasan “Iyaa” telah kusimpulkan menjadi akhir hubungan ini. Tanpa adanya ucapan maaf darimu, tanpa adanya niatan darimu untuk memperbaiki hubungan ini, tanpa adanya usaha darimu setelahnya untuk menghubungiku kembali.
Sungguh sebuah kesalahan besar ketika hati ini berupaya untuk berbicara dengan pikiranku. Entah mengapa hati ini berkata hubungan ini belum berakhir, belum ada ucapan berpisah dari kedua belah pihak, hati ini yakin bahwa beberapa hari setelah ini ia akan menelponku kembali, mencariku lagi, datang kepadaku dengan penyesalan serta mengirimkan kata-kata manis seperti yang biasa ia lakukan. “Tolol” kata pikiranku dengan tegas membantah semua kata hati ini. Apa yang kuharapkan dari seseorang yang jelas-jelas hanya menyayangiku seperlunya sedangkan aku menyayanginya sepenuhnya.
Apa kamu masih ingat dengan janji kita untuk bepergian bersama di bulan Januari nanti? Apa kamu masih ingat bahwa kau berjanji akan menjadi orang disampingku ketika kita menghitung mundur pergantian tahun baru nanti? Tentu tidak. “Januari ya Lin” ucapmu di bulan itu, memberikanku janji, harapan, penantian serta jawaban bahwa ternyata aku tak bermakna besar untukmu. Aku seseorang yang begitu polos, begitu naïf, atau kasarnya sangat bodoh dapat dengan mudah percaya atas semua ucapan manis dan kata sayang yang selalu kau ucapkan, dengan bahagianya diri ini menggambarkan kisah kita di Januari nanti untuk mewujudkan seluruh janji manismu itu yang nyatanya menghasilkan gambaran pahit. Padahal aku tau dengan pasti kau selalu sibuk dengan gadget di tangan membalas satu per satu pesan dari tiap orang yang mengagumi hasil sketsa indahmu, membalas satu per satu pesan perempuan diluar sana yang ternyata juga mendapatkan sapaan manismu yang kupikir special untukku. Sedangkan aku, menjadi orang terakhir yang terlupakan dari kegiatan yang kau sebut “sibuk” itu.
Perasaan seorang wanita tidak pernah salah. Itulah pelajaran yang kudapat darimu. Ketakutan sejak awal untuk menerima sosokmu sepenuhnya telah terbukti, perasaan akan banyaknya kejadian diluar sana yang kau tutupi dariku kini terjawab sudah. Ketika aku penuh dengan kekhawatiran menunggumu dalam kesendirian di tempat ramai itu untuk merayakan pergantian kalender, kau malah asyik menghabiskan malam itu untuk menikmati sang senja di tempat yang lebih indah sendirian. Ya, itu kabar yang kuterima darimu setelah aku dengan cemasnya mencari tahu dimana keberadaanmu, menghindari pertanyaan-pertanyaan mengapa kau tak bersamaku dengan mencoba melepaskan senyum ketenangan akan ketidaktahuanku tentangmu saat itu.
“Kamu buat aku galau Lin, kamu bayangin aku ngelewatin Januari pertama sendirian di pantai!” pesanmu singkat ketika mencoba membalikkan keadaan dan melimpahkan kesalahan lagi kepadaku. Kukuatkan diriku sekali lagi untuk tidak berkata maaf karena kemampuanmu yang begitu hebatnya mampu membalikkan semua rasa kesalku menjadi rasa bersalah atas kesalahan yang pada akhirnya aku sadar tak pernah kulakukan. Rasa cemburu yang selalu kau perlihatkan atas kedekatanku dengan laki-laki lainnya, membuatku selalu merasa sangat bersalah karena seakan tak menghargai perasaanmu ketika melihatnya. Namun, aku tak pernah sadar bahwa ketika aku tidak melihatmu kau sedang santainya berusaha untuk tidak menjaga perasaanku.
“Sekarang aku ngerti pepatah cinta itu buta, ya kayak kamu gini Lin” suatu sindiran halus yang kuterima ketika berada dalam situasi aku tak tau harus berbuat apa dan harus menceritakannya kepada orang lain. Aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri saat kau tidak membalas satupun pesanku namun ternyata kau membalas pesan seorang perempuan cantik yang tidak lain adalah orang yang kukenal dan saat itu sedang bersamaku, kemudian kau memberikan penjelasan dengan nada meminta maaf atas hubungan kita berdua dan mengirimkannya berkali-kali pesan karena ia berusaha untuk tidak membacanya dan aku hanya tersenyum tipis berusaha untuk tidak berprasangka buruk kepadamu. Itu adalah satu dari kesekian kepura-pura tidak tahuanku atas sikapmu selama ini. Bagaimana buruknya rasa malu yang harus kusimpan ketika perempuan-perempuan disana tau mengenai hubungan ini, namun kau masih tetap mengirimkan pesan mesra kepada mereka?! Bisakah kau memikirkan perasaanku sekali saja? Tolong.
Aku sungguh kehabisan akal memikirkan apa kesalahanku hingga Tuhan mengirimkanmu kepadaku hanya sebagai cobaan kesekian kalinya untuk merasakan kesakitan dari hati yang dipatahkan itu seperti apa. Mengapa engkau memaksaku menjatuhkan hati begitu dalam jika akhirnya kau masih ingin bermain-main dengan hati perempuan lainnya diluar sana? Kau berselingkuh sayang, dan aku tahu itu. Malam indah di bulan Januari itu menjadi puncak atas rasa lelah dan hasil yang kudapatkan dari kesabaran dan usahaku menjaga hubungan ini. Lelah menyuruhku untuk melepaskanmu, ia menyuruhku menyerah, ia menyuruhku menyudahi ilusi bahwa kau akan berubah, sebab lelah dan aku tahu bahwa diri ini berhak menggenggam yang lebih indah yang tidak memberi duri dan janji untuk mekar disaat yang sama.
Kini, gambaran indah di Januari itu menemaniku menikmati kesedihan ini dengan sesekali menerima terpaan angin yang seakan menertawaiku karena masih menyimpan semua kenanganmu dan berharap kembali kehadiranmu. Aku pun tidak siap jika harus ditertawakan oleh diri ini karena telah melanggar janji untuk tidak mengukir cinta yang nyatanya hanya kembali seperti menyiram air panas di atas luka yang masih membuka. Aku sadar aku lelah, tapi tolong setidaknya kau kembali memberikanku kejelasan, agar hati ini tidak terombang-ambing membuat kesimpulan atas akhir cerita ini sendirian.
Apa kau tidak berniat membaca kembali lembaran pertama bagaimana usahamu mengejarku dan membuatku berhasil jatuh di pelukanmu? Apa kau lupa bagaimana tatapan hangat yang tak hentinya kau tujukan padaku saat pertama kali berusaha mendekatiku? Atau, maukah kau kembali mengingat bagaimana pertama kali jantung itu berdetak begitu cepat ketika aku berada di dekatmu?
Oh maaf, aku lupa. Mungkin itu hanya suara detakan jantungku saja.

∞∞∞

Komentar

share!